Penerbit Perlu Naskah: Bitread

Boleh Dibaca Dulu: Kenapa Ada Rubrik Ini?

Tulisan dengan tema “Penerbit Perlu Naskah” ini dibuat karena saya melihat ada fenomena menarik di dunia menulis, yaitu: (1) Sedikit penerbit yang mau nerima naskah write off (kontraknya sudah habis di penerbit lain) dari seorang penulis tidak terkenal, padahal kadang si penulis ingin naskah itu terbit sekali lagi, semacam pengen punya tempat bernaung yang baru. Ada lagi yang berikutnya: (2) para penulis—terutama penulis baru—sering merasa kesulitan untuk menemukan penerbit yang mau menerbitkan naskahnya. Ini bukan berarti penerbit tidak mau nerima naskah dari anak baru ya… banyak kok penerbit yang menyasar pasar dari penulis baru, tapi kalau mau “dikorek-korek” para penerbit itu lebih suka menunggu Raditya Dika atau Andrea Hirata beresin naskah, setidaknya pasarnya sudah jelas, dan promonya nggak terlalu ribet. Ketimbang ambil resiko sama anak baru yang orang pun belum tahu siapa.

Faktanya: penulis yang baru belajar memang rentan ditolak, bisa karena naskahnya masih punya kelemahan (iya namanya juga baru belajar), bisa juga karena penerbit tidak mau ambil resiko menerbitkan naskah yang belum tentu balik modal (inget, dunia penerbitan itu dunia bisnis, barang nggak laku berarti kerugian, kerugian berarti perusahaan bangkrut, so simple! Penulis harusnya paham itu, jangan marah-marah kalo naskahnya ditolak). Memang di satu sisi itu bagus karena setiap penolakan seharusnya bisa menggenjot penulis tersebut untuk memperbaiki diri, dan pada akhirnya dia akan melahirkan naskah dimana penerbit tidak punya alasan lagi menolaknya.

Namun berapa persen sih penulis yang punya kesadaran mental seperti ini? Apalagi tipe orang beda-beda, ada yang memang harus “dibanting” dengan kegagalan baru sukses, ada yang harus “dimotivasi pelan-pelan” baru dia ada semangat untuk maju terus. Nah, saya sih cuma khawatir ada penulis baru yang sebenarnya punya bakat tapi sikap mentalnya memang belum terbina, akhirnya dia menyerah di tengah jalan. Orang-orang seperti ini memerlukan sedikit keberhasilan di awal, bukan banting-bantingan badan.

Di satu sisi… saya juga sering menemukan penerbit—ini biasanya penerbit baru—yang tidak terlalu ketat seleksinya, karena mereka dalam status perlu naskah. Biasanya asal tidak melenceng banget dari visi-misi penerbit mereka masih mau. Masalahnya: tidak ada yang tahu mereka itu apa atau siapa.

Nah, dalam pikiran saya: kenapa tidak saya bikin tulisan yang bisa mempertemukan kedua belah pihak ini? Penulis baru yang perlu pengakuan, dan Penerbit yang perlu naskah. Toh pada akhirnya ketika kedua belah pihak bertemu, proses penerbitan (seleksi, editing, diskusi, dll) tetap akan berjalan. Jadi tidak ada masalah juga dengan kualitas buku yang kelak terbit. Maka pada rubrik “Penerbit Perlu Naskah” ini, saya akan menuliskan penerbit-penerbit yang pernah ngobrol dengan saya (hanya yang sudah pernah ngobrol dengan saya) dan memiliki kategori serupa:

  • Perlu naskah.
  • Seleksi tidak terlalu ketat
  • Mau menerima naskah write off
  • Mau menerima naskah dari penulis seperti apapun juga (tentu saja tetap dengan proses seleksi)

Saya bukan agen naskah mereka, tidak dibayar untuk promosi, dan saya bukan pegawai mereka, kalaupun ada naskah yang syaratnya dikirim ke email saya… itu karena saya mau bantu mereka untuk menyeleksi saja (jadi naskah yang terlalu berantakan outlinenya saya tidak akan ajukan). Begitu, semoga rubrik ini bisa membantu kedua belah pihak, ya penulis, ya penerbit, dan akhirnya saya masuk surga… []

[collapse]

Ceritanya, di dekat rumah cafe baru… Warung Upnormal, eh nggak terlalu baru juga sih, pertama kali saya lihat tempat itu ada sebelum puasa. Mau mampir tapi belum sempat, terus pas bulan puasa malah nggak ada agenda buat ke sana. Males aja, kalau bulan puasa tempat makan kan biasanya siang-siang tutup dan malem penuh banget sama yang bukber.

Akhirnya baru 3-4 hari setelah lebaran saya nyoba makan disana. Tempatnya enak, makanannya juga (kecuali yang ada unsur cabe hijau, saya ga suka pedes sih!), dan ketika itu saya jadi kepikiran pengen sesekali nyoba nulis novel atau meeting disana. Soalnya tiap meja ada colokan listrik, jadi pasti bisa buat pasang laptop atau ngecas HP. Apalagi menurut info dari pelayannya, tempat itu buka sampai jam 1 pagi. Oke, bisa jadi opsi yang lumayan kalo harus kerja lembur.

Tapi keinginan itu belum terlaksana dalam sekali dua kali makan di sana, soalnya tiap ke sana pasti agendanya ya makan dan ngobrol doang, entah sama keluarga, entah sama selingkuhan teman (tapi mesra). Nah, akhirnya baru kali ketiga saya kesana buat beneran meeting.

Jadi ceritanya saya dikontak teman lama, namanya Luttfi. Dulu kita pernah sama-sama kerja di sebuah penerbitan tapi saya duluan keluar. Dia sih nggak mungkin keluar, soalnya dikit lagi bakal jadi boss… hehe.  Lama nggak ketemu, tiba-tiba ngajak ketemu untuk ngobrol soal buku … saya curiga, mau ngapain nih? Iya sih kedoknya bahas buku, tapi kalo endingnya prospek MLM? Atau promo Partai baru? Atau mungkin ngajak pindah agama? Hayo!

Tapi ya sudahlah, karena teman ya saya okein aja. Ternyata dia mau tuh saya ajak ketemu di Warung Upnormal,  saya sih seneng-seneng aja karena: memang udah lama mau ngerasain suasana meeting di sana, dan asumsi saya karena dia yang ngajak tentu harusnya dia yang bayarin. Lumayan, hemat uang makan.

13886435_10210285673522369_2427365755092785969_n
Ketika meeting dengan Bitread, abaikan foto yang buram, dan abaikan jidat yang berkilauan… (Luttfi itu yang pake baju kotak-kotak)

Begitu ketemu, ngobrol… dia cerita bahwa sekarang sudah pindah kerja ke penerbit yang namanya Bitread (saya bacanya bitred, dia bitrid… whatever lah), itu katanya penerbit Jakarta tapi dia sih ngantornya di Bandung, di daerah Padasuka. Bitread adalah Official Partner UWRF 2016 (Ubud Writers & Readers Festival), dan Luttfi ini posisinya adalah Editor in Chief (padahal biar keren aja tuh, intinya sih ya pemburu naskah). Nah dalam meeting itu dia menjelaskan banyak soal konsep penerbitannya, termasuk kriteria naskah-naskah yang dicari. Terus terang saya suka konsep Bitread, konsep seperti ini memungkinkan penulis baru memasarkan naskahnya, mengetes pasar, menerbitkan ulang naskah yang sudah writer off, tapi sekaligus bisa meminimalisir resiko-resiko penerbitan.

Langsung aja, ini ada beberapa catatan penting yang berhasil saya kumpulkan tentang penerbit Bitread… antara lain:

  • Bitread berfokus pada buku digital, jadi defaultnya… naskah yang masuk akan jadi e-book. Tapi ketika ada pembaca yang ingin punya versi cetak, Bitread juga mau mencetak dengan sistem PoD. Tapi sisanya normal, jadi ada fasilitas layout cover, layout buku, editing naskah (dengan syarat khusus), dan juga ada konsep pemasaran yang disiapkan penerbit
  • Cetakan digital berarti buku bisa dibaca di smartphone, masalahnya… yang mau membeli buku itu harus download dulu applikasi Bitread di Google PlayStore. Setelah itu baru bisa memesan buku (e-book) yang diinginkan. Sementara kalau perlu versi cetak juga bisa dibuatkan, tentu harganya juga beda. Ketika Luttfi mendemokan sistemnya, saya lihat buku yang sama dalam versi e-book dijual sekitar 12 ribu, sementara versi cetaknya dijual 50 ribu.
  • Untuk para penulis, royalti kedua jenis terbitan ini juga beda. Royalti versi cetak 10%, royalti versi e-book 40%
  • Berikutnya, ini yang saya suka: Bitread tidak terlalu ketat dalam seleksi naskah (dan lebih bebas dalam menerima jenis naskah), serta mau menerima naskah yang sudah pernah terbit di tempat lain, tapi kontraknya sudah habis. Bagian ini penting buat para penulis baru atau penulis yang ingin bukunya “pindah rumah”. Sepertinya saya akan langsung memanfaatkan fasilitas ini, hehe…
  • Selain itu, dari hasil obrolan… saya diberi tahu bahwa Bitread juga hanya menyiapkan kontrak enam bulan untuk satu buku. Sementara normalnya penerbit lain bisa 3-5 tahun. Artinya setelah enam bulan, penulis bisa mengirim naskahnya ke tempat lain. Konsep ini saya pikir bagus juga untuk mengetes pasar atau promo awal sebuah naskah. Soalnya kalau terlalu lama naskah dipegang penerbit sementara bukunya juga sudah nggak laku, nggak ada di pasaran, atau sudah jenuh… kasihan penulisnya. Ketika dia mau “pindah rumah” dan promo ulang, semua harus mulai lagi dari nol karena masyarakat udah ga inget lagi itu buku apa.

Udah gitu aja… sisanya sih biasa, meeting berlangsung lancar, tentu Luttfi yang bayarin semua makanan (pasti dong, dia kan udah jadi boss). Mungkin kedepannya saya jadi lah mau menerbitkan di Bitread, karena tampaknya konsep penerbit seperti ini cukup bagus untuk beberapa novel lama saya macam MSIU atau SUWUNG yang meski udah ga cetak tapi sampai sekarang masih saja ada penggemarnya.

Nah, jadi silahkan buat teman-teman penulis yang tertarik bisa langsung kunjungi web resmi Bitread dan cari-cari info disana. Semoga bermanafaat ya.[] aaa

WEBSITE: BITREAD

TWITTER: BITREAD

FB: BITREAD

FB: LUTTFI FATAHILLAH


aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Sebuah Surat untuk Lee
Lee, kusertakan sebuah gambar buram yang pasti membuatmu terpingkal-pingkal. Pada suatu titik di kejauhan ada seseorang memegang gitar, sendirian. Baiklah, itu aku, dan kau tahu aku tidak bisa bermai...
Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Kematian dan Postmodern Jukebox
Dalam proses menulis novel ini, saya terus memikirkan dua hal: yang pertama tentang kematian, dan yang kedua tentang Postmodern Jukebox. Saya kesampingkan dulu yang pertama, saya ingin membahas soal k...
H-98: Benarkah FLP Membuat Kita Bisa Menulis?
Pada form penerimaan anggota baru di berbagai cabang, atau salah satu syarat masuk ke open-group Forum Lingkar Pena di Facebook, biasanya para calon anggota akan mendapat pertanyaan: Apa alasan masuk ...
H-92: Latte, Adalah Kopi Saya Hari Ini
Seorang senior saya di Forum Lingkar Pena—saya pernah menyebut namanya di tulisan ini—pernah berkata: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi ...
H-80: Di FLP Kita Dapat Apa?
Beberapa hari yang lalu, ada sebuah pertanyaan menarik yang mampir di grup Forum Lingkar Pena. Begini isinya: Maaf sebelumnya... saya mau tanya. apa yang dilakukan dan fasilitas apa yang kita dap...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.