Catatan Bontang #1: Langit Bontang, Juara!

 “Aku menyukai langit. Kamu bisa memandanginya sesukamu dan tidak pernah bosan, tapi ketika kamu merasa sedang tidak ingin memandanginya, ya kamu tidak usah memandangnya.”

Saya membaca kalimat itu dalam novel Hear the Wind Sing karya Haruki Murakami. Novel itu adalah satu-satunya buku yang ada di tas saya ketika menempuh perjalanan ke Bontang, tempat tinggal saya yang sekarang. Saya sengaja hanya membawa satu buku karena tidak mau terlalu dibebani banyak barang, dan baru dua minggu setelah saya di Bontang barang-barang saya dikirim dari Bandung, dan itu artinya saya tidak punya pilihan: selama menunggu barang datang, saya hanya bisa membaca novel Murakami yang itu-itu saja dan harus rela bertemu dengan kalimat tadi sebanyak belasan kali.

Tapi tak mengapa, saya suka novel itu, saya juga suka kalimat itu. Saya bisa merasakan saat tokoh Nezumi mengucapkan kalimat itu, dia mengeluarkan intonasi yang kering, sebuah perasaan yang tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Mungkin mirip dengan perasaan saya sekarang, dan sebenarnya kalimat itu juga yang membuat saya jadi tergerak untuk sering-sering memandang langit. Langit Kota Bontang.

Saat itulah saya seperti baru sadar bahwa sedang berdiri di bawah langit yang selalu indah. Ya, salah satu hal yang saya tandai di Bontang ini adalah—setidaknya dibanding Bandung—langitnya selalu tampak jernih. Sementara di langit Bandung saya selalu merasa ada suatu lapisan yang “keruh”. Oke, baiklaaaah… beberapa orang mungkin bilang bahwa saya yang tidak pernah mengeksplore keindahan langit Bandung, padahal langit Bandung juga jernih, mungkin saja begitu, mungkin mereka benar, saya juga sedang tidak ingin berdebat.

Tapi sebagai orang yang sudah 18 tahun hidup di Bandung, saya juga punya pendapat sendiri akan warna langit kota itu. Lepas dari kita semua—termasuk saya—jarang merasa harus peduli pada keberadaan langit, tapi tentu kita bisa menilainya, apakah langit sedang bagus atau tidak. Seperti itu…

…dan langit Bontang di saat cerah ternyata tidak pernah mengecewakan saya. Entah kenapa. Memandangnya seperti mengikuti pengalaman baru, pengalaman yang tidak pernah saya temui di Bandung. Dari jendela kamar kost, kadang dari pinggir jalan ketika pulang kerja, saya selalu bisa merasakan warna-warna yang berubah seiring waktu yang terus bergerak, dari biru, putih, kuning, oranye, emas, merah, hitam. Sering saya merasa lensa kamera pun tidak bisa mengabadikannya sebaik pandangan mata. Tapi siapa yang bisa membagi pandangan mata kepada orang-orang kecuali jika memori mata bisa dipindah dalam bentuk file gambar?

Hmm, mungkin saya hanya terlalu sentimentil… tapi kadang kesendirian bisa membuat siapapun jadi sentimentil.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Balada Nasi Goreng
Kerja sebagai editor bikin saya sering nginep di kantor, terutama pas deadline datang. Sekadar catatan: deadline sebenarnya lebih parah dari jelangkung. Karena Jelangkung nggak pernah ngerjain kita (...
Nasi Goreng "Papua"
Sambungan dari "Nasi Goreng Naga" Tukang nasi goreng kedua yang saya jauhin letaknya ada di sebelah timur base-camp, tepatnya di depan sebuah rumah sakit. Nah, kalau yang ini saya curiga, j...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Ini Indomaret di Surga!
Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misa...
Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan
Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Berbagai hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut dapat kita temui di kota ini. Mulai dari soal k...
Merajut Mimpi Lewat Singkong dan Pisang
Singkong dan pisang, sebuah bahan makanan yang cenderung dianggap tradisional dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga dalam artian tertentu kedua makanan ini seolah telah habis varian-variannya karena...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.