Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman

Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang paling mendapat sorotan. ”Setengah isi dunia telah menertawakan kita, dan setengahnya lagi sudah menghilangkan respek mereka pada kita” Begitu kata Steffan Effenberg, dedengkot bola Jerman.

Para politisi pun resah melihat gejolak yang timbul di masyarakat gara-gara kekalahan itu, karena nyatanya dampaknya jauh lebih luas daripada “sejarah” kekalahan Jerman dari Korea Selatan (19 Desember 2004), Slovakia (September 2005), atau Turki (September 2005). Dari jajaran politisi, para petinggi partai Uni Kristen Demokratik (CDU), Sosial Demokrat (SPD), dan Uni Kristen Sosialis (CSU) adalah pihak-pihak yang paling ngotot untuk meminta pertanggungjawaban Klinsmann. Sekadar informasi, CDU adalah partainya Angela Merkel dan SPD serta CSU adalah koalisi setianya.

Menurut Norbert Barthle, anggota partai CDU “Ada baiknya herr Klismann datang ke parlemen untuk menjelaskan konsep manajerialnya dan bagaimana Jerman akan menjuarai Piala Dunia? Dia harus ingat pemerintah adalah sponsor terbesar Piala Dunia.”

Hal itu diamini oleh Reinhold Hemker dari partai SPD “Piala Dunia adalah kepentingan nasional. Dia harusnya menghentikan eksperimen dan memberi tahu komisi olahraga tentang semua rancangan timnya.”

Wajar jika gejolak ini terjadi karena bagi Jerman, melawan Italia berarti mempertaruhkan gengsi. Apalagi sejarah mencatat  Italia selalu jadi lawan yang paling disegani oleh Jerman. Rekor kalah-menang Jerman “sangat jeblok” di depan Italia. Dari 33 kali pertemuan, Jerman baru bisa menang 8 kali, dan merasakan kalah 15 kali. Bahkan untuk menebus kekalahan di Firenze itu saja Jerman perlu waktu sepuluh tahun dengan melewati dua kepahitan: dihajar 0-2 di semifinal Piala Dunia (4 Juli 2006) dan ditekuk 1-2 di semifinal Piala Eropa (28 Juni 2012), sampai akhirnya kemarin mereka bisa mengalahkan Italia dengan skor sama, 4-1 di Munich tanggal 29 Maret 2016, di sebuah pertandingan persahabatan.

Maka bagi Jerman, melawan Italia bukan pekerjaan enteng. Padahal jika dilihat sekilas mereka tampak lebih “mentereng”, Jerman 4x juara dunia (1954, 1974, 1990, 2014), dan 3x juara Eropa (1972, 1980, 1996). Italia sama-sama  4x juara dunia (1934, 1938, 1982, 2006) tapi baru sekali juara Eropa (1968). Meskipun begitu, rasa minder itu selalu saja ada.

Rasa minder itu antara lain muncul karena Jerman sebenarnya pernah “belajar” sepakbola pada Italia. Dulu di Jerman sempat ada istilah Italianer, istilah itu ditujukan pada pemain Jerman yang bermain di Italia. Percaya tidak percaya, skuad Jerman di Piala Dunia 1990, Piala Eropa 1992, dan Piala Dunia 1994 sebenarnya dipenuhi oleh para Italianer, seperti: Andreas Brehme (Inter Milan), Rudi Völler (AS Roma), Lothar Matthäus (Inter Milan), Thomas Berthold (AS Roma), Jürgen Klinsmann (Inter Milan), Stefan Reuter (Juventus), Jürgen Kohler (Juventus), Thomas Häßler (AS Roma), Thomas Doll (Lazio), Karl-Heinz Riedle (Lazio), Andreas Möller (Juventus), dan Stefan Effenberg (Fiorentina)

Para Italianer itu mengakui bahwa ilmu yang mereka dapat di Italia bisa dipakai untuk menajamkan permainan tim nasional Jerman, dan hasil penggabungan ilmu dari Italia dengan gaya Jerman itu juga tidak mengecewakan: Juara Dunia 1990, runners-up Eropa 1992, perempat final Piala Dunia 1994.

Tapi di skuad kali ini Jerman tidak diisi oleh para Italianer lagi. Paling hanya Sami Khedira yang masih main di Italia (Juventus), sisanya tersebar di Spanyol, Inggris, Turki, dan tentu saja pemain-pemain liga sendiri. Jerman juga tampak lebih percaya diri, keberhasilan balas dendam  4-1 itu memiliki efek yang bagus untuk mengembalikan rasa percaya diri mereka di depan Italia.

2925002

Lalu pertanyaannya tetap sama: apakah Italia punya kans untuk menang lawan Jerman?

Pelatih Italia Antonio Conte menjawab pertanyaan itu dengan pandangan yang lebih luas. Menurutnya: We started our journey in this EURO competition and had very little credibility in the eyes of the Italian press and the international media. Everyone thought it was dark days for us. We had to do something extraordinary against Spain and have to do something truly extraordinary…

Ya, memang Italia datang ke Piala Eropa 2016 ini dengan pandangan pesimis dari beberapa pihak, apalagi usai kekalahan 0-1 dari Irlandia di grup E. Tapi keberhasilan mereka melumat Spanyol 2-0 membuat banyak pihak waspada lagi, termasuk Jerman. Apalagi Italia sudah membuktikan bahwa mereka adalah negara yang justru bisa berprestasi di tengah krisis, dan lucunya—kecuali di era 1930-an, ketika itu Jerman memang belum kuat—dimana Italia berprestasi, pasti disana Jerman jadi korban.

Misalnya: Italia merebut Piala Dunia 1982 dengan terseok-seok di awal, ketika itu mereka tidak meyakinkan di babak kualifikasi (hanya ada di urutan dua, dibawah Yugoslavia), di babak grup juga hanya bisa tiga kali seri (mirip Portugal sekarang) dengan cuma mencetak 2 gol saja, padahal lawan yang dihadapi juga “cuma” Peru, Polandia, dan Kamerun. Tapi di luar dugaan, pada babak knock-out mereka bisa memulangkan Argentina (2-1), Brazil (3-2), dan di final melibas JERMAN  (3-1).

Lalu Piala Dunia 2006. Mereka datang dengan bayang-bayang kasus calciopoli. Liga Italia saat itu sedang jadi sorotan dunia, pemain-pemain yang dibawa ke turnamen itupun memilih bersikap nothing to lose karena mereka semua sedang stress akibat kasus di negaranya sendiri. Di babak grup mereka bisa duduk di puncak meski sempat ditahan 1-1 oleh tim “anak bawang” USA. Lalu setelah memulangkan Australia dan Ukraina, mereka bertemu JERMAN di semifinal. Tim Panzer itu pun dihajar 2-0, dan di final mereka menang adu penalti lawan Perancis. Partai yang selalu diingat orang karena ada insiden tandukan Zidane.

Pendeknya, Italia selalu bikin masalah bagi Jerman setiap mereka bertemu di turnamen besar.  Tidak peduli prestasi mentereng, tidak peduli peringkat liga lebih bagus, Jerman tampaknya tetap merasa minder pada “mantan gurunya” ini. Jadi, hati-hati Jerman, sekarang ada Italia di depanmu.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #10: Arrivederci atau Adiós?
Olympic Stadium, Kiev, 1 Juli 2012, pemain-pemain Italia sudah tidak bisa mengangkat mukanya lagi untuk melihat papan skor. Mereka habis dibantai 0-4 oleh Spanyol lewat gol dari Silva, Jordi Alba, Fer...
Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan
Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...
Sampdoria, Seperti Biasa
Sudah lama nggak nulis soal Sampdoria... tentu karena Serie A belum jalan, tapi tadi malam giornata pertama pun sudah mulai dan Sampdoria mengawalinya dengan manis setelah menekuk Empoli 1-0 di kandan...
Catatan AFCON #01: Hingar Bingar yang Tak Terdengar
Apakah di Indonesia ada yang tahu kalau sekarang sebenarnya sedang berlangsung gelaran Piala Afrika di Gabon? Mungkin kalau para wartawan sport, pandit football, atau praktisi sepakbola sih tahu ya, k...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.