Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia

Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kita punya harapan maka kita bisa terus hidup. Tapi ketika harapan itu sudah hilang maka apa bedanya kita dengan orang mati? Begitu juga cara hidup kesebelasan Islandia, setiap hari mereka menyambungkan satu harapan ke harapan lain, dengan itu juga mereka bisa pun menapaki tangga-tangga Piala Eropa 2016 hingga perempat final

Semalam perjuangan Islandia berhenti di tangan tuan rumah, kekalahan 2-5 di Stade de France membuat mereka harus mengemas koper dan melupakan semifinal. Setelah pertandingan, pemain tengah Birkir Bjarnason berkata pada wartawan: “Saya tidak berpikir siapapun akan berharap kami melangkah sejauh ini. Kita sudah masuk ke turnamen yang hebat, dan bermain dengan sangat bagus.”

Sementara itu pemain  depan Alfred Finnbogason memberi perumpamaan yang tepat: “Kita sudah meletakkan Islandia di peta dunia!”

Saat Islandia berhasil menahan laju Belanda di babak kualifikasi dan menahan Portugal di pertandingan pertama, orang masih menimpakan hasil itu pada kesalahan Belanda dan Portugal sendiri. Tapi lalu mereka bisa menahan Hungaria, tim dengan peringkat 20 FIFA, bahkan mengalahkan Austria yang ada di peringkat 10. Orang pun mulai mencari-cari Islandia di peta. Sampai puncaknya ketika mereka sukses memulangkan Inggris. Orang-orang mulai terkejut, calon-calon lawannya mulai sadar bahwa Islandia tidak bisa dipandang enteng.

We lived the dream”, demikian pula kata legenda Islandia, Eidur Gudjohnsen.  Memang Islandia hadir di turnamen ini dengan mimpi memberi debut yang manis, bukan hanya tim pelengkap penggembira. Mimpi itu berhasil. Lalu seiring dengan hasil-hasil positif, mimpi mereka pun kian membesar. Tapi seperti kata Gudjohnsen juga: “…but all dreams come to an end.

Ya, semalam mereka terbangun, gol-gol dari Olivier Giroud, Paul Pogba, Dimitri Payet, serta Antoine Griezmann membuat mereka kembali sadar bahwa sebuah mimpi hanya terjadi untuk sementara. Setelah bangun, siapapun harus kembali menjalani hidup yang keras. Tapi selama mereka memelihara harapan, publik pasti akan melihat lagi Islandia di turnamen-turnamen berikutnya.

Sjáumst aftur, Ísland!

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #01: Apa Gunanya Pemain Tua?
Kalau ada jin dari lampu Aladdin yang bisa mengabulkan permintaan tapi cuma memberi pilihan antara: jadi pemain sepakbola kelas dunia atau musisi kelas dunia, saya yakin--jika kriteria pertimbangannya...
Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo
Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d'Or ini mengatakan: "... I tho...
Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.