Apakah GNB Masih Diperlukan?

Gerakan Non Blok (GNB) atau yang dalam bahasa politik internasional disebut sebagai NAM (The Non-Aligned Movement) adalah sebuah gerakan yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apapun. Sejarah mencatat gerakan ini diprakarsai oleh lima orang pemimpin yang dianggap mewakili negara-negara berkembang di dunia yang tidak berpihak pada blok barat atau blok timur pada era perang dingin. Kelima pemimpin dunia itu adalah: Jawaharlal Nehru (India), Soekanro (Indonesia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Kwame Nkrumah (Ghana), dan Josip Broz Tito (Yugoslavia).

Cikal bakal Gerakan Non Blok memang telah ada sejak Konperensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Karena pada konperensi tersebut seluruh peserta yang hadir berhasil merumuskan Dasasila Bandung yang pada akhirnya digunakan sebagai prinsip dasar bagi penyelenggaraan hubungan dan kerja sama antara bangsa-bangsa. Namun Gerakan Non Blok sendiri baru secara resmi terbentuk pada tahun 1961 dalam sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Belgrade, Yugoslavia yang dihadiri oleh 25 negara dari Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Pada pertemuan itu, Presiden Broz Tito terpilih menjadi Sekretaris Jenderal GNB yang pertama.

ktt_non-blok_teheran
KTT Non-Blok ke-16 di Teheran, Iran

Pada awalnya tujuan utama GNB difokuskan pada usaha membantu negara-negara yang sedang mengalami masalah dalam berbagai hal, para negara anggota GNB percaya bahwa untuk bisa menyelesaikan masalah itu mereka tidak perlu bersekutu dengan dua kekuatan utama dunia yaitu blok barat atau blok timur. Mereka percaya bahwa negara-negara non blok juga memiliki kemampuan untuk saling membantu dalam masalah-masalah seperti apartheid, manifestasi imperialisme; kolonialisme, neo-kolonialisme, rasisme, atau dominasi pihak asing. Dalam prakteknya negara-negara anggota GNB sepakat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, hidup berdampingan secara damai, menolak penggunaan ancaman dalam hubungan internasional, serta selalu mengedepankan kerja sama internasional berdasarkan persamaan hak. Bahkan sejak pertengahan 1970-an, isu-isu ekonomi mulai menjadi perhatian utama di negara-negara anggota GNB. Sehingga, pada saat itu GNB dan Kelompok 77 (G-77) mengadakan serangkaian pertemuan guna membahas masalah-masalah ekonomi dunia dan pembentukan Tata Ekonomi Dunia Baru (New International Economic Order).

Namun setelah perang dingin usai, yang ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989, muncul perdebatan mengenai relevansi, manfaat dan keberadaan GNB. Muncul pendapat yang menyatakan bahwa dengan berubahnya konstelasi politik dunia, eksistensi GNB menjadi tidak bermakna. Itu artinya, GNB tidak lagi diperlukan.

Benarkah memang itu yang terjadi?

Diskusi Transformasi Gerakan Non Blok di Ruang Pamer Temporer Museum KAA

Pertanyaan itulah yang coba dicari jawabannya dalam sebuah diskusi ilmiah bertajuk Transformasi Gerakan Non Blok, yang diadakan di Ruang Pamer Temporer Museum Konperensi Asia Afrika pada hari Sabtu, 10 September 2016.

Acara yang  diprakarsai oleh Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika ini menghadirkan dua narasumber yaitu Taufan Herdansyah Akbar, dosen program studi HI di Unjani sekaligus peneliti Gerakan Non Blok, dan Milica Vukovic, Mahasiswi Pascasarjana Unpar yang berasal dari Serbia.

Pada pidato pembukaa acara, staf Ekstenal Relation Museum Konperensi Asia Afrika, Teguh Adhi Primasanto, memaparkan bahwa diskusi tersebut bukan hanya dilangsungkan untuk memperingati 55 tahun berdirinya GNB, namun juga bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada seluruh peserta yang hadir akan korelasi antara Konperensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok, serta menjawab satu pertanyaan penting: masih pentingkan Gerakan Non Blok—terutama bila dikaitkan dengan politik dunia—saat ini bagi kita semua?

aaa

Transformasi GNB menjadi KSS

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Taufan Herdansyah mengambil acuan dari makalahnya yang berjudul Transformasi GNB: Peran Indonesia dalam Peningkatan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan Tinggi. Ia menjelaskan bahwa setelah perang dingin usai, ketegangan antara negara maju (Utara) dan negara berkembang (Selatan) kembali meningkat hingga menyebabkan terjadinya berbagai krisis dalam pola hubungan internasional.

Klasifikasi utara selatan (North-South) ini menggantikan klasifikasi timur-barat (East-West) yang terjadi di masa perang dingin. Klasifikasi ini lebih menitikberatkan pada kekuatan ekonomi sebuah negara. Secara kebetulan, negara yang berada di bagian utara seperti Amerika Serikat, Kanada, Turki, wilayah-wilayah Eropa Barat, sebagian kecil Asia seperti Jepang atau Korea Selatan memang tercatat sebagai negara dengan tingkat ekonomi yang baik daripada negara-negara di bagian selatan. Namun karena klasifikasi ini muncul bukan karena unsur geografis, maka beberapa negara yang ada di bagian selatan seperti Singapura, Australia, dan New Zealand juga dianggap negara utara.

Pembagian negara-negara utara-selatan pada peta dunia

Dalam istilah ekonomi dunia, negara-negara bagian utara sering disebut sebagai negara maju, dan negara-negara bagian selatan disebut sebagai negara berkembang.

Pada awalnya bentuk kerjasama seperti ini dianggap baik karena kedua belah pihak bisa saling melengkapi, misalnya negara-negara Utara memiliki keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, namun kurang didukung oleh sumber kekayaan alam. Sebaliknya, negara-negara Selatan memiliki sumber daya alam yang relatif melimpah, namun tanpa didukung oleh penguasaan teknologi.

Namun pada prakteknya, kerjasama utara-selatan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya karena bentuk hubungan Utara-Selatan ternyata cenderung berpola dominasi-subordinasi. Negara-negara Utara cenderung memaksakan model pembangunan terhadap negara-negara Selatan. Pemaksaan ini mereka lakukan melalui perundingan-perundingan atau memanfaatkan kehadiran IMF (Internasional Monetary Fund), sehingga IMF yang semula berfungsi sebagai lembaga keuangan untuk menolong semua negara di dunia, ternyata sering dipakai sebagai alat oleh negara-negara Utara untuk menguntungkan mereka.

Misalnya, Bank Dunia dan IMF mengeluarkan Program Penyelesaian Struktur atau SAP (Structural Adjustment Program) yang intinya mengatur bahwa negara-negara yang mendapatkan bantuan hutang agar lebih membuka pasar dalam negeri, menekan kegiatan ekonomi untuk lebih menghasilkan barang-barang yang bisa diekspor, serta mengurangi subsidi pemerintah terhadap sektor publik. Sekilas program ini tampak bagus, namun ternyata di sebagian besar Afrika dan Amerika Latin, program ini malah meningkatkan angka kemiskinan.

Karena kondisi itulah maka pada KTT GNB ke-10 di Jakarta pada tahun 1992, seluruh peserta berhasil menyepakati beberapa poin yang menjadi visi baru GNB, salah satunya adalah dengan meningkatkan potensi ekonomi para anggota GNB melalui peningkatan Kerjasama Selatan-Selatan (South-South Cooperation), yang berdasarkan pada prinsip collective self-reliance.

Kerjasama Selatan-Selatan (KSS) sendiri adalah sebuah program yang digagas oleh PBB pada tahun 1978, yang sudah terbukti berhasil mengurangi ketergantungan pada program bantuan dari negara maju serta menciptakan keseimbangan dalam kekuatan internasional masing-masing negara di dunia.

Dengan kesepakatan ini, negara-negara selatan kembali bersatu untuk melakukan pembenahan di kalangan mereka sendiri. Salah satu tujuan yang dicapainya adalah untuk meningkatkan kekuatan politik serta ekonomi mereka dan memperkuat daya tawar di percaturan ekonomi dunia.

Selaku ketua GNB waktu itu, Indonesia juga berencana menghidupkan kembali dialog Utara-Selatan berdasarkan saling ketergantungan yang setara (genuine interdependence), kesamaan kepentingan dan manfaat, dan tanggung jawab bersama.  Dialog ini difokuskan pada masalah-masalah perdagangan barang komoditas internasional. Negara-negara Selatan menginginkan komposisi harga yang adil dari penjualan komoditas tersebut dalam kerangka kemitraan (New Partnership for Development). Hingga pada intinya, pokok persoalan dalam kerja sama Utara-Selatan adalah upaya perubahan dalam tata hubungan dunia baru yang lebih adil. Hubungan tersebut harus berubah dari bentuk pemerasan oleh Utara ke bentuk pembagian keuntungan bersama. Dengan kata lain, hubungan tersebut harus berubah dari bentuk subordinasi ke bentuk kemitraan.

Menurut Milica Vukovic saat memaparkan makalahnya yang berjudul from Bipolar to Multipolar, dengan arah yang baru ini GNB telah berubah menjadi sebuah gerakan yang lebih realistis dan memiliki program-program kerja yang spesifik, sehingga membuat para anggotanya yang masuk ke dalam negara bagian selatan lambat laun memiliki kekuatan baru sebagai negara berkembang.

Lebih lanjut lagi Milica menjelaskan bahwa lepas dari fungsi PBB, kini GNB sudah lebih bisa merangkul negara-negara lain, terutama negara yang selama ini selalu dirugikan oleh negara-negara Utara. Termasuk negara-negara selatan yang menguasai sumber-sumber energi dunia seperti Bolivia, Brasil, Ekuador, Venezuela, Algeria, Angola, Libya, Nigeria, Chad, atau Gabon

Hal ini menunjukkan bahwa pasca perang dingin, GNB ternyata sudah bisa bertransformasi menjadi gerakan dengan fungsi baru. Kini sebagai sebuah suatu political movement, GNB menjadi semakin penting eksistensinya dalam memperjuangkan apa yang disebut dengan “tata ekonomi dunia yang lebih adil”.

Fokus gerakannya adalah mengajak negara-negara maju untuk memberikan perhatian yang lebih luas dan bersikap lebih adil terhadap proses pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Kala Subuh: Teringat Sahabat Lama.
Masih sama, seperti beratus-ratus subuh sebelumnya, membuka laptop, menekuni lagi tulisan yang tidak kumengerti... Teringat: "It's a big thing for me!" kalimat itu meluncur berulang-ulang ...
[Rumah Putih #2] Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, ...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...
Pelajaran Dari Kaki Seribu
Di rumah kontrakan saya sering sekali muncul kaki seribu—masih diperdebatkan, karena ada teman saya yang bersikeras bilang kalau itu namanya ulat gonggo, apapun… I’m a simple man: hewan itu melata dan...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.