Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus

Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali ini, dan “lucunya”, kemenangan ini malah langsung mengantarkan mereka masuk final, kini mereka tinggal menunggu hasil antara Jerman vs Perancis.

Kemenangan pada partai keenam ini sekaligus menjawab berbagai kritik yang seolah sudah jadi “makanan” mereka, terutama sekali kritik sebagai kesebelasan yang menganut paham “asal aman”, dilihat dari lima kali bertanding, lima kali seri yang itupun—bukan bermaksud meremehkan lawan—hanya dicapai saat melawan Islandia, Austria, Kroasia, dan Polandia. Lalu entah kalau diperhatikan, tim yang mendapat judulan Brazilian Europe ini seperti tercengkram dalam stigma “boros” dan tidak efektif.

Bagaimana tidak, dari lima pertandingan (hingga perempat final) hanya 6 gol berhasil dicetaknya, gol-gol itu didapat dari 72 kali tendangan. Berarti efektifitas mereka hanya sekitar 8,3%. Angka yang cukup rendah untuk tim seperti Portugal. Bandingkan dengan tim “anak bawang” Islandia yang sampai perempat final sudah bisa mencetak 8 gol, dan itu semua dicetak ke gawang-gawang tim sekelas: Portugal, Inggris, atau Perancis “hanya” dengan 35 tembakan, berarti tingkat efektifitasnya 22%

Tapi seperti yang dikatakan oleh Cristiano Ronaldo pada wartawan: Maybe it didn’t start as we wanted to but this is not a 100m race. This is a marathon. Ya, ini bukan lari jarak pendek, ini maraton yang waktunya panjang. Artinya pada sebuah turnamen, sepanjang tim itu masih berkompetisi di dalamnya maka masih mungkin dilakukan berbagai perubahan.

Heraclitus, seorang filsuf Yunani pernah mengatakan perubahan adalah sebuah keniscayaan yang terus terjadi di setiap waktu di sepanjang zaman. Dalam ilmu manajemen juga dikenal dua jenis perubahan, yaitu: perubahan yang direncanakan dan perubahan yang dipaksakan. Perubahan yang pertama menunjukkan kesiapan untuk berubah, sedangkan yang kedua memaksa seseorang berubah dengan segala risiko yang harus dihadapi. Keduanya tidak ada yang benar atau salah, kadang sebuah tim, organisasi, atau kelompok memerlukan perubahan yang direncanakan, kadang memerlukan perubahan yang dipaksakan, terutama jika situasi sudah kritis dan resikonya adalah “kapal itu akan karam”

Dalam sebuah turnamen panjang, pembenahan yang berujung pada stabilitas tim adalah sesuatu yang biasa. Beberapa contoh saja: Italia di Piala Dunia 1990 memulai start dengan duet lini depan Gianluca Vialli – Andrea Carnevale, tapi di akhir turnamen duet lini depan mereka sudah berubah jadi Toto Schillaci – Roberto Baggio. Piala Eropa 1980 saat Jerman juara Piala Eropa, di fase grup mereka memasang libero Bernhard Cullmann dan regiseur lapangan tengah Felix Magath, tapi di di fase-fase akhir hingga final liberonya berubah menjadi Uli Stielike dan regiseur-nya Bernd Schuster.

Di Piala Eropa 1992 Jerman juga memulainya tidak dengan bagus: kalah 0-1 dari Wales, menang tipis 3-2 lawan “kurcaci” Luxemburg, kalah 0-1 dari Italia, seri 1-1 lawan Cekoslovakia, menang tipis 1-0 dari Turki, dan seri lagi 1-1 lawan Irlandia Utara.  Saat itu duet lini tengah mereka adalah Andreas Moller dan Manfred Binz, tapi di fase knock out hinggga final posisi tersebut diisi oleh Mathias Sammer dan Thomas Helmer.

Football Soccer - Hungary v Portugal - EURO 2016 - Group F - Stade de Lyon, Lyon, France - 22/6/16 Portugal's Cristiano Ronaldo shakes hands with Joao Mario after the game REUTERS/Kai Pfaffenbach Livepic
REUTERS/Kai Pfaffenbach

Begitu juga yang terjadi dengan Portugal di Piala Eropa 2016 ini. Kita ingat dua pilar lini belakang Portugal pada fase-fase penyisihan grup diisi oleh Ricardo Carvalho dan Veirinha, tapi sejak fase knock-out posisi itu dipercayakan pada Cedric Soares dan Jose Fonte. Begitu juga posisi kunci di lini tengah, pada awal turnamen dipegang oleh Andre Gomes dan Joao Moutinho, namun dalam dua pertandingan terakhir sudah dipercayakan pada duet Renato Sanches serta Adrien Silva.

Namun, sebuah perubahan tidak selalu mendatangkan hasil positif, kadang sebuah perubahan malah membuat efek yang negatif. Contoh terbaik adalah Inggris, di partai pembuka Piala Eropa ini mereka hanya bisa seri 1-1 lawan Rusia, tapi mereka menurunkan line-up yang sama saat melawan Wales dan bisa menang 2-1 berkat gol injury time, tidak apa-apa… yang penting menang, dan tim tampak sudah mulai kompak, orang-orang melihat Inggris sudah mulai menemukan winning tactic. Harapan mereka adalah semoga di pertandingan ketiga, tim sudah lebih padu dan gol-gol lebih mungkin tercipta.

Maka jelas semua kaget ketika melawan Slovakia, Roy Hodgson malah melakukan enam perubahan. Mengistirahatkan pemain boleh-boleh saja, tapi apa harus sampai memecah lagi winning team yang sudah terbentuk? Salah satu yang dipertanyakan adalah tidak memasang duet lapangan tengah Dele Alli dan Wayne Rooney, namun menggantinya dengan Jack Wilshere dan Jordan Henderson yang malah menjadi titik lemah. Inggris hanya bisa seri 0-0, @90min_Football pun mengatakan: perubahan yang dilakukan oleh Roy Hogdson tidak berefek apa-apa “Played the exact same game they did vs Russia. Dominant, but no cutting edge.“

Untungnya, sejauh ini perubahan yang dilakukan oleh pelatih Fernando Santos tampak berhasil . menurut data statistik, di awal turnamen—saat melawan Islandia—Portugal hanya mencatat efektifitas tembakan sebesar 5,5%, bahkan anjlok ke 0% saat melawan Austria. Tapi di pertandingan melawan Kroasia tingkat efektifitas mereka sudah menjadi 20%, dan tadi malam saat melawan Wales ada di kisaran 12%. Suatu perubahan yang nyata, dan angka ini masih mungkin membaik di partai final jika pelatih Santos bisa konsisten menemukan ide-ide baru untuk kemajuan timnya.

Menyingkapi kemajuan ini, Cristiano Ronaldo berkomentar: “It’s better to start poorly and have a positive ending, It’s what we have dreamt of since the beginning. We knew it would be a long road and we’re still in the tournament. We have believed right from the start. We haven’t won anything yet as I said a few days ago, but the dream is still alive.”

Lebih baik berangkat dari zero ke hero daripada sebaliknya dan tetap memelihara mimpi… begitu kan, mas Ron?[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Nonton "IL POSTINO": Ide Ceritanya Bagus...
Oke, sebelumnya lebih baik kita tahu dulu, siapa itu Pablo Neruda. Menurut catatan sejarah, Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 nama aslin...
Catatan Euro #08: Sindrom '90+
Dari 36 pertandingan di fase grup Piala Eropa 2016, total tercetak 69 gol. Itu artinya rata-rata ada 1,9 gol per partai. Beberapa orang akan beranggap ini adalah angka yang cukup tinggi, karena mendek...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...
Saat Persib "Mengoyog" Persija
Kejurnas PSSI musim 1960/1961, posisi klasemen pada pertandingan terakhir benar-benar membuat tegang. PSM Makassar ada di posisi paling atas dengan poin 10, Persib Bandung berdiri di posisi dua dengan...
Catatan AFCON #03: Rival yang Bersalaman
Ivory Coast adalah juara bertahan Piala Afrika 2015, ketika itu mereka bisa menekuk Ghana dengan drama adu penalti yang sangat dramatis, bayangkan: skor akhir 9-8 dan harus diraih lewat penendang ke 1...
Catatan AFCON #05: Pembuktian Kamerun
Kemenangan Kamerun atas Senegal tadi bukan hanya bermakna selembar tiket ke semifinal, tapi lebih jauh dari itu juga memperebutkan sebuah nama baik di dunia sepakbola. Kamerun adalah tim kuda hitam d...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.