Catatan Euro #14: Dewi Fortuna dan Kekasih Baru

Ada banyak kejadian unik di Piala Eropa kali ini, salah satunya adalah Cristiano Ronaldo yang melemparkan mikrofon wartawan CMTV ke danau (untung tidak dengan wartawannya sekalian). Menurut gosip, katanya itu karena CMTV terlalu “cerewet” menanyakan pencapaian Ronaldo di Euro 2016, tapi ada juga yang bilang kalau Ronaldo marah karena CMTV pernah mengangkat berita yang mengorek-ngorek kehidupan pribadinya.

Bisa jadi akar masalahnya di faktor kedua. Ya, memang untuk apa mengorek-ngorek  kehidupan pribadi seseorang? Tapi mungkin salah satu hal yang jadi alasan Ronaldo adalah karena dia tidak mau kali ini CMTV bisa mengendus keberadaan pacar barunya. Tapi lambat laun—seperti menyimpan bangkai—publik sekarang sudah tahu siapa kekasih baru Ronaldo.

Namanya Dewi Fortuna. Namun sepertinya… Dewi Fortuna ini bukan hanya kekasih Ronaldo, tapi dia tampaknya menjadi kekasih seluruh tim nasional Portugal. One girl? Eleven man? What a slut, #EH

Bagaimana tidak? Faktanya: lima pertandingan, Portugal belum pernah menang! Dalam waktu normal 2×45 menit mereka selalu mencatat hasil seri. Tapi toh: de facto mereka ada di semifinal. Publik pun bertanya-tanya, Bagaimana bisa tim yang selalu seri tapi bisa merengkuh babak semifinal? Mereka bisa lolos ke fase gugur pun “hanya” karena ada aturan peringkat tiga terbaik, di babak 16 besar mereka menang di perpanjangan waktu lewat sebuah bola rebound, lalu di perempat final mereka “cuma” menang lewat adu penalti

Sebenarnya harapan publik sangatlah logis: biarkan Portugal menang asal mereka bermain dengan cemerlang sesuai dengan tuntutan Piala Eropa level semifinal, tapi yang terlihat di lapangan, Portugal adalah tim yang bermain defensif dan mengandalkan rumus “asal selamat”. Hilanglah sudah julukan “European Brazil” yang disematkan ke mereka di awal 2000-an. Ketika itu dengan diperkuat seniman-seniman lapangan macam Luis Figo, Paulo Sousa, Deco, Rui Costa, atau Nuno Gomes mereka memainkan sepakbola yang atraktif dan menarik.

Kini bukannya tidak ada, sekarang mereka juga punya ahli-ahli bola namanya Nani, Cristiano Ronaldo, João Moutinho, atau Ricardo Quaresma, mereka pemain-pemain andalan di klub masing-masing. Masalahnya, yang mereka peragakan adalah permainan yang jauh dari level kebintangan mereka.

Misalnya pada permainan melawan Polandia semalam, yang sering terjadi adalah mereka selalu “melemparkan” bola ke kotak penalti lawan dan berharap disana terjadi sesuatu, entah bola diterima Ronaldo, atau terjadi pelanggaran. Ini juga bukan jenis lain dari kick ‘n rush yang jadi trademark Inggris, karena Portugal seolah hanya bermain dengan tiga kosakata: go, kick, dan f*ck.  Go! Pertandingan dimulai, Kick-lah bola kedepan, dan jika bola berhasil disapu atau direbut lawan mereka tinggal memaki f*ck!

Dengan strategi  seperti itu maka tidakkah harusnya publik—kecuali pendukung Portugal—harusnya merasa jengkel pada tim yang sebenarnya keropos tapi selalu dihinggapi Dewi Fortuna ini?

Football Soccer - Hungary v Portugal - EURO 2016 - Group F - Stade de Lyon, Lyon, France - 22/6/16 Portugal's Cristiano Ronaldo shakes hands with Joao Mario after the game REUTERS/Kai Pfaffenbach Livepic
REUTERS/Kai Pfaffenbach

Atau masih ada yang berpegang pada filsafat “Bola Itu Bundar”? Ungkapan itu pernah jadi tantangan bagi para filsuf untuk merefleksikan hidup. Filsuf Jerman, Martin Heidegger pernah merenungkan ini dan akhirnya berkata: “Hidup ini sungguh dikuasai oleh hal-hal yang kebetulan, semua kejadian hidup ini banyak ditentukan oleh kebetulan mutlak.” Dengan mengungkapkan hal ini Heidegger sebenarnya ingin berkata bahwa dasar pemikiran manusia itu pada hakikatnya terbuka pada berbagai hal, bahkan juga tidak bisa menghindar dari hukum kebetulan.

Pemikiran ini dikritik—atau setidaknya, dijelaskan ulang dan dipertajam–oleh Paul Feyerabend. Menurutnya, (memang di dunia ini ada faktor kebetulan, tapi) percaya pada “kebetulan mutlak” hanya akan mebimbing pengetahuan manusia menjadi anarkis, dan pemahaman akan “semua itu mungkin terjadi” itu adalah sebuah irasionalitas kebetulan mutlak

Bila pemahaman Feyerabend ini diperspektifkan kepada sepakbola maka frase bola itu bundar tidak benar-benar bisa diterapkan. Memang benar semua mungkin terjadi, artinya karena bola itu bundar maka kesebelasan keropos seperti Portugal pun tetap punya hak untuk menang. Namun percaya pada kebetulan mutlak jadi malah membuat kegembiraan Cristiano Ronaldo, dkk lama-lama malah jadi terlihat irasional, antara lain karena keuntungan yang datang padanya tampak terlalu bertubi-tubi. Kalau memang sepakbola pada akhirnya menjadi arena adu untung, maka lebih baik kita bermain rollet russia saja

Tapi bukankah Sigmun Freud pernah berkata “There’s no accident”? Intinya, tak ada kebetulan murni di dunia ini. Karena setiap kebetulan adalah “kebetulan yang bukan kebetulan”. Dalam hal ini Psikolog Swiss, Carl Jung, menyebutnya dengan istilah sinkronisitas. Jung berpendapat sinkronisitas adalah prinsip sebab-akibat dalam alam semesta, hukum yang menggerakkan umat manusia menuju pertumbuhan kesadaran yang lebih besar. Sinkronisitas bisa dirasakan ketika manusia bersikap mistis dalam keseharian seperti dimaksudkan Heidegger. Sinkronisitas adalah kesadaran tentang bagaimana hal-hal Ilahi terjadi dalam kehidupan kita. Dalam sinkronisitas terjadi penyatuan antara transendensi dan imanensi. Tuhan tidak mengawang-awang di atas sana, melainkan hadir melalui kebetulan-kebetulan di keseharian. Kebetulan yang sejatinya merupakan jawaban atas doa kita.

Ini artinya manusia mesti terlebih dulu membuat keputusan mengenai arah hidup dan selanjutnya peka terhadap kebetulan-kebetulan yang menuntun pada arah yang dituju.

Baiklah, There’s no accident, kalaupun Portugal sekarang ada di semifinal maka itu harusnya merupakan buah dari usaha mereka.  Ternyata 6 gol dari 95 kali percobaan menembak ke gawang sepanjang turnamen ini sudah tercatat sebagai usaha yang bagus dari Dewi Fortuna.  Namun publik tetap menunggu, mana yang lebih dulu terjadi: Portugal memperbaiki permainan seperti layaknya semifinalis, atau Dewi Fortuna yang berhenti tersenyum pada kekasih barunya?[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #01: Apa Gunanya Pemain Tua?
Kalau ada jin dari lampu Aladdin yang bisa mengabulkan permintaan tapi cuma memberi pilihan antara: jadi pemain sepakbola kelas dunia atau musisi kelas dunia, saya yakin--jika kriteria pertimbangannya...
Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #09: Inggris, Ibu yang Kesepian
Inggris adalah tanah air sepakbola, disanalah sepakbola pertama kali dilahirkan, maka Inggris bolehlah mengaku sebagai ibu yang melahirkan sepakbola. Namun sebenarnya Inggris adalah ibu yang kesepian,...
Catatan Euro #12: Garis Batas Sang Matador
Seorang penyair Spanyol, Federico García Lorca pernah berkata: Spanyol adalah satu-satunya tanah dimana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian. La Muerte! Karena itulah mentalitas bangsa S...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...
Catatan AFCON #05: Pembuktian Kamerun
Kemenangan Kamerun atas Senegal tadi bukan hanya bermakna selembar tiket ke semifinal, tapi lebih jauh dari itu juga memperebutkan sebuah nama baik di dunia sepakbola. Kamerun adalah tim kuda hitam d...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.