Jangan Tarik Saya Dulu

Ada saatnya kita ingin membuka lembaran baru, dan terkadang itu mengharuskan kita melepaskan tumpukan sampah masa lalu. Saya mulai paham soal itu sejak sebulan yang lalu. Tepatnya sejak saya menginjakkan kaki di sini, Bontang, sebuah kota migas di Kalimantan.

Dengan cara-Nya yang ajaib, Tuhan mengirimkan saya ke Bontang, sebuah kota yang bahkan tidak pernah terdeteksi di radar saya. Sebuah tempat yang bahkan untuk menemukannya saja saya harus membuka peta. Mungkin memang saya tidak pernah belajar geografi, tapi bahkan seorang teman yang S2 sekalipun sampai kemarin masih berpikir bahwa Bontang itu ada di Sumatera, dekat Batam. Dia bersikeras: “Di sana kan ada tempat wisata Bontang Kuala, itu namanya terpengaruh dari Kuala Lumpur kan?”

Kuala Lumpur mbahmu!

Momen kepindahan saya ini tepat sekali dengan titik puncak kejenuhan yang saya rasakan di Bandung, terlalu banyak kenangan tidak enak menerpa di sana, beberapa bahkan menimbulkan trauma. Salah satu trauma terbesar adalah: saya merasa tidak jadi diri saya sendiri, saya merasa menjalani pekerjaan yang bukan saya inginkan, berteman dengan orang-orang yang bukan saya inginkan, menghadapi manusia-manusia yang saya sendiri sampai sekarang tidak paham kenapa harus kenal.

Hingga pada satu titik saya berpikir untuk pergi jauh, ke tempat baru, orang baru, lingkungan baru. Saya perlu pergi ke tempat dimana teman saya adalah nol besar, saya ingin memulai hidup baru lagi, memilih teman baru mulai dari angka satu lagi, mengosongkan phone book handphone dan mengisinya pelan-pelan dengan nomor-nomor yang memang saya perlukan, bahkan mengganti nomer handphone yang sudah saya miliki sepuluh tahun kebelakang. Saya berusaha tidak peduli pada orang-orang yang berkata tidak bisa menghubungi saya. Saya ingin bilang: biarkan saya bernafas sebentar, dan biarkan saja saya yang menghubungi kalian.

Kelelahan saya terlalu besar jika dibandingkan keinginan kalian menghubungi saya.

Disini saya berusaha kembali pada apa yang saya inginkan: menulis. Memang bukan hanya menulis novel, tapi menulis. Saya memegang sebuah jabatan yang mengharuskan saya banyak menulis, saya diam di kamar kontrakan dan menulis (kadang tulisan pribadi tanpa keinginan untuk melepaskannya ke publik), saya merenung di tepi pantai dan menulis, saya pergi ke hutan bakau dan menulis, saya mengeluarkan lagi kemampuan yang lama tak terpakai: membuat ruang sunyi dan privasi di sebuah keramaian.

Saya ingin membangun ulang semuanya dari menulis. Karena bagi saya menulis itu menyembuhkan, menulis itu membuat seseorang mengetahui apa yang dia inginkan dan sedang berdiri di posisi mana.

Saya ingin memulai dari sana, dan itu membuat saya harus menyingkirkan hal-hal yang pernah mengganggu.

Seperti yang saya bilang tadi, ada saatnya kita ingin membuka lembaran baru, dan terkadang itu membuat kita harus melepaskan tumpukan sampah masa lalu. []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Selamat Datang Cacar Air!
Hehe, sudah dua hari ini saya kena cacar air. Eh beneran, banyak teman yang heran kenapa saya baru ngerasin cacar di umur segini (ga akan bilang umur berapa!) tapi memang yang orang tahu penyakit caca...
Hewan Juga Homo
Saya bukan gay, saya juga nggak pro LGBT (karena buat saya, lawan jenis masih "tampak" lebih mengenyangkan #EH). Di dalam postingan ini saya cuma ingin meluruskan saja, ada satu hal "ke...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...
Jangan Percaya "Kata Para Ahli"
Beberapa hari yang lalu, saya mengalami sebuah “insiden” kecil di grup whatsapp yang saya ikuti. Penyebabnya sederhana, ada rekan yang men-share sebuah berita tentang pentingnya shalat tepat waktu. In...
Mari Mengobrol Seperti Domino
Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam? Ketika masih kuliah, saya pernah meng...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *