Akhir Dari Sebuah Perjalanan

Ketika sedang menuliskan kata pengantar untuk novel ini, pada saat yang bersamaan saya juga sedang meladeni seorang reporter yang ingin melakukan wawancara. Memang wawancara itu berlangsung menyenangkan meski beberapa pertanyaan yang dikeluarkannya cenderung standar—misalnya: darimana dapat ide untuk menulis novel ini? Berapa lama proses pengerjaan? dan tentu saja tidak akan lewat pertanyaan paling standar dari yang paling standar untuk seorang penulis buku: apa pesan yang ingin disampaikan dari novel ini?

Yah, bukan salah wartawan itu juga, karena kadang ada pertanyaan-pertanyaan standar tetap perlu dikeluarkan, mungkin itu sudah jadi semacam standar operasional, semacam pertanyaan untuk tiang-tiang utama dari bangunan artikel yang kelak akan ditulisnya. Tapi kadang pertanyaan-pertanyaan standar itu membuat saya bingung untuk menjawabnya, pertama: karena kadang jawabannya terlalu sederhana, dan kedua: kadang saya tidak memikirkan itu.

Contoh kasus yang jawabannya sederhana adalah pertanyaan: Bagaimana cara menghidupkan tokoh di novel ini agar jadi menarik? Ketika dia melontarkan pertanyaan itu saya mengerutkan kening, lalu menjawab “Supaya tokohnya hidup… ya… dia harus ditulis. Kalau tidak ditulis tentu tokoh itu tidak ada, cuma nama saja.” Lalu kasus kedua adalah pertanyaan semacam: Apa pesan moral yang ingin disampaikan dari novel ini? oke saya punya pesan, oke saya punya sesuatu yang ingin disampaikan ke pembaca… tapi dalam artian tertentu pesan-pesan dalam tiap tulisan saya sebenarnya sangat sederhana.

Jujur saja, saya belum pernah tergerak menuliskan cerita yang berlatar belakang komflik historis seperti Israel-Palestina, Rohingya, Poso, GAM, dll… kisah-kisah yang saya tulis selalu berlatar belakang sesuatu yang biasa-biasa saja: kehidupan seorang musisi, seorang mahasiswa, seorang penjaga masjid, penyiar radio, atau seorang penulis. Latar belakang tempat juga lebih sering saya ambil di daerah-daerah pinggir kota yang  cenderung jauh dari konflik. Jadi kalau bicara pesan moral cerita, tentu saya tidak bisa bicara sebanyak orang yang menuliskan konflik internasional atau konflik agama, karena saya lebih suka menulis tentang pergulatan seseorang dengan dirinya sendiri. Apa pesan moral besar yang bisa diambil dari cerita dengan latar belakang seperti itu?

Tapi lantas ada satu pertanyaan yang membuat saya tertegun, “Apa hal yang menarik selama proses pembuatan buku ini?”, saya memilah-milah episode sejarah. Karena novel ini memiliki alur yang sangat panjang—lebih panjang dari yang saya duga sebelumnya—Bahkan begitu panjanganya sampai-sampai novel ini sempat muncul dalam beberapa nama.

Kalau saya diminta menyebut peristiwa yang melahirkan novel ini, tampaknya saya akan menyebut empat hal. Pertama: sebuah Lokakarya Novel yang disingkat LOVE. Ya, embrio novel ini sudah ada ketika saya mengikuti event LOVE tahun 2008 di Jakarta, ketika itu judul naskah ini masih “Sebuah Senyum yang Paling Sunyi”, tebalnya 120 halaman A4. Ini adalah bentukan paling awal, mungkin versi paling lemah dari semuanya karena memang saat itu diksi saya masih begitu berantakan, hanya sedikit lebih baik dari novel pertama: Masihkah Senyum Itu Untukku.

Lalu yang kedua: lewat ajang LOVE itu saya bertemu dengan Mas Joni Ariadinata. Ketika itu memang beliau ditugaskan untuk membimbing lima besar novel jebolan LOVE, dan saya yang beruntung. Dengan caranya sendiri beliau mengatakan bahwa novel ini jelek dan minta saya menulis ulang. Saya menulis ulang, dan mendapat bentukan kedua, novel berjudul: Senandung Jiwa, tebalnya 230 halaman A4. Novel itu merupakan pengembangan yang sangat drastis dari bentukan sebelumnya. Salah satunya adalah, pada naskah versi LOVE, tokoh Sulisati adalah manusia biasa yang berprofesi sebagai wartawan. Pada Senandung Jiwa, dia berubah total.

Episode ketiga dari novel ini adalah pertemuan saya dengan seorang perempuan bernama Rismaya, tepatnya di fase-fase akhir penyelesaian naskah Senandung Jiwa. Saat itu kami sering bertemu untuk melakukan diskusi, kami bergantian mengirim draft, kehadirannya membuat makin lama saya merasa pekerjaan ini lebih ringan terutama di bagian-bagian yang menyangkut ilmu psikologi, dia memberi masukan bagian mana yang perlu dihapus, dialog mana yang salah, atau data dan fakta mana yang perlu direvisi, bahkan dia menulis satu bab penting: dialog antara Airin dan Sulisati. Rismaya tampil lebih dari sekedar teman diskusi, dia adalah penolong saya dalam membuka kunci-kunci permasalahan yang membuat saya bingung, dan karena itulah saya selalu merasa namanya pantas dicantumkan “dua kali” di sampul depan.

Lalu fase keempat yang menandai hadirnya novel ini adalah keikutsertaan “Senandung Jiwa” di lomba novel Republika 2012. Ketika itu Senandung Jiwa berhasil menembus sepuluh besar dan duduk di peringkat delapan, dan terbit dengan judul “Suwung”.  Saya sempat berpikir, inilah titik akhir perjalanan naskah saya, tapi ternyata tidak. Ada berbagai hal yang terjadi hingga saya berikir: rasanya logis jika sebagai pekarya, saya menginginkan “perlakuan” yang sesuai pada karya saya, sesuatu yang tidak tercapai pada novel Suwung sekalipun. Masih ada yang kurang, masih ada kondisi yang tidak ideal, masih ada kejadian-kejadian tidak mengenakkan yang membuat Suwung tidak bisa menyapa pembaca sebagaimana yang semestinya.

Karena itulah saya beruntung menemukan Bitread yang mau menerbitkan kembali naskah ini, dengan sistem kerja dan kontrol yang dimiliki penerbit ini saya merasa naskah saya bisa tampil tepat seperti yang saya inginkan. Antara lain dengan judul baru, dengan sistem penjualan yang baru, dan yang terpenting adalah tidak ada lagi yang memisahkan naskah ini dengan prequel nya: Masihkah Senyum Itu Untukku.

Karena seperti yang saya katakan pada wartawan di sesi awal wawancara itu, membicarakan Senyum Sunyi Airin berarti harus pula membicarakan Masihkah Senyum Itu Untukku?, dan sebaliknya. Karena mesti tahun kelahirannya berbeda, namun kedua novel itu adalah serangkaian cerita yang tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Baiklah, mungkin saya harus menyudahi kata pengantar ini dan membiarkan pembaca masuk ke kisah yang sebenarnya, saya hanya ingin menandai bagian ini sebagai titik akhir dari sebuah perjalanan panjang. Perjalanan seorang penulis yang hanya ingin ceritanya tampil seperti yang dia inginkan.

Bandung, Agustus 2016

Kata pengantar novel Senyum Sunyi Airin

aaa

banner-pre-orderaaa

aaa

Share This:

Related posts:

Gagal Deskriptif Karena Sombong
Maaf ya, ini bukan ri'ya atau pamer, tapi saya cuma ingin berbagi cerita soal masalah menulis yang saya temui hari ini... siapa tahu bisa jadi bahan masukan buat teman-teman yang lagi belajar menulis ...
Menulis Dengan Pintu Tertutup
Malam ini saya gembira, sebab novel yang sudah saya kerjakan (kami kerjakan, karena saya dapat banyak bantuan dari mbak Latree Manohara) sekitar lima tahun akhirnya selesai ditulis. Saya mulai pada bu...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...
Mengapa Memilih Durasi 18 Jam?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Dan seperti layaknya sebuah proses, dalam setiap novel yang keluar, saya berusaha mencapai satu level...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.