Novel Ini Tak Pernah Salah

Terjadi sebuah drama dalam pertandingan basket antara wakil perfektur Ishikawa melawan wakil perfektur Tokyo, awalnya pada quarter pertama wakil Ishikawa sudah unggul jauh 25-6, selisihnya 19 poin. Penonton pun sudah menduga bahwa Ishikawa akan menang mudah. Tapi pada quarter kedua, tepatnya saat sisa waktu tinggal lima menit sebelum turun minum, wakil Tokyo mengamuk. Mereka berhasil memperkecil angka hingga 43-34, selisihnya tinggal 9 angka. Kondisi ini perlahan membuat mental para pemain Ishikawa beranjak runtuh, sebaliknya lawan mereka beranjak menguat.

Melihat situasi ini, di luar dugaan pelatih perfektur Ishikawa, Suyoshi Moriyama malah diam saja dam membiarkannya. Dia tidak mengganti pemain, tidak menyusun ulang formasi, bahkan tidak meminta time out untuk sekadar memberi motivasi. Ketika seorang pemain cadangannya bertanya, dengan santai Moriyama menjawab: “Tidak masalah, manusia dapat berkembang dengan baik karena pengalamannya yang luas, dan ini ada pengalaman yang bagus untuk tim kita.”

Saya tersenyum sendiri membaca cerita ini. Saya mengerti jalan pikiran coach Moriyama. Kadang seseorang perlu dibiarkan tertekan untuk membuatnya menang, kadang seseorang perlu ada dalam posisi kalah agar membuatnya terpacu untuk maju. Disini saya tidak mengatakan bahwa saya suka ada dalam kondisi kalah. Di dunia ini tidak ada orang yang ingin kalah, semua ingin menang, termasuk saya. Tapi jujur saja dalam pengalaman saya menulis sejak tahun 2004, saya sudah berkali-kali ada dalam posisi kalah, bahkan begitu seringnya kalah sampai pada akhirnya saya merasa bahwa kalah-menang sudah tidak begitu banyak artinya. Ini bukan berarti saya tidak terpengaruh oleh sebuah kekalahan, tapi pada akhirnya saya tahu bahwa kalah-menang itu bukan kita yang menentukan.

Karena pengalaman yang panjang itulah maka pada akhirnya saya bisa menata diri untuk hanya fokus pada proses pengerjaan, setiap kali saya merasa sudah menyelesaikan sebuah tulisan lewat usaha keras dan terstruktur dengan baik, maka saya pun merasa puas. Saya tidak mengatakan sikap mental ini baik atau buruk, tapi saya yakin bahwa sikap mental inilah yang paling sesuai dengan kehidupan saya.

Novel ini pernah terbit pada tahun 2005 di penerbit Zikrul Remaja. Pada saat itu saya baru setahun belajar menulis, banyak orang yang bilang bahwa saya beruntung: baru setahun menulis tapi sudah punya novel.

Mungkin memang begitu, Tuhan memberi saya keberuntungan, Tuhan menempatkan saya seperti posisi wakil perfektur Ishikawa, bisa memimpin skor hingga selisih 19 angka hanya dalam waktu sembilan menit babak pertama. Tapi lantas Tuhan memberi saya kekalahan demi kekalahan, saat itu selisih angka saya terus mengecil sampai ada di ambang “kehancuran” total, bahkan sampai ada masa dimana saya berhenti menulis, itu terjadi selama empat tahun, mulai dari 2011 sampai 2015.

Apa yang saya rasakan, apa alasan saya mengambil keputusan itu biarlah saya ceritakan di buku yang lain, tapi pada awal tahun 2016 saya seperti menemukan lagi kekuatan untuk menulis, dan langkah pertama saya untuk merayakan hal tersebut adalah dengan menemukan penerbit yang mau menerbitkan lagi novel pertama saya. Saya senang atas pencapaian ini, tapi lantas ada saja teman yang bertanya, “Untuk apa sih? Apa kamu sudah tidak bisa menerbitkan karya baru?”

Oh, sebenarnya novel ini terbit ketika saya baru saja selesai menulis novel keenam, dan sedang bersiap menulis novel ketujuh. Artinya saya belum kehilangan kemampuan untuk menulis, tapi memang pertanyaan itu agak membuat saya tercenung. “Memang benar, untuk apa sih? Bukankah Milan Kundera pernah mengatakan bahwa setiap novel dibangun berdasarkan sebuah tanda tanya besar, sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh novelisnya sendiri, dan itu artinya saat sebuah novel selesai ditulis dan jawabannya sudah datang, maka tugas novel itu selesai. Begitupun novel ini, pertanyaan besar yang mengiringinya pun sudah sejak dulu terjawab, jadi untuk apa saya mengeluarkannya lagi? Toh masalah sudah selesai.”

Lama saya berpikir, sampai akhirnya menemukan jawabannya. Saya memerlukan novel ini sebagai penanda bahwa saya belum habis. Dulu novel ini menjadi titik awal saya berkarir, sekarang saya ingin novel ini pengingat bahwa saya sudah lahir lagi sebagai seorang penulis.

Berlebihan? Mungkin juga, tapi dalam proses editing yang “hanya” memakan waktu tiga hari, saya sadar bahwa saya memerlukan novel ini lebih dari sebelumnya, selain untuk memantapkan langkah, juga untuk kembali menyapa pembaca-pembaca saya yang tidak bosan-bosannya mengingatkan, memberi semangat, dan bertanya di sosial media: kang, kapan novelnya keluar lagi?

Sekarang, novel ini pun berubah menjadi semacam prequel untuk novel keempat saya: Senyum Sunyi Airin (kisah dibalik novel itu juga panjang dan menarik, saya akan tuliskan di kata pengantarnya). Pergeseran ini agak di luar dugaan, namun pada akhirnya saya merasa bahwa sekarang novel ini sudah menempati posisi yang seharusnya. Bukan lagi novel yang independen, tapi sebuah pondasi untuk cerita lain yang lebih kompleks.

Untuk itu saya mohon maaf pada para pembaca yang mungkin kurang akrab lagi dengan gaya bahasa atau plot seperti ini, mohon diingat saja bahwa naskah asli Masihkah Senyum Itu Untukku saya tulis tahun 2005, ketika itu style seperti ini masih umum, dan referensi bacaan saya pun masih terbatas. Tapi sebagai sebuah prequel saya kira novel ini sudah cukup.

Oh iya… satu lagi, pada akhir pertandingan itu… wakil perfektur Ishikawa yang sempat terdesak tadi akhirnya berhasil bangkit dan menang dengan skor: 77-71.

Tipis sih, tapi tetap saja mereka menang. Menang!

aaa

Bandung, Agustus 2016

Kata pengantar untuk Novel Masihkah Senyum Itu Untukku

aaa

banner-pre-order

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Dikutuk Untuk Selalu Optimis
Kemarin saya baru me-lock draft lima novel "Meja Bundar", naskah ini kami (saya dan mbak Latree) kerjakan selama lima tahun, dan draft lima adalah keputusan akhir yang harus diambil karena k...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Kematian dan Postmodern Jukebox
Dalam proses menulis novel ini, saya terus memikirkan dua hal: yang pertama tentang kematian, dan yang kedua tentang Postmodern Jukebox. Saya kesampingkan dulu yang pertama, saya ingin membahas soal k...
Mengapa Menulis Tentang Kematian?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha men...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.