Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible

Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil.

Pementasan itu dilakukan di Paris, melibatkan 110 musisi dan dua konduktor. Sementara para musisi bermain, sebuah layar besar di belakang mereka menayangkan pertandingan perempat final Piala Dunia 1986 antara Perancis vs Brasil. Musik pun mengalun seirama dengan pertandingan yang sedang ditayangkan, jika pemain Brasil sedang membawa bola maka para musisi itu memainkan musik Amerika Latin yang disusun oleh Diemecke. Sementara jika pemain Perancis sedang menguasai bola maka mereka memainkan musik simponi yang diciptakan oleh Koering.

Pada awalnya saat ide ini muncul, Koering punya dua pilihan: apakah akan menayangkan perempat final Piala Dunia 1986 ataukah semifinal piala dunia 1982 antara Perancis vs Jerman? Karena kecuali skor akhir, kedua partai itu sangat sesuai dengan kriteria yang dicari oleh Koering: Sebuah pertandingan kesebelasan Perancis yang menunjukkan para pemainnya mengejar bola dengan sangat “gila” dan dramatis hingga menyerupai orang yang sedang mengejar cinta.

Pada pertandingan Perancis vs Jerman tahun 1982 itu skor di waktu normalnya adalah 3-3. Sementara di partai tahun 1986 skor waktu normalnya adalah 1-1. Keduanya pun dilanjutkan dengan drama adu penalti. Jadi kalau bicara “dramatis” harusnya Koering menampilkan partai tahun 1982 karena disanalah terjadi susul-menyusul skor dengan ketat. Namun dengan feeling seorang seniman, Koering memilih partai tahun 1986 karena di partai itulah Perancis menang, sementara di partai tahun 1982 ketika melawan Jerman, Perancis kalah.

“Pada intinya kami ingin membuat operan bernada western dimana akhirnya harus happy ending.” Begitu Koering memberi penjelasan.

Maka sebuah happy ending, itulah yang sebenarnya dicari setiap kesebelasan. Begitupun kesebelasan Perancis yang akan bertanding melawan Jerman di semifinal Euro 2016 ini. Tapi seberapa happy ending data sejarah memihak Perancis ketika melawan Jerman?

Agak sedikit sulit melacaknya karena Jerman vs Perancis adalah partai yang lebih sering keluar dari radar ingatan. Tidak heran karena di turnamen resmi pun mereka baru bertemu empat kali: perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1958, semi final Piala Dunia 1982, semi final Piala Dunia 1986, dan perempat final Piala Dunia 2014. Dari empat kali pertemuan itu Perancis baru sekali menang  dengan skor 6-3 di tahun 1958. Sisanya? Kalah adu penalti tahun 1982, kalah 0-2 tahun 1986, dan kalah 0-1 di tahun 2014

Sejarah pertemuan dengan Jerman di turnamen besar memang belum memihak Perancis, tapi jangan lupa… Perancis lebih sering mencatat prestasi saat jadi tuan rumah, antara lain: juara Piala Konfederasi 2003, Piala Eropa 1984, dan Piala Dunia 1998. Tercatat “baru” dua kali mereka gagal juara saat jadi tuan rumah: Piala Dunia 1938 dan Piala Eropa 1960. Selebihnya mereka juga dua kali mereka meraih gelar di “tandang”, yaitu juara Piala Eropa 2000 (diselenggarakan di Belanda dan Belgia) dan Piala Konfederasi 2001 (diselenggarakan di Korea Selatan dan Jepang).

tabel perancis

Melihat catatan statistik itu, jelas Perancis selalu bisa memanfaatkan posisinya sebagai tuan rumah. Termasuk kali ini saat menjadi host Piala Eropa 2016. Lagipula kondisi kesebelasan Perancis saat ini juga sedang bagus-bagusnya. Dalam 15 pertandingan internasional terakhir (sampai melawan Islandia kemarin) mereka baru sekali kalah 0-2 dari Inggris, itu pun dalam partai tandang di London. Maka dengan kekuatan seperti ini pasti mereka akan sangat mati-matian mengejar happy ending, seperti ending yang dimainkan orkestranya Koering.

Untuk sampai pada happy ending tersebut, salah satu yang harus mereka langkahi adalah Jerman, sebuah kesebelasan yang belum pernah benar-benar bisa mereka taklukan. Pertanyaannya tetap sama: akankah kali ini Perancis bisa menaklukkan Jerman dan meraih happy ending? Ataukah sebenarnya  happy ending itu hanyalah utopia?

Adalah tokoh post-modernisme Perancis, Jacques Derrida yang berpendapat bahwa kata Utopia harusnya tidak boleh lagi ada di pikiran kita. Karena itulah dia mengganti kata utopia dengan l’im-possible. Derrida sengaja menulis l’im-possible dan bukan l’impossibilite untuk membedakan konsep antara ketidak-mungkinan dengan ketidakmungkinan. Dimana secara singkat dia menjelaskan, bahwa dalam ketidak-mungkinan selau ada “kemungkinan”, dalam l’im-possible ada kata possible. Sementara konsep utopia tidak menyediakan ruang untuk sebuah kemungkinan, l’im-possible justru menyediakannya.

Begitulah, kesebelasan Perancis saat ini sedang berada dalam kondisi l’im-possible. Jerman memang lawan yang luar biasa sulit bagi mereka, sejarah selalu berpihak pada Jerman, tapi kondisi mental dan teknik kesebelasan Perancis yang sedang bagus-bagusnya, ditambah motivasi tinggi sebagai tuan rumah dan otomatis dukungan “gratis” dari orang satu negara membuat hadirnya Jerman ini justru harus memunculkan semangat tersendiri bagi Perancis untuk mengubah l’im-possible ini menjadi sesuatu yang possible.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo
Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d'Or ini mengatakan: "... I tho...
Catatan Euro #04: Rusuh? Pulang!
Seriusan, saya kira lempar-lemparan flare dan pertandingan dihentikan gara-gara penonton rusuh cuma terjadi di Indonesia. Ternyata nggak! Di level Piala Eropa juga bisa lho. Contohnya tadi malam, per...
Catatan Euro #08: Sindrom '90+
Dari 36 pertandingan di fase grup Piala Eropa 2016, total tercetak 69 gol. Itu artinya rata-rata ada 1,9 gol per partai. Beberapa orang akan beranggap ini adalah angka yang cukup tinggi, karena mendek...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...
Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi
“Ecstasy” demikian harian L'Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah ...
Saat Persib "Mengoyog" Persija
Kejurnas PSSI musim 1960/1961, posisi klasemen pada pertandingan terakhir benar-benar membuat tegang. PSM Makassar ada di posisi paling atas dengan poin 10, Persib Bandung berdiri di posisi dua dengan...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.