Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi

Ecstasy” demikian harian L’Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah menjadi ekstasi yang dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Perancis.

Apa saja efek penggunaan ekstasi? Pada tingkat awal yang terasa adalah perasaan gembira yang meluap-luap, perasaan nyaman, percaya diri meningkat dan rasa malu berkurang, serta meningkatnya rasa kedekatan dengan orang lain. Kini Perancis sedang merasakan itu semua, bukan hanya karena mereka lolos ke final, bukan cuma karena mereka mengalahkan favorit juara, Jerman. Tapi juga karena sebelas orang di lapangan itu sudah menunjukkan semangat juang dan tidak menyerah pada ketidakmungkinan.

Pada postingan sebelumnya, saya sudah menuliskan tentang l’im-possible atau ketidak-mungkinan, ini adalah konsep berpikir yang sama sekali berbeda dengan l’impossibilite yang bisa disebut dengan ketidakmungkinan. Dalam l’im-possible ada kata possible. Maka l’im-possible adalah bagaimana tentang melihat kemungkinan dalam situasi yang tidak mungkin, bagaimana melihat peluang dalam sebuah situasi terjepit, dan bagaimana memanfaatkan celah-celah kecil agar bisa lolos dari masalah besar.

l’im-possible? Perancis sudah menunjukannya pada kita semua tadi malam. Siapapun yang menonton pertandingan itu akan tahu bahwa tanpa dihitung pun sudah kelihatan kalau penguasaan bola Jerman lebih baik daripada Perancis. Kalau dilihat data statistik, catatan possession tigapuluh menit pertama saja sudah mencapai 76%-24% untuk Jerman. Jumlah passing juga beda jauh, sepanjang pertandingan Perancis “hanya” melakukan 250 kali operan, bandingkan dengan Jerman yang melakukan 319 operan HANYA di babak pertama saja.

Pelatih Jerman, Joachim Löw juga cuma bisa geleng-geleng kepala sambil merenggut saat jumpa pers, katanya: We dominated France, most of all in midfield, but for this goal we didn’t. We created pressure in the second half but there was always the danger on the counter

Memang benar, tadi malam Perancis lebih banyak melakukan serangan balik, tapi justru ini jadi tontonan menarik karena sebagai sebuah tim, sebenarnya Jerman sudah sangat solid dan sulit ditembus. Tapi Perancis bisa melihat possible dalam l’im-possible, Perancis bisa melihat celah-celah yang bisa dimanfaatkan justru saat Jerman sedang menekan.

Gol pertama murni kecelakaan Bastian Schweinsteiger, lagipula siapa juga yang bisa mengontrol handsball? Penalti juga berarti adu untung antara kiper dan penendang. Ternyata semalam, Antoine Griezmann beruntung, Manuel Neuer tidak. Tapi gol kedua adalah hasil dari kecerdikan pemain-pemain Perancis melakukan pressing pada Joshua Kimmich, pemain paling muda di kesebelasan Jerman. Di menit ’72 Kimmich jelas sudah lelah secara fisik, lelah secara mental, mungkin juga panik karena timnya tertinggal, apalagi saat itu waktu tinggal 15-20 menit lagi, lalu entah kenapa dia memutuskan “bermain stylish” di tengah kepungan lawan, dan di kotak penalti sendiri! Akhirnya bola berhasil direbut, dan Antoine Griezmann menceploskan gol kedua.

Jerman tertunduk, nyaris tidak mungkin mengejar skor, apalagi di bawah mistar Perancis juga masih berdiri Hugo Lloris yang melakukan total sembilan penyelamatan penting sepanjang pertandingan.

tabel perancis sekarang

Perancis tidak tertahan lagi untuk masuk final, para pakar pun serentak menjagokan mereka. Bukan hanya karena secara statistik Perancis lebih superior dari Portugal (Perancis 18 kali menang, sekali seri, dan baru 5 kali kalah, itupun terakhir kali mereka kalah di tahun 1975) tapi juga karena Perancis lebih sering mencatat prestasi saat jadi tuan rumah, antara lain: juara Piala Konfederasi 2003, Piala Eropa 1984, dan Piala Dunia 1998. Tercatat “baru” dua kali mereka gagal juara saat jadi tuan rumah: Piala Dunia 1938 dan Piala Eropa 1960. Selebihnya mereka juga dua kali mereka meraih gelar di “tandang”, yaitu juara Piala Eropa 2000 (diselenggarakan di Belanda dan Belgia) dan Piala Konfederasi 2001 (diselenggarakan di Korea Selatan dan Jepang).

Joachim Löw saja setuju pada prediksi itu, padahal timnya baru saja dilibas! Dia berkata: “I think France will win against Portugal – Portugal haven’t convinced me that much so far…”

Perancis menang, Portugal kalah… itu yang prediksi banyak orang tentang final di Stade de France nanti. Sampai-sampai koran lokal Marseille, La Provence memuat headline: “The city was drunk with happiness!”. Hmm… nanti dulu, belum waktunya mabuk kegembiraan. Masih ada pertandingan final, masih ada Brazilian Europe yang sudah menemukan formasi terbaiknya. Kalau Perancis terlalu larut dalam kegembiraan, mereka bisa tidak waspada, jangan-jangan justru Portugal lah nanti yang bertanding dengan semangat l’im-possible. Siapa tahu?[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen
Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan gr...
Catatan Euro #13: Revolusi Belgia
Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan seli...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan AFCON #03: Rival yang Bersalaman
Ivory Coast adalah juara bertahan Piala Afrika 2015, ketika itu mereka bisa menekuk Ghana dengan drama adu penalti yang sangat dramatis, bayangkan: skor akhir 9-8 dan harus diraih lewat penendang ke 1...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *