Catatan Euro #11: Siapa Islandia?

Mau tahu ketangguhan Islandia? Silahkan langsung tanya pada timnas Belanda. Karena di babak kualifikasi Piala Eropa 2016, anak-anak asuh Danny Blind itu merasakan pahitnya dikalahkan di pertandingan tandang dan kandang. Ketika bermain tandang di Reykjavík mereka kalah 0-2 lewat brace dari Gylfi Sigurdsson, lalu ketika giliran jadi tuan rumah lagi-lagi Gylfi Sigurdsson membuat negara keju ini kalah 0-1. Akhirnya Islandia merebut posisi dua di bawah Republik Ceko, Belanda pun tergusur ke posisi empat dan harus menangis karena gagal ke Perancis.

Dengan prestasi itu, tetap saja orang bertanya: siapa Islandia? Ada yang kenal? Nah, coba kita tengoklah kesana, maka dan kita akan disapa: Welcome to Islandia, welcome to the the safest country in the world!

Safest?  Ya… beberapa waktu yang lalu The Institute of Economics and Peace (IEP) sudah merilis Global Peace Index ke-10 yang berisi tentang negara paling aman di dunia. Untuk menyusun daftar itu, IEP menganalisa 24 faktor dasar seperti persentase kejahatan, kekerasan, teror politik, ekspor dan impor senjata, serta populasi narapidana. Nah ternyata, negara paling aman di dunia ditempati oleh Islandia! Bukan hal yang mengagetkan karena sebenarnya negara ini sudah berada di posisi puncak selama enam tahun berturut-turut.

Sebagai gambaran keamanan Islandia, disana Bessastaðir (Gedung kepresidenan) nya dibuat sangat terbuka untuk umum. Tidak ada pengamanan yang terlihat, bahkan kita bisa berjalan-jalan lewat halamannya dan mengintip dari balik jendela. Bahkan di Islandia pun tidak ada tentara, satu-satunya yang ada disana hanya penjaga pantai. Jika ada orang Islandia ingin masuk dalam militer, mereka harus bergabung dengan tentara Norwegia.

Selain itu, dalam percaturan politik dunia, Negara dengan jumlah penduduk hanya 300 ribu orang ini juga merupakan negara yang tenang, tidak pernah ada konflik besar, baik perang saudara atau konflik antar negara. Karena ketenangannya itulah mereka juga sering terlupakan.

Maka seperti politiknya, begitu juga dengan sepakbolanya. Kita bisa menyebutkan deretan pemain baik legenda atau yang masih aktif dari negara-negara seperti Jerman, Inggris, Italia, atau Spanyol, tapi Islandia? Salah satu yang gampang diingat adalah Eidur Gudjohnsen. Para penggemar Chelasea atau Barcelona pasti kenal, mereka juga tahu dia dari Islandia, tapi kita hanya tahu sepak terjang individu. Nama Islandia sendiri tidak membangkitkan rasa ingin tahu apa-apa.

Wajar, karena secara tim nasional, Islandia belum bisa bicara banyak, mereka sama sekali belum pernah lolos ke Piala Dunia, dan Piala Eropa kali ini pun merupakan debut mereka. Rekor internasional mereka pun tidak bagus-bagus amat. Sampai sebelum Piala Eropa ini, rekor terbaik mereka “hanya” melawan Malta dan Kepulauan Faroe. Karena itulah mereka selalu dipandang sebelah mata baik oleh publik, pers, atau negara-negara bola. Bahkan sebelum pertarungan mereka semalam, Gylfi Sigurdsson menangkap kesan bahwa Inggris memandang enteng negaranya, “Inggris berpikir melawan kami akan seperti berjalan-jalan di taman.”.

Memang benar, pers Inggris malah lebih sibuk membahas kemungkinan Roy Hodgson akan tetap bertahan jika Inggris mencapai perempat final. Mantan pemain tim nasional Inggris, Andy Cole pun berkomentar  “England will do well to make quarter-finals.”, bahkan beberapa media pun malah lebih sibuk membahas apakah Inggris akan bisa bertahan melewati adu penalti? Mengingat di tiga gelaran Piala Eropa sebelumnya (2012, 2004, 1996) Inggris memang selalu tersingkir di babak knock-out lewat adu penalti.

Wayne Rooney pun sepertinya fokus pada urusan perempat final, kepada wartawan Evening Standard dia berkata: “If we get to the quarter-finals and go out, I’m not going to say we have shown progress from the last tournament,” lalu dia menambahkan “If this was four years ago and we might have to play France, Spain or Germany, we would be worried…

Mereka sudah bicara soal perempat final, mereka sudah bicara soal adu penalti, mereka sudah bicara soal Perancis, Spanyol, atau Jerman, padahal di depan hidung mereka ada Islandia. mereka lupa bahwa lawan yang akan dihadapinya adalah Islandia. Siapa Islandia? Islandia adalah negara yang membuat seorang Cristiano Ronaldo frustasi, Islandia yang membuat kita tidak bisa melihat Belanda di Piala Eropa kali ini.

Maka kemenangan 2-1 melawan negara “ibu dari sepakbola” semalam merupakan kejutan luar biasa. Hasil pertandingan itu adalah mimpi yang terwujud bagi masyarakat Islandia. Sampai-sampai komentator khusus Piala Eropa di televisi nasional Islandia, Gudmundur Benediktsson berkata: “… this is a dream. Never wake me from this amazing dream! England 1, Iceland 2 is the closing score here in Nice, and the fairytale continues.

Fairytale continues, memang orang Islandia akrab dengan kisah-kisah makhluk mitologi atau hal ghaib, lebih dari 50% masyarakat Islandia percaya pada keberadaan troll, elves, atau fairy. Begitu fanatiknya mereka pada kepercayaan itu, sampai-sampai mereka bisa menunda suatu pembangunan jika dipercaya tempat itu merupakan lokasi kediaman elves (Mirip dengan Indonesia ya? bedanya di sana mungkin tidak ada Hari Pantja atau Ki Joko Bodo). Jadi kalau sekarang Islandia ada di perempat final Piala Eropa, mungkin ini juga bisa jadi sebuah fairytale yang akan dijadikan bahan cerita turun temurun di sama.

#EURO2016

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo
Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d'Or ini mengatakan: "... I tho...
Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen
Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan gr...
Catatan Euro #10: Arrivederci atau Adiós?
Olympic Stadium, Kiev, 1 Juli 2012, pemain-pemain Italia sudah tidak bisa mengangkat mukanya lagi untuk melihat papan skor. Mereka habis dibantai 0-4 oleh Spanyol lewat gol dari Silva, Jordi Alba, Fer...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan AFCON #05: Pembuktian Kamerun
Kemenangan Kamerun atas Senegal tadi bukan hanya bermakna selembar tiket ke semifinal, tapi lebih jauh dari itu juga memperebutkan sebuah nama baik di dunia sepakbola. Kamerun adalah tim kuda hitam d...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.