Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan

Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Berbagai hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut dapat kita temui di kota ini. Mulai dari soal kuliner, peninggalan purbakala, heritage keraton, arsitektural gedung-gedung peninggalan Belanda, sampai seni tradisi Mungkin inilah yang menyebabkan Yogyakarta—seperti juga Bali—adalah dua tempat di Indonesia yang akan terus berkembang. Karena kedua kota tersebut menjual budaya, sementara budaya adalah sesuatu yang terus berkembang tanpa henti.

Pendapat tersebut diamini oleh Hasan Setyo Prayogo, penggagas Rumah Budaya dan Agrowisata Baru, Omah Kecebong, Yogyakarta. Ia menyebutkan bahwa suasana pedesaan seperti tanaman padi, kebun klengkeng, pohon jambu, pepohonan langka, rumah dengan desain kuno, ala Jawa, rumah kayu yang dijadikan resort lengkap dengan asesorinya yang serba Jawa sudah menjadi kekuatan wisata Yogyakarta. “Kalau di Bali ada Ubud, maka di Jogja ada suasana yang alami dan bisa merasakan sensasi kembali ke zaman silam,” begitu ujar Hasan.

Maka tidak heran jika di Yogyakarta dapat ditemukan tempat-tempat wisata atau peristirahatan yang menjual elemen-elemen tersebut, beberapa diantaranya hadir dalam bentuk desa wisata seperti Desa Wisata Candran, atau Desa Wisata Kembang Arum. Ada juga yang hadir dalam bentuk tempat peristirahatan bernuansa hijau seperti Omkara Resort, atau Greenhost Boutique Hotel yang pernah dijadikan tempat menginap oleh artis dan kru film AADC 2 ketika mereka syuting di Yogyakarta.

Selain nama-nama yang sudah disebutkan tadi, ada lagi satu tempat peristirahatan yang layak dimasukkan ke dalam daftar penginapan bernuansa pedesaan, tempat itu bernama Rumpun Ariadinatan.

????????????????????????????????????

aaa

Belajar di Rumpun Ariadinatan

Guest house yang terletak di atas tanah seluas dua ribu meter persegi ini berada di daerah Gamping Kidul, Sleman, Yogyakarta. Saat ini, di area tersebut sudah berdiri tiga bangunan, satu untuk tempat tinggal pemiliknya dan dua lagi untuk tempat menginap. Rumpun Ariadinatan sendiri adalah salah satu bangunan di tanah itu yang memang sengaja difungsikan sebagai guest house.

Menurut pemiliknya yang juga seorang sastrawan Indonesia, Joni Ariadinata, Rumpun Ariadinatan akan lebih cocok bila digunakan untuk tempat menginap keluarga atau tempat meeting para pegawai kantor, paguyuban, atau organisasi. Fasilitas di bangunan ini sudah cukup lengkap, selain tersedia tiga kamar tidur, satu kamar mandi dengan shower, dispenser, TV, dapur lengkap dengan segala peralatannya, disini pun sudah tersedia peralatan multimedia seperti layar, komputer, peralatan audio, dan proyektor. Cocok untuk acara nonton bareng atau presentasi yang bersifat informal.

Menurut Joni, masih banyak lagi fasilitas yang akan ditambah atau disempurnakan tapi semua konsep pengembangan itu akan tetap mempertahankan atmosfir pedesaan. Beberapa rencana yang sudah mulai dilaksanakan adalah pembangunan gazebo, kolam ikan, dan pembangunan rumah kayu di atas sebuah pohon yang sudah tumbuh di sana selama kurang lebih 90 tahun.

Selain itu, ada pula rencana pembuatan kafe kopi sederhana di tengah-tengah area tanah tersebut. Fasilitas-fasilitas tersebut disiapkan bukan hanya bagi pengunjung yang akan menyewa dan menginap biasa, namun ditujukan juga bagi mereka yang ingin menginap sambil belajar menulis. “Sekarang juga sedang ada mahasiswa dari Bandung di rumah sebelah sana.” Tutur Joni seraya menunjuk ke arah bangunan di sebelah timur.

Ketika dikonfirmasi kepada para mahasiswa dari Bandung tersebut, memang benar ada delapan orang mahasiswa dari komunitas Asas UPI yang sudah lebih dari seminggu tinggal di sana dengan tujuan untuk belajar menulis cerpen. Menurut mereka, tempat ini kondusif dan representatif untuk menulis, apalagi dipandu langsung oleh sastrawan nasional sekelas Joni Ariadinata.

Bicara mengenai program belajar menulisnya, Joni menerangkan bahwa ia bisa menyediakan asistensi langsung dalam pembuatan sebuah karya fiksi, dan akan lebih baik jika siapapun yang ingin belajar bisa tinggal disana untuk sementara waktu. “Cukup bayar sewa kamar saja, dalam satu bulan kita bisa membuat novel yang ketika peserta pulang dari sini, dia bisa membawa pulang sebuah naskah yang layak ditawarkan ke penerbit.”

Memang masuk akal jika Rumpun Ariadinatan digunakan untuk belajar menciptakan karya yang perlu imajinasi dan konsentrasi tingkat tinggi seperti kegiatan menulis. Karena dari penelitian pakar-pakar pendidikan seperti The Liang Gie, Conny R. Semiawan, atau Slameto, semuanya sepakat bahwa dalam proses belajar diperlukan beberapa elemen penunjang, yang telah ada di tempat ini, antara lain: ruang belajar khusus, minimnya tingkat kebisingan, dan keberadaan pohon-pohon yang menyejukkan suasana. Keberadaan pohon-pohon yang bisa menunjang keberhasilan proses belajar ini juga sesuai dengan hasil penelitian Prof. Dr. Made Pidarta di Australia pada tahun 1995.

Demikian, kehadiran tempat seperti Rumpun Ariadinatan ini selain menambah pilihan tempat singgah bagi para turis yang datang ke Yogyakarta, tempat ini juga bisa menjadi sarana menuntut ilmu kepenulisan yang baik.

Bukan cuma karena keberadaan pakar sastra yang ada disana, namun lebih jauh lagi karena didukung oleh suasana lingkungan yang asri, tenang, tentram, dan menyejukkan.[]

aaa

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
Balada Nasi Goreng
Kerja sebagai editor bikin saya sering nginep di kantor, terutama pas deadline datang. Sekadar catatan: deadline sebenarnya lebih parah dari jelangkung. Karena Jelangkung nggak pernah ngerjain kita (...
Ayo Mulai di Yogyakarta!
Yogyakarta adalah sebuah kota yang selalu berubah di mata saya. Bahkan setiap kali ke sana, saya selalu bertanya begitu keluar dari stasiun atau bandara “Kali ini kamu jadi kota macam apa?” Ini bukan...
Catatan Bontang #2: Selangan
Selama tiga minggu dia di Bontang ini, saya jarang kemana-mana, cari makan, ambil duit di ATM cuma di sekitaran kosan, paling yang agak jauh pas beli bensin. Itulah sebabnya selama disini saya baru bi...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Merajut Mimpi Lewat Singkong dan Pisang
Singkong dan pisang, sebuah bahan makanan yang cenderung dianggap tradisional dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga dalam artian tertentu kedua makanan ini seolah telah habis varian-variannya karena...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan

  • 08/09/2016 at 02:27
    Permalink

    nyaman sekali dan di pedesaan bikin suka , diinget dan dicatat siapa tahu bisa ke sana

  • SiHendra
    08/09/2016 at 02:39
    Permalink

    iya, kadang kalau yang terbiasa hidup di kota, lama-lama pasti tidak tahan penat dan perlu alam pedesaan untuk mengembalikan lagi semangatnya :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published.