Catatan Euro #13: Revolusi Belgia

Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan selisih skor itu tampak kembali menghangatkan Piala Eropa 2016 yang seolah terikat dengan minimnya kreatifitas dan jumlah gol.

Bukan hanya soal angka, proses kemenangan Belgia itu pun diraih dengan formasi menyerang yang aktraktif. Pada pertandingan itu pelatih Belgia, Marc Wilmots memasang formasi 4-2-3-1; “Dengan formasi itu saya memainkan empat pemain depan dengan dua gelandang bertahan untuk menjamin minimnya resiko di garis belakang.” Sebuah strategi yang berani dan seimbang.

Apa yang dilakukan Belgia adalah sebuah revolusi, karena pada era 90-an mereka tidaklah bermain seperti itu. Tradisi Belgia adalah bermain defensif dengan membuat blokade kolektif ecara ekstrem dan lugas sehinga bisa habis-habisan merusak formasi serangan lawan. Gaya defensif yang kadang membosankan, tapi toh dengan gaya seperti itu mereka bisa meraih juara tiga di Euro 1972, runners-up di Euro 1980, posisi empat Piala Dunia 1986, dan perempat final Piala Dunia 2014.

Belgia juga menjelma jadi kuda hitam bagi tiap tim unggulan. Mereka punya rival abadi yaitu Belanda dan Perancis. Dua negara sepakbola, dua negara yang rajin memproduksi pemain-pemain berkualitas. Tapi nyatanya, hasil yang dicapai Belgia saat melawan keduanya tidaklah memalukan, setidaknya kalau diukur bahwa sampai sekarang Belgia tidak pernah benar-benar dianggap sebagai barometer perkembangan sepakbola Eropa.

Head to head Belgia saat melawan Perancis sungguh bagus. Dihitung sejak pertandingan pertama tanggal 1 Mei 1904 – 7 Juni 2015, Belgia sudah mengantongi:  30 kali menang, 19 seri, dan “hanya” 24 kali kalah. Bahkan pada babak kualifikasi Piala Dunia tahun 1981, mereka berhasil mengalahkan Perancis 2-0. Padahal saat itu Perancis masih diperkuat pemain legendaris Michel Platini.

Melawan Belanda? Ini lebih menarik lagi, di dunia sepakbola pertemuan kedua negara ini sering disebut sebagai “Low Countries Derby”. Total dari 126 kali pertemuan sejak 30 April 1905, Belgia “baru kalah” 56 kali dan bisa menang 41 kali sementara sisanya berakhir seri. Mereka berhasil menjebol gawang Belanda 218 kali dan kebobolan 278 kali. Bukan selisih angka yang buruk mengingat lawan yang dihadapinya adalah negara bola seperti Belanda.  Belgia pun setidaknya sudah dua kali membuat “luka besar” dalam sejarah persepakbolaan tim keju.

Kenapa bisa? Oke, pertanyaannya: Siapa yang beturut-turut menggagalkan Belanda lolos ke Piala Dunia 1982 dan 1986? Jawabannya adalah: Belgia. Di babak kualifikasi Grup 2 Piala Dunia 1982, Belanda menderita tiga kekalahan di Grup 2, salah satunya adalah 0-1 dari Belgia. Akhirnya dari Grup 2 hanya Perancis dan Belgia lah yang berangkat ke Spanyol

Tapi sebenarnya yang paling menyakitkan adalah di babak play-off Piala Dunia Meksiko 1986. Waktu itu Belanda sedang kuat-kuatnya, di tim mereka ada nama-nama legendaris macam Wim Kieft, Willy van der Kerkhof, Hans van Breukelen, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten. Tapi entah kenapa dengan tim seperti itu mereka harus ada di posisi 2 babak kualifikasi? Padahal mereka “hanya” satu grup dengan negara semacam Hungaria, Austria, dan Siprus. Akibatnya mereka harus mau melakoni babak play-off, tapi ternyata lawan yang dihadapinya adalah Belgia!

Pada pertemuan pertama di Anderlecht Belanda kalah 0-1 lewat gol Frankie Vercauteren. Tidak apa-apa, masih ada pertemuan kedua di kadang sendiri. Saat pertemuan kedua di Rotterdam pun semua tampak berjalan baik, hingga mendekati akhir pertandingan Belanda masih memimpin 2-0, tapi mereka lengah, menit ’85 Eric Gerets memberi umpan yang “dimakan” oleh Georges Grun. Skor 2-1, Belgia unggul aggregate dan berangkat ke Meksiko. Hari itu seusai pertandingan wartawan melihat Ruud Gullit sedang menangis di lorong ganti.

TOULOUSE, FRANCE - JUNE 26: Eden Hazard of Belgium celebrates scoring his team's third goal during the UEFA EURO 2016 round of 16 match between Hungary and Belgium at Stadium Municipal on June 26, 2016 in Toulouse, France. (Photo by Dean Mouhtaropoulos/Getty Images)
(Photo by Dean Mouhtaropoulos/Getty Images)

Sepanjang sejarah, Belgia tidak pernah punya pemain bintang, tapi mereka dikenal sebagai kesebelasan yang kompak, harmonis, dan low profile. Sekarang Belgia dilatih oleh Marc Wilmots yang tentu paham betul akan arti sebuah kekompakan karena Wilmots adalah anak keluarga petani, “Tiap hari kami sekeluarga mesti bangun pagi, kami petani maka banyak yang harus kami lakukan di pagi hari, dan hanya dengan melakukannya secara bersama-sama kami bisa menyelesaikan pekerjaan itu. Tidak mungkin ada pekerjaan yang selesai jika kami mengerjakannya sendiri-sendiri, dan pemikiran itulah yang saya bawa sekarang,” kata Wilmots

Filosofi Marc Wilmots ini sekarang harus diterapkan pada tim Belgia yang lain bentuknya dibanding saat dia bermain dulu. Sebab menurut saya, (sejak pertama kali mengamati sepakbola tahun 1997) belum pernah saya lihat skuad Belgia se “menggiurkan” sekarang.

Belgia saat ini terisi peman-pemain bintang. Dari kiper, ada Thibaut Courtois (Chelsea) dan Simon Mignolet (Liverpool). Di garis belakang ada beberapa nama yang bisa disebut, seperti: Toby Alderweireld (Tottenham), Jason Denayer (Galatasaray), Thomas Vermaelen (Barcelona), atau Jan Vertonghen (Tottenham). Lalu di depan mereka ada juga nama-nama beken seperti: Christian Benteke (Liverpool), Romelu Lukaku (Everton), Dries Mertens (Napoli), dan Divock Origi (Liverpool). Tapi yang paling “mengerikan” adalah barisan tengahnya karena disana ada pemain-pemain macam: Yannick Carrasco (Atletico Madrid), Kevin De Bruyne (Manchester City), Mousa Dembélé (Tottenham), Marouane Fellaini (Manchester United), Eden Hazard (Chelsea), dan Radja Nainggolan (AS Roma)

Revolusi Belgia yang mengubah sistem permainan dari bertahan ke menyerang ini memang sesuai dengan kualitas pemain yang dibawanya. Ini menjadikan mereka termasuk satu dari tiga tim nasional (tersisa) yang mengandalkan formasi menyerang selain Jerman dan Perancis. Strategi ini pun membuat Belgia menjadi tim dengan jumlah gol paling subur di turnamen: 8 gol. Lalu di babak perempat final, mereka harus menghadapi tim debutan, Wales dengan motor serangan Gareth Bale dan Aaron Ramsey yang sejauh ini tercatat sebagai tim tersubur kedua dengan 7 gol.

Di babak kualifikasi Piala Eropa kedua tim sudah bertemu dua kali, dan ternyata Belgia belum berhasil mengalahkan Wales. Ketika bermain di kandang mereka seri 0-0, dan ketiga tandang ke Wales mereka kalah 0-1. Maka tentu perempat final kali ini juga sebagai ajang balas dendam, lebih jauh lagi perempat final ini juga harus jadi pembuktian Belgia bahwa revolusi mereka akan membawa hasil yang positif.

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #07: Mengapa Mereka Bertahan?
Mari kita bicara dengan data. Saat ini sudah dipastikan Islandia, Irlandia Utara, Italia, dan Slovakia lolos ke fase 16 besar. Kenapa kita sebut empat negara itu? Karena menurut statistik, empat tim i...
Catatan Euro #11: Siapa Islandia?
Mau tahu ketangguhan Islandia? Silahkan langsung tanya pada timnas Belanda. Karena di babak kualifikasi Piala Eropa 2016, anak-anak asuh Danny Blind itu merasakan pahitnya dikalahkan di pertandingan t...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...
Sampdoria, Seperti Biasa
Sudah lama nggak nulis soal Sampdoria... tentu karena Serie A belum jalan, tapi tadi malam giornata pertama pun sudah mulai dan Sampdoria mengawalinya dengan manis setelah menekuk Empoli 1-0 di kandan...
Catatan AFCON #02: Tak Ada Lagi Keajaiban Untuk Mahrez
Seusai peluit panjang ditiup, Riyadh Mahrez memandang langit biru. Perasaannya campur aduk. Sejak awal situasi di grup B ini memang tidak menguntungkan bagi Algeria dan dirinya. Ditahan seri 2-2 oleh...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.