Catatan Euro #12: Garis Batas Sang Matador

Seorang penyair Spanyol, Federico García Lorca pernah berkata: Spanyol adalah satu-satunya tanah dimana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian. La Muerte! Karena itulah mentalitas bangsa Spanyol adalah mentalitas manusia yang tidak pernah menghindari nasib, mentalitas bangsa Spanyol adalah berani menghadapi kematian demi mempertahankan kehidupan, seperti seorang matador yang berani mempermainkan nyawanya di hadapan seekor banteng.

Dengan mentalitas seperti itu, selama lima tahun terakhir ini La Furia Roja pun menjelma menjadi sebuah mitos. Adalah Luis Aragones yang memulai mitos itu, dengan gaya bermain Tiki-Taka, sebuah gaya yang disebut oleh seorang kolumnis bola, Raphael Honigstein sebagai: The most difficult version of football possible.

Dengan memainkan gaya itu, Spanyol bisa mengontrol bola dan lawan sekaligus. Dengan gaya itu Spanyol bisa melakukan defense dan offense dengan seimbang. Raphael Honigstein juga menambahkan, saat melakukan tiki-taka: The team is always in possession, so doesn’t need to switch between defending and attacking. Gaya Tiki-Taka ini layak disejajarkan dengan taktik corto stretto yang dianut Ariggo Saccho saat melatih AC Milan tahun 90-an, dan Total Football ciptaan Rinus Michels yang menjadi merk kesebelasan Belanda. Semuanya menganut gaya sepakbola menyerang.

Maka kesimpulannya: Tiki-Taka adalah sebuah gaya yang sangat modern, lengkap, dan indah untuk dilihat. Gaya Tiki-Taka membuat Spanyol terlihat bertenaga, agresif, dan lincah, persis seperti gerakan seorang matador.

Melihat perkembangan ini, tidak heran jika publik pun berharap lahirnya Tiki-Taka akan menjadi penanda dimulainya  era sepakbola menyerang dan matinya era sepakbola “parkir bus” yang defensif dan membosankan.

Ternyata Spanyol bisa menjawab tuntutan publik. Dengan gaya itulah Spanyol mampu menyuguhkan “final impian” di Piala Dunia 2010. Melawan Belanda, untuk pertama kalinya Tiki-Taka benar-benar beradu dengan Total Football. Sepanjang nyaris 120 menit penonton pun disuguhi permainan ofensif yang seru, tegang, dan mendebarkan dari kedua kesebelasan. Pada akhirnya Spanyol menang 1-0, mereka juara dunia dengan sepakbola menyerang!

Tapi itu belum cukup, Spanyol masih harus membuktikan bahwa sistem ofensif memang harus jadi raja di dunia bola. Sampai akhirnya titik pembuktian itu datang di final Piala Eropa 2012, Spanyol bertanding melawan Italia lewat sebuah pertandingan yang “menarik”. Spanyol menang 4-0 dengan Tiki-Taka. Mereka membuktikan di dunia ini sudah tidak ada ruang lagi di dunia bola untuk gaya-gaya defensif.

Tapi seperti halnya semua hal di dunia, sebuah kejayaan juga memiliki era nya masing-masing. Memang benar Tiki-Taka sudah menuai hasil yang sangat terpuji, tapi sayangnya Spanyol sudah tidak dapat meyangganya lagi, akibatnya sistem itu malah jadi jerat buat mereka sendiri

Menyingkapi fenomena seperti ini, pemain legendaris Italia Franco Baresi punya komentar: “Kesuksesan bertahun-tahun membuat orang kelelahan, setiap kesebelasan besar memiliki siklus, dan suatu saat siklus itu harus menuju titik akhir, (mereka) hanya berharap dapat menunda kedatangan titik akhir itu”

Kekalahan 0-3 dari Brazil di final Piala Konfederasi 2013 sebenarnya sudah jadi penanda bahwa siklus La Furia Roja mulai menurun, ditambah kekalahan mengejutkan 0-1 dari negara sekelas Georgia di sebuah pertandingan dengan hanya selisih enam hari sebelum Piala Eropa dimulai, membuat banyak orang mulai mempertanyakan kualitas tim yang dibawa Vicente del Bosque ke Perancis. Gerrard Pique sendiri—parahnya—mulai tampak ragu-ragu, katanya: “After the defeat against Georgia I said we weren’t favourites and I think that right now we are not among the best. We have great players but we are not at the level to win tournaments.”

Secara teknis, menurunnya sistem permainan Spanyol ini wajar karena satu persatu kader Piala Eropa 2008  racikan Aragones mulai bertumbangan, sementara regenerasi yang  tepat pun belum ada. Di  Piala Eropa kali ini saja hanya tinggal lima kader 2008 yang bisa dibawa: Iker Casillas, Andres Iniesta, Cesc Fabregas, Sergio Ramos, dan David Silva. Lalu kader 2010 (saat mereka juara dunia) juga hanya tiga orang yang terbawa: Gerard Pique, Pedro, serta Sergio Busquets.

Memang mereka semua pemain bagus di klubnya, tapi ternyata mereka sudah tidak cukup kuat mengusung Tiki-Taka, sudah terlalu banyak lubang yang tidak bisa ditambal kalau mereka ingin bermain seperti angkatan 2008, apalagi angkatan 2010. Ternyata pemain seperti Thiago, Koke, atau Bruno Soriano belum bisa terlalu diandalkan. Di titik inilah saya lihat Spanyol masih merindukan sosok pemimpin di belakang seperti Carles Puyol, pemain tengah yang kuat bertarung seperti Xabi Alonso, atau pemain tengah yang memiliki kemampuan pasing akurat seperti Xavi.

Italy+v+Spain+Round+16+UEFA+Euro+2016+Ii60mlfPcenl

Salah satu tanda kewalahannya pemain-pemain Spanyol memainkan pola mereka sendiri bsa dilihat dari permainan mereka melawan Italia kemarin. Awalnya orang menyangka mereka akan mengeluarkan gayanya masing-masing: Spanyol akan mengurung Italia dengan umpan-umpan pendek, sementara Italia akan memainkan sistem blokade rantai sambil mengandalkan serangan balik. Tapi nyatanya? Di babak pertama Spanyol yang harus pontang-panting meladeni serangan Italia. Mereka seperti bingung melihat gelombang serangan Italia. Tak kurang-kurangnya playmaker Spanyol,  Andres Iniesta nyaris tidak percaya dengan kondisi itu: In the first half we got it wrong, we were looking too much at what they were doing and that hurt us…” Begitu katanya

Maka kekalahan Spanyol 0-2 di tangan Italia tadi malam bukanlah sekadar kekalahan sebuah tim, tapi kekalahan sebuah gaya bermain. Pada akhirnya siklus itu kembali berputar, permainan defensif mulai merangsek mengambil peran di percaturan sepakbola dunia. Piala Eropa 2016 ini buktinya, betapa di fase grup saja, turnamen ini mencatat rata-rata gol paling rendah dalam enambelas tahun terakhir.

Tapi berbeda lagi komentar pencetak gol pembuka, Giorgio Chiellini. Dia memang menyimpan dendam kesumat kepada Spanyol. Bagaimana tidak? Chiellini adalah pemain yang ikut serta ketika timnya dilibas Spanyol di perempat final Euro 2008, final Euro 2012, dan semifinal Piala Konfederasi 2013. Tiga kali bertemu Spanyol di turnamen besar, tiga kali pula dia kalah. Sampai-sampai dia berkata “Saya berpikir bahwa kadang-kadang takdir seperti itu. Jika saya jujur, saya selalu berpikir bahwa sebelum mengakhiri karir di tim nasional, saya harus merasakan menang melawan Spanyol. Melawan tim yang telah benar-benar membuat saya menderita selama tahun-tahun.”

Kini Chiellini yang bahagia, dan giliran Spanyol yang menderita. Tapi memang Chilelini benar, kadang-kadang takdir memang seperti itu. Kali ini pun takdir mengharuskan Spanyol pulang lebih awal, dan lebih jauh dari itu—siklus terus berputar— takdir pun sudah mencoretkan garis batas untuk sang mitos. Sebuah titik dimana mereka harus berhenti . Adiós, matador. Nos vemos de nuevo![]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #01: Apa Gunanya Pemain Tua?
Kalau ada jin dari lampu Aladdin yang bisa mengabulkan permintaan tapi cuma memberi pilihan antara: jadi pemain sepakbola kelas dunia atau musisi kelas dunia, saya yakin--jika kriteria pertimbangannya...
Catatan Euro #09: Inggris, Ibu yang Kesepian
Inggris adalah tanah air sepakbola, disanalah sepakbola pertama kali dilahirkan, maka Inggris bolehlah mengaku sebagai ibu yang melahirkan sepakbola. Namun sebenarnya Inggris adalah ibu yang kesepian,...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...
Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi
“Ecstasy” demikian harian L'Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah ...
Catatan AFCON #03: Rival yang Bersalaman
Ivory Coast adalah juara bertahan Piala Afrika 2015, ketika itu mereka bisa menekuk Ghana dengan drama adu penalti yang sangat dramatis, bayangkan: skor akhir 9-8 dan harus diraih lewat penendang ke 1...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *