Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?

Kemarin, untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gusi gara-gara impaksi. Operasi yang pertama sudah agak lama, sekitar Juni 2015. Waktu itu setelah rontgen baru ketahuan kalau gigi saya yang impaksi ada dua: geraham bawah kiri dan kanan (tuh mirip-mirip lah posisinya seperti gambar). Tapi berhubung saat itu yang sakit baru area kanan, maka bagian itulah yang duluan ditangani. Setelah beres saya pikir… ah sudahlah mungkin yang kiri sudah nggak bakal sakit-sakit lagi…

Tapi ternyata, kemarin pasca lebaran saya merasakan gejala-gejala yang sama di bagian kiri (mungkin karena terlalu banyak makan nastar dan kue keju). Gejala yang saya rasakan itu antara lain sakit gigi berkepanjangan, leher kaku, bahkan sampai migrain (kalau sudah migrain mata sudah dibuka). Mbak Neneng—teman saya yang punya kasus sama—bahkan menggambarkan rasa nyerinya itu sampe “sakit badan sebelah, dari kepala sampe punggung.” (Eh buset, itu impaksi apa encok menahun ceu? coba dipastikan…)

Karena sudah punya pengalaman sebelumnya, maka nggak nunggu-nunggu lagi (dulu yang kanan saya sampe nunda empat bulan lho, dikira sakit gigi biasa), saya pun langsung pergi ke dokter gigi langganan deket rumah untuk minta obat pereda sakit, surat pengantar rontgen, dan surat rujukan bedah mulut.

Kenapa saya merasa perlu meredakan sakitnya dulu sebelum dibedah? Karena memang biasanya dokter kan tidak mau menangani pencabutan ketika gigi sedang sakit atau ada radang. Untuk kasus impaksi memang beda… operasi tetap bisa dilakukan meski giginya sedang sakit. Tapi pengalaman saya, operasi gigi kanan tahun 2015 itu dilakukan saat sakit dan radang… dan sepertinya efek bius cuma ngaruh 80% deh … jadi masih ada aja ngilunya pas dioprek. Jadi perkiraan saya kalau radangnya kali ini bisa diredakan dulu, pasti nanti rasa efek biusnya pun bisa lebih tokcer!

Sambil diperiksa, sempat ngobrol-ngobrol banyak sama dokter Anggi tentang kasus impaksi ini (kebetulan memang bu dokternya cantik enak diajak ngobrol… buat yang tinggal di Ujungberung mending pergi ke dokter Anggi deh buat konsultasi, dijamin nggak akan rugi), dan saya dapet beberapa keterangan tambahan yang bikin makin yakin bahwa impaksi itu memang penanganannya nggak main-main, harus dibedah! (dan keyakinan saya soal efek bius juga diperkuat oleh doker Anggi. Jadi memang katanya bius tidak mendatangkan efek seperti yang diharapkan karena gusi yang disuntiknya memang sedang bengkak, dan itu akan berpengaruh sekali)

Eh, sebelumya mungkin ada yang nanya: apa sih impaksi?

Silahkan di googling juga banyak infonya, tapi (buat yang males Googling) pada intinya impaksi adalah sebuah kondisi dimana gigi geraham ketiga atau sering disebut juga gigi geraham bungsu (wisdom teeth) mulai tumbuh. Gigi tumbuh berarti bagus dong? iya, masalahnya… dia tumbuh saat usia kita antara 17-25 tahun, ketika itu pertumbuhan rahang kita sudah berhenti sehingga dia akan tidak dapat cukup ruang lagi, akibatnya dia bisa tumbuh dalam posisi yang tidak tepat. Karena itulah ketika dia tumbuh maka bisa muncul gejala-gejala impaksi yang biasanya baru terasa di usia 30-an.
aaa

Gigi

aaa

Kalau nggak dicabut bagaimana? Ada dua informasi yang saya dapat, yaitu: Kalau giginya tidak bermasalah (artinya tumbuh di rahang yang ukurannya pas) ya tidak usah dicabut, sementara pendapat yang satu lagi mengatakan bahwa wisdom teeth itu pasti kelak akan bikin masalah (biang kerok dia) dan harus segera dicabut!

Di dunia kedokteran gigi sendiri sekitar 85% dari gigi bungsu ini memang perlu diambil. Apalagi (katanya) ada sebuah studi dari the American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons and the Oral and Maxillofacial Surgery Foundation yang menyatakan bahwa gigi bungsu yang keluar dalam posisi normal ternyata juga rawan terhadap penyakit, sama seperti gigi bungsu yang impaksi.

Terserah sih mau ngikut pendapat yang mana, tapi kalau saya sih menyarankan mending kita urus gigi yang kemungkinan bermasalah saja. Faktanya, sebagian besar orang memiliki empat gigi bungsu: kiri atas, kanan atas, kiri bawah dan kanan bawah, itulah mengapa kasus impaksi bisa terjadi di empat posisi tersebut… alhamdulillah saya sih cuma dua, kanan bawah dan kiri bawah. Nggak kebayang deh kalau harus empat kali dibedah gara-gara gigi macam ini, dan mungkin faktor duit juga (terutama kalau nggak ikut BPJS, apalagi kalau alasannya karena BPJS adalah produk thogut, Yahudi, Mamarika).

Lah, gimana caranya tahu bahwa gigi bungsu kita “calon” bermasalah?

Kalau kata dokter (perhatian nih yang punya anak), Kalsifikasi wisdom teeth itu sudah terjadi mulai umur kita 9 tahun dan mahkota giginya selesai terbentuk umur 12-15 tahun. Jadi meski belum tumbuh, tapi giginya sudah bisa dilihat (lewat rontgen, tentunya). Nah, mending cabutnya saat itu aja (namanya pencabutan preventif) karena pada usia-usia segitu akar gigi masih pendek sehingga memudahkan proses operasi, minim resiko ketika dibedah, dan waktu sembuhnya juga lebih cepat.
aaa

wisdom teeth yang baru tumbuh,tampak masih unyu-unyu
wisdom teeth yang baru tumbuh, tampak masih unyu-unyu kan? lebih baik dicabut pada fase ini

aaa
Buat yang tidak melakukan itu di usia dini (biasanya soal beginian kita minim informasi, kan?), baru tahu infonya di pertengahan 20 atau usia 30-an, mending segera dicek ke dokter gigi dan ditangani sebelum sakit. Soalnya SUMPAH, nggak akan nemu sakit gigi macam itu deh seumur-umur, sakit gigi gara-gara bolong atau keropos sih masih bisa kebayang, tapi kalau gara-gara impaksi… duh: bau mulut udah pasti karena posisi wisdom teeth membuat celah yang memungkinkan sisa makanan terjebak disana lalu membusuk, efek lainnya adalah gigi senat-senut, migrain, telinga berdengung, pelipis sakit, leher sakit dan kaku, bahkan sampai demam… ampun deh, mending disuruh nikah sama Dewi Persik aja! #EH

Selain rasa sakit, resiko susulannya juga nggak enak, antara lain bisa terjadi: infeksi gusi (pericoronitis) yang kalau telat ditangani maka infeksinya akan nyebar ke tenggorokan atau leher, crowding atau gigi jadi berjejal-jejal nggak jelas karena terdorong sama si bungsu, gigi yang pas di depan geraham bungsu ini (second molar) juga bisa rusak syarafnya karena dia yang  terdorong langsung, kalau syarafnya sudah rusak mesti ada lagi perawatan khusus lagi di dokter gigi. Lalu bisa juga terjadi infeksi tulang, bahkan sampai kista dan tumor! (Nggak usah pake gambar ilustrasi lah, serem!)

Begitulah, jadi memang wajar kalau untuk kali ini saya nggak nunggu empat bulan lagi, tapi langsung memutuskan bedah sesegera mungkin begitu gejala di geraham kiri mulai terasa…

 

bersambung…
Cerita Impaksi 02: Operasi di RSGM
aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Kerudung Kamu Halal? Kalau Kamunya? #EH
Kemarin-kemarin sempat sebuah produk kerudung jadi trending topik yang lumayan rame, nama produknya nggak usah disebut disini lah, soalnya ntar disangka ngiklan—nggak dibayar pula buat promosi—sebab p...
Siapa Saya?
Kalau ditarik ke belakang, selama 5-7 tahun ini sebagian teman-teman mengenal saya sebagai filmmaker, sebagian lagi mengenal saya sebagai penulis (tapi juga jadi tidak relevan lagi karena novel terakh...
Jangan Tarik Saya Dulu
Ada saatnya kita ingin membuka lembaran baru, dan terkadang itu mengharuskan kita melepaskan tumpukan sampah masa lalu. Saya mulai paham soal itu sejak sebulan yang lalu. Tepatnya sejak saya menginjak...
Nenek Bebek Berkata...
Only boring people get bored! Itu yang nenek bebek pernah katakan, menyebalkan sekali. Perasaan bosan membuat berat semuanya, padahal pekerjaan yang menumpuk (apalagi mengerjakan hobi) harusnya bisa m...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?

  • 27/07/2016 at 17:32
    Permalink

    Ok..jadi tambah ilmu..berarti ada yang bisa kena impaksi atau tidak ya. Tergantung waktu kecil sudah di cabut belum wisdom teethnya

  • SiHendra
    29/07/2016 at 10:59
    Permalink

    atau… kalau rahangnya cukup sih ga akan masalah

Leave a Reply

Your email address will not be published.