Saat Persib “Mengoyog” Persija

Kejurnas PSSI musim 1960/1961, posisi klasemen pada pertandingan terakhir benar-benar membuat tegang. PSM Makassar ada di posisi paling atas dengan poin 10, Persib Bandung berdiri di posisi dua dengan 9 poin, dan Persija Jakarta ada di urutan ketiga dengan poin 8.

PSM memang ada di atas, namun jatah pertandingannya sudah habis. Sementara pertandingan terakhir justru dilakoni oleh Persija vs Persib. Maka ketika para pendukung PSM berharap pertandingan ini berakhir seri, justru The Jack dan Bobotoh sama-sama berdoa agar timnya menang, karena kemenangan satu gol saja sudah cukup bagi Persib untuk mengangkangi PSM. Hasil seri sangat tidak diharapkan, karena itu artinya Persib harus kembali ke kandang PSM untuk melakukan pertandingan lanjutan akibat “Tragedi Kuntandi”. Sebaliknya, jika Persija bisa melibas Persib maka mereka akan mendapat total poin 10 (Pada waktu itu tiap kemenangan hanya diberi angka dua), namun aturan menyebutkan Persija yang akan juara karena selisih gol mereka lebih baik ketimbang PSM.

Perlu dicatat, pada  dua musim sebelumnya Persib selalu penasaran karena terus menerus “nyaris” meraih piala. Pada musim 1958/1959 mereka ada di posisi tiga, Pada musim 1959/1960 posisinya membaik dan ada di urutan dua, ini membuat Persib berharap musim 1960/1961 posisinya lebih baik lagi… atau jadi juara. Hingga sebelum berangkat ke Semarang semangat “nista, maja, utama!” benar-benar disuntikkan ke tim Persib… sekali gagal masih bisa ditolerir, dua kali gagal masih bisa dimengerti, tapi tiga kali gagal namanya keterlaluan!

Dengan semangat itulah Persib melakoni pertandingan terakhir. Pertandingan ini diadakan pada tanggal 1 Juni 1961 di lapangan Diponegoro, Semarang. Saat itu Persib dilatih oleh Cornelles Tomasowa, pelatih asal Ambon yang menerapkan formasi 3-2-5. Di posisi kiper ada Simon Hehanusa, tiga bek di belakang diisi oleh: Sunarto Soendoro – Iljas Hadede – Ishak Udin, posisi dua gelandang bertahan diisi oleh: Rukma Soedjana dan Fatah Hidajat, posisi dua winger dilakoni oleh: Pietje Timisela dan Ade Dana, sementara trio penyerang Persib saat itu adalah: Wowo Soenaryo – Henky Timisela – Omo Soeratmo. (Jadi kalau sekarang Barcelona punya MSN, Persib punya WHO) dengan duet Wowo – Omo yang lebih difungsikan sebagai inner atau penyerang lubang.

Memang formasi ini sekarang tidak terlalu populer, tapi di era 60-an ini adalah formasi terkenal yang merupakan hasil “temuan” pelatih Arsenal, Herbert Chapman. Hebatnya Tomasowa, dia bisa membuat formasi ini jadi bergerak sangat dinamis di lapangan. Kadang saat menyerang, striker Henky Timisela bisa saja mendadak agak mundur, otomatis berperan sebagai gelandang serang sementara Wowo dan Omo yang jadi striker hingga tim jadi membentuk formasi 3-2-3-2 atau 3-5-2. Sementara saat tim perlu bertahan, winger Pietje dan Ade Dana bisa saja langsung mundur ke posisi wingback hingga tim membentuk formasi 5-3-2. Tapi kadang juga tidak ada yang berubah, tetap 3-2-5, semuanya perubahan berlangsung sesuai kebutuhan tim.

352 dioyog

Yang menarik, Persib saat itu dikenal sebagai tim yang bermain dengan “sederhana”, tapi kesederhanaan itu yang justru sering membingungkan lawan. Persib memiliki taktik penyerangan dasar yang disebut dengan “dioyog”…  saya membayangkan saat itu pasti sering sekali terdengar teriakan “bolana dioyog, jang!” tiap Persib menyerang

Beginilah pola dioyog itu terjadi: Pemain lini tengah akan menahan bola, melakukan sentuhan satu-dua sambil menunggu winger bebas. Setelah itu mereka melakukan umpan jauh ke ujung lapangan, ke arah winger, artinya bisa ke arah Pietje atau Ade Dana tergantung dari sisi mana serangan dibangun, atau winger mana yang bebas duluan. Setelah menerima bola, kedua winger itu tugasnya pun sederhana: memberikan umpan ke Henky Timisella atau ke salah satu dari dua inner yang merangsek ke depan. That’s it…

Sepintas tampak sederhana kan? tapi jelas kejelian Pietje serta Ade Dana dalam melakukan gerakan off the ball dan kemampuan melepaskan diri dari kawalan musuh lah yang membuat taktik “sederhana” ini berhasil.

Hasilnya? pada pertandingan tersebut, meski sempat kebobolan di menit ke ‘7 lewat gol Soetjipto Soentoro, namun dengan taktik ini Persib bisa membalikkan keadaan  3-1 lewat gol dari Wowo Sunaryo pada menit ‘12 dan ‘20, serta Hengky Timisela pada menit ‘23

Persija yang kebobolan dalam waktu singkat kaget, mereka mengubah pola permainan jadi passing to space, mengoper bola bukan dari kaki ke kaki tapi ke ruang-ruang kosong di antara pemain. Dengan taktik ini Persija mengajak para pemain Persib berlari-lari mengikuti gerakan mereka. Taktik ini jelas menguras stamina Persib, tapi ternyata mereka bisa bertahan. Gol Hengky Timisela di menit ’23 itu merupakan gol terakhir. Persib pulang ke Bandung membawa Piala PSSI sekaligus memupus dahaga 24 tahun tanpa piala. Para pemain Persib gembira, mereka mendapat bonus Rp 22,- dan satu stel pakaian yang diberikan langsung oleh manajer Persib saat itu, bapak Kolonel Adela.

Tapi ternyata setelah melewati berbagai perayaan dan syukuran, para pemain Persib hanya diberi istirahat tiga hari, karena mereka sudah harus langsung melakukan persiapan untuk turnamen Aga Khan 1962 di Pakistan… saat itu taktik “oyog” pun akhirnya bisa go international.[]

aaa
aaa

Sumber:
https://id.wikipedia.org
http://mangdien.blogspot.co.id
http://www.mengbal.com

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo
Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d'Or ini mengatakan: "... I tho...
Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen
Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan gr...
Catatan Euro #09: Inggris, Ibu yang Kesepian
Inggris adalah tanah air sepakbola, disanalah sepakbola pertama kali dilahirkan, maka Inggris bolehlah mengaku sebagai ibu yang melahirkan sepakbola. Namun sebenarnya Inggris adalah ibu yang kesepian,...
Catatan Euro #07: Mengapa Mereka Bertahan?
Mari kita bicara dengan data. Saat ini sudah dipastikan Islandia, Irlandia Utara, Italia, dan Slovakia lolos ke fase 16 besar. Kenapa kita sebut empat negara itu? Karena menurut statistik, empat tim i...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *