Catatan Euro #20: Jejak Air Mata di Stade de France

Pertandingan final adalah hakim yang tak kasat mata sekaligus eksekutor yang hadir berbalut kemeriahan sebuah pesta. Dia  hanya datang menjemput dua kesebelasan untuk memainkan pertandingan terakhir, dan dia sendiri juga yang akan mengadili keduanya dan memutuskan  siapa diatara dua kesebelasan itu yang boleh mendapatkan kebahagiaan akhir. Maka begitulah yang selalu terjadi pada sebuah final, dan begitu juga yang terjadi tadi malam di Saint-Denis.

Di stadion Stade de France, Perancis dan Portugal memainkan pertandingan akhir. Mereka bertarung mati-matian, memperebutkan sebuah bola, “menari” di atas jejak-jejak air mata, tak ada satupun diantara mereka yang ingin menangis disana, tak ada satupun dari mereka yang ingin menambah jejak-jejak air mata di atas hijaunya rumput Stade de France

Karena disana juga telah menetes deras air mata Sergio Ramos. Saat itu peluit panjangtelah ditiup, Spanyol kalah 0-2 dari italia, mereka harus pulang. Sergio Ramos terduduk lesu di lapangan, ban kapten masih melekat di tangannya, dengan nanar dia menatap pemain-pemain Italia berpelukan gembira, dia bertanya-tanya sendiri kenapa justru dia yang “diberikan jatah” untuk menjadi kapten justru saat era keemasan Spanyol berakhir? Sekejap kemudian dia menutupkan tangan ke telinganya, untuk sesaat dia tidak mau mendengar keriuhan stadion, dia ingin menjauh dari sepakbola, karena saat ini sepakbola yang sudah mengabrukkan perasaannya. Air matanya lalu kembali jatuh di rerumputan hijau. Meninggalkan jejak panjang.

Lalu tak lama, satu persatu teman-temannya datang memeluknya: David Silva, Cesc Fabregas, Andres Iniesta, wajah mereka semua pun diliputi kesedihan. Di wajah Fabregas sendiri masih ada sisa-sisa air mata yang tertinggal. Mereka semua adalah sisa-sisa kader Piala Eropa 2008, publik berharap mereka bermain indah seperti delapan tahun yang lalu. Tapi ternyata mereka sudah tidak cukup kuat mengusung gaya Spanyol, mengusung harapan publik. Mereka mati dalam kegamangan memainkan gaya sendiri.

Rerumputan hijau Stade de France juga bukan hanya tersiram air mata Sergio Ramos, disana  juga terkubur harapan Islandia. Seusai dihempaskan Perancis 2-5, kapten Aron Gunnarsson cuma bisa terduduk di lapangan. Jenggotnya yang merah dan tebal khas sekali dengan casing bangsa Viking yang dikenal tangguh, tapi biar bagaimanapun dia tetap manusia, dia tidak bisa menahan matanya yang basah.

Memang dia dan Islandia sudah menunjukkan kejutan yang luar biasa: mencegah Belanda datang ke Perancis, menahan Portugal, menekuk negara peringkat 10 FIFA: Austria, memulangkan Inggris, dan hampir saja bisa mencetak tiga gol ke gawang Perancis andai saja wasit mau mengakui handsball Patrick Evra di kotak penalti.

Aron tahu jika Islandia pulang, mereka tetap akan disambut meriah karena sudah mencapai prestasi di luar harapan fansnya. Tapi kekalahan tetap saja mendatangkan kesedihan. Kesedihan tetap  saja mendatangkan air mata, dan air mata Aron kembali menimbulkan jejak berikutnya di Stade de France

607136815_MH_2836_535560C00039990D4A5BADAD9B2A493B_3545

Lalu tadi malam di Stade de France kembali jatuh air mata, kali ini bukan hanya dari sebelas pemain Perancis, tapi dari sebagian besar isi stadion.

Adalah menit 91:54, kurang dari dua menit lagi wasit Mark Clattenburg akan meniup peluit, André-Pierre Gignac menggocek bola di kotak penalti Portugal, dengan dua kali sentuhan dia melewati Pepe dan langsung menendang bola. Kiper Rui Patricio sudah mati langkah, tapi ternyata bola sepakan Gignac hanya “mencium” tiang gawang Portugal.

Ironis. Karena seandainya saja bola itu masuk maka Perancis lah yang akan membawa pulang piala Henri Delaunay, tapi karena tendangan itu tidak masuk maka pertandingan harus memasuki babak perpanjangan waktu. Sialnya, pada perpanjangan waktu itulah—tepatnya di menit 109—Eder mencetak gol jarak jauh. Hanya sebelas menit lagi waktu tersisa, Perancis tidak tahu lagi harus bagaimana, kepanikan melanda seluruh tim, termasuk official di bangku cadangan. Mereka langsung bermain tanpa pola, yang ada di pikiran mereka hanya melemparkan bola kegawang secepat-cepatnya. Berharap keajaiban datang.

Tapi keajaiban itu tidak pernah datang kepada Perancis, maka yang terjadi adalah air mata kembali jatuh di Stade de France. Air mata kesedihan untuk Perancis, dan air mata kebahagiaan untuk Portugal.

“Saya telah mengambrukkan seluruh bangsa”, begitu kata Gareth Southgate dua puluh tahun yang lalu ketika dia gagal mengekseskusi penalti bagi Inggris di Piala Eropa 1996. Kali ini para pemain Perancis pun merasakan hal yang sama, mereka telah mengambrukkan perasaan seluruh negeri, yang berharap keberhasilan meraih Piala Eropa 2016 ini bisa tampil sebagai penyegar bagi perihnya luka-luka negara mereka yang saat ini sedang mengalami ketidakstabilan keamanan serta politik.

Demikian, pada sebuah pertandingan final memang bola tidak hanya tampil sebagai benda berkulit bundar yang ditendang kesana kemari, dalam bola itu juga terkandung ilusi, sebuah utopi sosial dan janji keselamatan. Dalam ilusi itu seluruh rakyat sebuah negeri mengkhayalkan saat merayakan kemenangan maka mereka semua akan bersatu dalam sebuah perasaan yang sama, yang kaya akan tertawa bersama yang miskin, serigala akan menyanyi bersama domba, dan kedamaian akan lahir menggantikan nasib yang kejam. Tapi bila takdir memang mengharuskan kebahagiaan tidak terwujud, akankan mereka mau bersatu dalam kesedihan yang sama? Dalam jejak-jejak air mata yang sama?

Lalu pada akhirnya ketika peluit sudah ditiup, tak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali mengucapkan selamat… kali ini selamat untuk Portugal, selamat juga untuk Perancis, tidak ada yang perlu disesali karena sebuah final akan datang berkali-kali. Hanya pemainnya saja yang akan berganti-ganti.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #04: Rusuh? Pulang!
Seriusan, saya kira lempar-lemparan flare dan pertandingan dihentikan gara-gara penonton rusuh cuma terjadi di Indonesia. Ternyata nggak! Di level Piala Eropa juga bisa lho. Contohnya tadi malam, per...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...
Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi
“Ecstasy” demikian harian L'Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah ...
Catatan AFCON #02: Tak Ada Lagi Keajaiban Untuk Mahrez
Seusai peluit panjang ditiup, Riyadh Mahrez memandang langit biru. Perasaannya campur aduk. Sejak awal situasi di grup B ini memang tidak menguntungkan bagi Algeria dan dirinya. Ditahan seri 2-2 oleh...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.