Sahabat Museum, Menghangatkan Museum

Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada kenyataannya museum hanyalah penuh saat ada kunjungan rombongan dari sekolah atau instansi tertentu yang sedang melakukan karyawisata. Bila sedang tidak ada rombongan pengunjung maka museum relatif sepi, karena di negara ini mengunjungi museum belum menjadi prioritas pertama bagi para wisatawan, terutama wisatawan domestik.

Namun ada pemandangan berbeda yang bisa dilihat di Museum Konperensi Asia Afrika pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 3-4 September 2016 kemarin. Selama dua hari tampak ratusan anak muda memenuhi halaman sejak pagi hingga petang. Kehadiran mereka membuat Museum Konperensi Asia Afrika tampak penuh dan semarak, jauh dari kesan-kesan klise museum yang kita pikirkan selama ini. Pertanyaannya, apakah mereka adalah turis-turis domestik yang kebetulan saja datang di waktu yang sama? Atau apakah mereka datang sebagai bagian dari rombongan karyawisata?

Ternyata tidak, anak-anak muda yang terlihat datang dalam dua hari itu itu adalah mereka yang sedang mengikuti seleksi menjadi anggota Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA).

img_5841

SMKAA adalah komunitas yang didirikan pada tanggal 11 Februari 2011, menurut mantan Koordinator Eksekutif SMKAA, Yovita Omega, pendirian komunitas ini bertujuan untuk menyampaikan pesan dan semangat Konperensi Asia Afrika kepada masyarakat luas, “Kami mengemban tugas sebagai diplomat publik yang menyampaikan pesan pesan KAA. Karena Museum KAA tidak punya artefak-artefak, sehingga yang bisa ditampilkan itu adalah jejak-jejak semangatnya, dan untuk menampilkan hal seperti itu diperlukan diplomat-diplomat publik seperti contohnya rekan-rekan disini.” Demikian penuturannya.

Jika diurai lebih detail, salah satu tugas penting dari SMKAA adalah mengubah persepsi masyarakat akan wajah museum—dalam hal ini adalah museum KAA—yang identik sebagai tempat membosankan. Sehingga fungsi utama dari SMKAA adalah menunjukkan bahwa museum juga dapat menjadi tempat yang inspiratif dan menyenangkan. Untuk itulah maka dalam komunitas SMKAA terdapat banyak kegiatan yang terbagi ke dalam belasan klub, antara lain: Nihao (Klub Budaya dan Bahasa Mandarin), Heiwa (Klub Budaya dan Bahasa Jepang), Maghribi (Klub Budaya dan Bahasa Afrika Utara), Sampurasun (Klub Budaya dan Bahasa Sunda), Cinemaker (Klub belajar membuat film), Young Announcer, Guriang (Klub Angklung), dan masih banyak lagi. Klub-klub tersebut berfungsi untuk menampung bakat dan minat para anggota yang tentu berbeda-beda satu sama lain. Artinya, dengan menjadi aktivis SMKAA, selain bisa berkontribusi pada museum KAA, anggota juga bisa mengasah minat dan bakatnya masing-masing.

Setiap tahun, SMKAA menerima sekitar 200-300 orang anggota baru yang terdiri dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, ibu rumah tangga, pegawai, seniman, bahkan siswa SMP dan SMA. Untuk menjadi anggota komunitas ini diperlukan seleksi yang terbagi ke dalam seleksi umum yang meliputir kesejarahan KAA, dan seleksi khusus yang diserahkan pada masing-masing klub.

dsc_0911

Menurut Koordinator Eksekutif SMKAA, Logika Anbiya, tahun ini saja ada sekitar 700 orang yang datang mendaftar untuk jadi anggota, mayoritas didominasi oleh mahasiswa. Selanjutnya jumlah ini dipastikan akan menyusut dimana kuantitasnya akan diserahkan pada masing-masing klub “Kita tidak ingin membatasi jumlah anggota per klub, karena kita tidak tahu berapa jumlah sebenarnya yang diperlukan klub. Jadi kita serahkan saja pada mereka, sanggupnya berapa. Jika mereka sanggupnya membina—atau misalnya memerlukan tambahan anggota—sebanyak 20 orang, ya silahkan terima 20 orang.” Demikian Logika memberi penjelasan.

Menurut Logika, proses seleksi ini merupakan hal yang wajib dan harus dilewati oleh setiap calon peserta, karena bukan hanya berfungsi sebagai sarana menyusutkan jumlah, seleksi ini pun berfungsi untuk mengetahui motivasi setiap calon anggota, apakah mereka memang benar-benar memiliki niat untuk bergabung dan belajar, atau hanya untuk mencari sertifikat keanggotaan saja.

Dengan memiliki komunitas seperti SMKAA, Maka Museum Konperensi Asia Afrika selalu tampak hidup. Setiap hari selalu saja ada aktifitas di sana, jika bukan ramai oleh pengunjung maka pasti anggota SMKAA lah yang mengadakan kegiatan-kegiatan seperti seminar, diskusi film, kegiatan mengkaji buku, dan lain sebagainya.

Maka tidak heran jika Museum KAA berhasil meraih penghargaan “Museum Bersahabat” dalam perhelatan akbar Malam Anugerah Purwakalagrha tahun 2014, dan pada tahun 2015 Museum ini kembali merah penghargaan di ajang yang sama untuk kategori “Museum Menyenangkan”.

Banyak faktor yang membuat Museum KAA berhasil mencapai prestasi itu, dan salah satunya adalah keberadaan komunitas SMKAA yang sukses menjadi jembatan komunikasi antara museum dan masyarakat. Karena dengan keterlibatan masyarakat baik secara fisik ataupun emosional di dalam kegiatan-kegiatan museum, maka jelas masyarakat akan bisa merasakan pengalaman bersentuhan dengan nilai-nilai dan semangat KAA. Pengalaman itu menunculkan penghayatan yang mendalam, dan pada akhirnya bisa membentuk identitas kolektif tentang citra Museum KAA sebagai rumah tempat mereka belajar dan mengaktualisasikan diri.”

Bila ini sudah tercapai maka kesan museum sebagai tempat yang dingin dan sepi tentu akan hilang, dan tergantikan dengan citra sebagai tempat yang hangat, nyaman, serta bersahabat.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Bekerja Untuk Saxophone
Beberapa orang mengenal saya sebagai novelis, beberapa mengenal saya sebagai editor film, kadang sering disebut juga sutradara film, dan beberapa orang yang lain mengenal saya sebagai peniup harmonika...
[Rumah Putih #2] Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, ...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?
Kemarin, untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gusi gara-gara impaksi. Operasi yang pertama sudah agak lama, sekitar Juni 2015. Waktu itu setelah rontgen baru ketahuan kalau gigi saya yang impaksi ...
Modal Penting Mencari Kerja
Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.