Sampdoria, Seperti Biasa

Sudah lama nggak nulis soal Sampdoria… tentu karena Serie A belum jalan, tapi tadi malam giornata pertama pun sudah mulai dan Sampdoria mengawalinya dengan manis setelah menekuk Empoli 1-0 di kandang lawan, Stadio Carlo Castellani. Gol dari Luis Muriel di menit ’37 memastikan mereka pulang dengan membawa tiga point.

Menang sih menang, tapi saya masih agak khawatir karena dalam tiga musim terakhir ini Sampdoria terkenal “boros bensin”. Bagus di awal, tapi biasanya di pertandingan ke 12 atau 15 bensinnya mulai habis, penampilannya mulai melempem, dan di akhir musim biasanya menghuni papan bawah, cuma beberapa garis di atas zona degradasi

Setiap tahun doa saya sama “semoga trend nya ga berulang”, semoga tetap konsisten sampai akhir, tapi rasanya makin keras doa itu diucapkan, grafiknya tetep saja anjlok. Apalagi tahun ini Sampdoria lagi-lagi mengulang kebiasaan lama: nggak pernah serius di musim transfer

Salah satu teknik “standar” penghematan manajemen Sampdoria biasanya adalah menarik balik bekas pemain mereka atau pinjam pemain. Tahun ini pun sama… musim 2016/2017 ini mereka diperkuat sejumlah “anak hilang”, seperti: Fabio Quagliarella, Emiliano Viviano (ini kalo fans Arsenal kelas berat pasti tahu, dia pernah jadi pelapis Wojciech Szczęsny), dan Jacopo Sala. Ditambah beberapa darah baru (bener-bener baru)… pemain-pemain muda berondong level internasional macam Karol Linetty (Polandia; 10 caps), Patrik Schick (Ceko, 1 caps) dan jebolan akademi muda mereka macam Andres Ponce (U-19) atau Titas Krapikas (U-17).

Beruntung pemain macam Filip Djuricic (Benfica), Leandro Castan (defender AS Roma) atau Bruno Fernandes (Pemain muda timnas Portugal) mau menandatangai kontrak peminjaman sampai akhir musim. Kalau nggak, habislah urusannya… karena nggak tahu gimana urusannya, kemarin Sampdoria banyak melepas para pemain bagus seperti: Roberto Soriano (Villareal), Ervin Zukanovic (AS Roma), Joaquín Correa (Sevilla), Fernando (Spartak Moscow), Niklas Moisander (Werder Bremen), atau Lorenzo De Silvestri (Torino)

Yah, mungkin juga ini urusannya uang karena dari penjualan 9 orang pemain penting saja mereka bisa dapat uang sekitar 59,6 juta Euro sementara untuk beli pemain hanya menghabiskan dana sekitar 24 juta Euro.

Semoga tambal sulam ini hasilnya bagus membaik, tes berikutnya adalah minggu depan melawan Atalanta di rumah sendiri, Stadio Luigi Ferraris… kita lihat saja hasilnya[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan
Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada...
Catatan Euro #12: Garis Batas Sang Matador
Seorang penyair Spanyol, Federico García Lorca pernah berkata: Spanyol adalah satu-satunya tanah dimana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian. La Muerte! Karena itulah mentalitas bangsa S...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *