Dimas Kanjeng dan Kepo Maksimal

Entah bagaimana ceritanya, kemarin malam saya “kepeleset” menonton rekaman ILC di Youtube yang episode membahas Padepokan Dimas Kanjeng. Kepelset artinya, saya tidak sengaja mengakses rekaman itu, soalnya saya kalau buka-buka Youtube pasti buat cari video 18+ sepakbola atau video lucu (akhir-akhir ini malah lebih sering nonton video Ahok marah-marah, soalnya saya pikir itu lucu).

Saya tidak tahu urusan Dimas Kanjeng ini sudah dibahas berapa kali di ILC,tapi pokoknya saya nonton yang pas bagian dua orang ibu yang para suaminya—pengikut Kanjeng Dimas—itu hilang (diculik? dibunuh?). Nah, disini saya juga agak kaget karena nggak nyangka kalau urusan ini sampai ke bunuh-bunuhan-culik-culikan begitu. Ini sih sudah kelas serius namanya.

Pada awalnya saya kira ini “cuma” urusan aliran kebatinan yang dituding sesat, atau aliran sempalan yang rajin ngutip-ngutip ayat AL-Quran, atau kelompok orang pemburu harta karun kuno (kalau yang begini mending kuliah jurusan Antropologi, pasti dapet banyak benda kuno kan?) atau sekelompok manusia yang ingin kaya dengan mudah (lebih aman jadi anggota DPR toh? Setidaknya lebih terkonstitusi, halah apaan sih!), atau saya pikir ini jenisnya orang-nggak-penting-yang-mendadak-tenar dimana dia kebetulan punya banyak fans, macam Ria Edan Eden, Ponari, atau Dijah Yellow. Tapi kalau sudah main culik-bunuh begitu sih sudah kriminal namanya.

Hal yang menarik untuk saya bukanlah urusan Kanjeng Dimas ini bisa ngeluarin uang dari badannya (itu sih mesin ATM juga bisa), tapi cerita dua orang ibu yang diundang ke ILC. Keduanya punya masalah yang sama, suaminya hilang dan dibunuh, entahlah mayatnya sudah ketemu atau tidak, atau gimana lah, saya juga masih kurang detail cari infonya karena baru sekali ini menyimak urusan si pak Kanjeng). Kesamaan lain dari ibu-ibu ini adalah—saya pikir—soal ekonomi, secara duit mereka adalah orang-orang menengah ke atas, bahkan salah satunya bilang suaminya sudah ngabisin 40 M untuk urusan ngejar harta karun kuno dari Dimas Kanjeng. Saya bengong. 40 M? maksudnya empat-puluh-miliar?! Duit?! Gila aja, saya nyari duit bayar kosan 750 ribu sebulan megap-megap! Ini 40 M cuma dipake narik keris dari dalam tanah! Otak yu tak center kah?

Tapi yang paling mengganggu saya bukan urusan duit (kalau itu rejeki dari Tuhan, udah diatur masing-masing) tapi fakta bahwa ketika pak Karni ilyas bertanya tentang aktifitas suami dua ibu itu, secara umum keduanya menjawab dengan inti kalimat yang sama: saya tidak tahu, suami saya tidak pernah cerita. Begitu, redaksi kalimatnya saja yang beda-beda. (Bisa dicek pada link YouTube ini (sepertinya videonya juga kebalik-balik nih), menit ke: 3:39, 17:53, 18:12. 18:40, 19:30, 20:21, 22:00)

aaa

aaa

Buat saya inilah titik masalahnya. Ada pasangan yang tidak terbuka satu sama lain, sehingga ketika terjadi kasus seperti ini yang ada hanya rahasia-rahasia tak terungkap. Eh, saya tidak bilang kalau mereka saling terbuka maka si suami tidak akan meninggal, toh maut juga di tangan Tuhan… saya cuma ingin bilang bahwa ketika keterbukaan antara ibu-ibu itu dan para suaminya terjadi, saya yakin urusan Dimas Kanjeng ini akan lebih bisa dinetralisir. Setidaknya, kedua pasangan bisa saling mengingatkan kalau situasi sudah mulai berbahaya, dan bisa mendeteksi lebih awal.

Karena saya yakin lah kalau (dalam situasi rumah tangga yang bener) saat istri lihat suaminya sudah agak “melenceng”, dia pasti akan segera meluruskan. Kalau suaminya minta uang 125 juta cuma untuk narik gelang jaman Majapahit dan belum jelas juga kapan duit itu balik, setidaknya si istri bisa “ngerem” lah, mungkin dengan bilang “Jangan pak, kalau memang mau ngabisin 125 juta cuma bikin kesel ibu, mending duit segitu dipake kawin lagi aja…” #EH

Okey, itu cuma becanda, but you know what I mean… karena saya percaya dalam sebuah pernikahan, seseorang berhak menerima keterbukaan tentang apa yang dilakukan oleh pasangannya. Baik itu dalam urusan aktifitas, belanja-belanja, jadwal, agenda harian, apalagi soal keuangan. Saya katakan berhak itu bukan berarti levelnya ada di bawah kata”kewajiban”, jadi jangan pikir “ah kan cuma ‘hak’, jadi boleh dong kalau hak nya nggak dipenuhi, kan bukan ‘kewajiban’ pulak…”

Pendapat saya ini berdasar pada fakta bahwa saya melihat banyak teman saya yang bercerai dengan pasangannya (bahkan salah satu yang sedang dalam ‘zona perceraian’ sekarang adalah keluarga dekat saya sendiri) dimana titik pangkalnya adalah TIDAK ADANYA KOMUNIKASI. That’s mean: mereka tidak saling terbuka pada apa yang mereka alami, dapatkan, dan lakukan.

Jadi lagu “Yolanda”-nya Kangen Band yang menanyakan: kamu dimana, sama siapa, semalam berbuat apa? Buat saya itu bukan becandaan. Itu lirik lagu yang sangat menganjurkan ke-kepo-an, tapi kalau buat suami-istri hal ini wajar untuk dilakukan. Sekali lagi saya menekankan ini pada yang sudah menikah ya, kalau yang masih pacaran sih takutnya malah salah paham ketika ditanya-tanya begitu. “Apa sih kamu! Jadi orang jangan kemal deh… kepo maksimal! Kamu nggak percaya sama aku? Turunin aku disini! kita putus!” Nah, repot kan?

Tapi kalau yang sudah menikah malah aneh kalau nggak saling kepo. Misalnya ada istri yang marah gara-gara dikepoin suami, maka suaminya tinggal jawab “Aku tuh udah ngucapin janji di depan bapakmu bahwa aku siap tanggung jawab sama kehidupan kamu, terus masa aku nggak boleh tahu aktifitas sehari-harimu?”, atau kalau sebaliknya suami marah dikepoin ya istri tinggal bilang: “Aku tuh udah janji bakal ngerawat kamu seumur hidup, ya wajar dong kalau aku harus tahu kesukaanmu apa aja.”

Buat saya—sekali lagi, setidaknya buat saya—ini hal penting, karena faktanya saya kenal beberapa teman yang sudah nikah bertahun-tahun tapi ngaku masih merasa belum kenal sama pasangannya, kalau gitu mulailah “kenalan” dengan bersikap saling kepo. Cari tahulah mulai dari hal terbesar seperti” Berapa kali sehari kamu merindukan aku #UhukUhuk sampai hal terkecil seperti: jumlah tahi lalat di seluruh badan kamu ada berapa? #Cieee #JanganLupaPantatnyaGanjalPakeBantal

Saya sama sekali tidak menyalahkan dua ibu di acara ILC itu, nasi sudah jadi bubur, suami meninggal, uang raib, waktu terbuang percuma, dll. Saya hanya menyayangkan terhambatnya pola komunikasi antar mereka, karena sekali saya yakin jika saja dari awal mereka sudah saling terbuka soal urusan Dimas Kanjeng ini, maka masalah ini “pasti” bisa dinetralisir dari awal.

Kuncinya tetap sama: KETERBUKAAN. Karena pada titik tertentu kita harus tahu pasangan kita pergi kemana? Sama siapa? Berapa hari? Ngapain disana? Perlu duit apa nggak? Apa ibumu nggak suka sama aku? Ada masalah apa? Kamu terima duit berapa? Lagi ada kebutuhan apa? Apa sekretarismu lebih cantik dari aku? Lalu yang pasti kamu sukanya posisi apa? #EH #Lupakan

Pokoknya, begitulah kira-kira maksudnya.[]

Aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Jangan Kasihan Ke Norman Kamaru
Sekarang lagi rame nih berita soal Norman Kamaru jualan bubur Manado. Awalnya saya baca itu di jabarsatu, lalu saya googling dan ternyata cukup banyak tuh portal media online yang mengangkat cerita se...
Gigi Raffi Kelihatan di TV
Selain teguran KPI terhadap acara kawinan Raffi Ahmad, kemarin katanya Menkominfo sudah “menyatakan prihatin” pada stasiun TV yang menayangkan kelahiran anak Raffi dan Nagita. KPI pun tampaknya sudah ...
Siapa Sih Pemerintah?
Ini cerita waktu saya masih sekitaran kelas 2 SD (serius, saya pernah muda!)… jadi dulu itu tiap kali mau ke sekolah, saya selalu nyegat angkot. Buat yang hidup sejaman dan sekelurahan sama saya, pas...
Indonesia Sedang Hamil
Setiap kali mengedit film--terutama tipe film non-fiksi--saya selalu merasa diri tambah pintar beberapa strip. Karena biasanya film-film jenis ini melibatkan pakar di bidang tertentu, yang secara prib...
Awas, Saya Anak Jenderal!
Siapapun yang membaca buku Sketsa-Sketsa Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul pasti kenal tokoh Mister Rigen (seorang pembantu rumah tangga asli Pracimantoro yang punya anak bernama Beni Prakosa), ser...
PR Besar di Depan 411 dan 212
Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.