Catatan Euro #10: Arrivederci atau Adiós?

Olympic Stadium, Kiev, 1 Juli 2012, pemain-pemain Italia sudah tidak bisa mengangkat mukanya lagi untuk melihat papan skor. Mereka habis dibantai 0-4 oleh Spanyol lewat gol dari Silva, Jordi Alba, Fernando Torres, dan Juan Mata. Spanyol sudah tidak bisa tertahan lagi untuk merengkuh Piala Eropa 2012, toh di menit ’91 Iker Casillas berteriak-teriak meminta wasit segera meniup peluit: “Arbitro! Respeto por el rival, respeto por Italia, 4-0 ya!”. Respek untuk Italia! Sudah 4-0!”

Ya, sebagai pemain bola Casillas tahu benar bahwa aib besar sedang ditanggung oleh Italia, sebagai negara bola, kiblat permainan bertahan, kini harga dirinya sedang dihancurkan. Dia tidak ingin skor berubah menjadi 0-5, sebab itu akan menambah besar beban aib Italia.

Tapi itu cerita empat tahun yang lalu, kini kedua negara kembali bertemu, namun sayangnya bukan di final lagi seperti waktu dulu.

Ya, siapa yang harus disalahkan kalau dua raksasa bertemu terlalu awal? Italia lawan Spanyol, dua negara ini ternyata sudah harus baku bunuh di babak 16 besar. Padahal kalau semua skenario berjalan lancar sesuai kata pengamat, di babak ini harusnya Italia “hanya” bertemu Kroasia dan Spanyol berjumpa antara Islandia atau Hungaria.

Untuk Spanyol, biang kerok masalahnya adalah kekalahan mengejutkan 1-2 dari Kroasia. Seusai pertandingan melawan Kroasia itu, dan dia menemukan fakta bahwa timnya harus menghadapi Italia, pelatih Spanyol, Vicente Del Bosque cuma bisa garuk-garuk kepala, “I think it wasn’t the path we wanted to take…”

Wajar jika Del Bosque khawatir, karena sejarah mencatat: sejak pertemuan pertama mereka tanggal 9 Maret 1924, sampai sejauh ini dari 30 pertandingan Spanyol “baru” menang 11 kali dan kalah 8 kali, sisanya seri. Sebuah statistik yang nyaris berimbang.

Setali tiga uang dengan pelatih Italia, Antonio Conte juga cuma bisa geleng-geleng kepala melihat jadwal ini. Memang benar Italia berhasil menjadi juara Grup E, tapi bagaimana pun juga kekalahan dari Republik Irlandia di pertandingan terakhir membuat kredibilitas Italia untuk menghadapi babak 16 besar dipertanyakan banyak pihak, terlebih lagi sekarang lawan yang harus dihadapinya adalah tim yang menekuk mereka 0-4 di Final Piala Eropa empat tahun yang lalu. Maka dari itu Antonio Conte cuma bisa berkata “What do I need to say about Spain? Do you want me to tell you they’re rubbish? What should I say? We’re coming up against one of the best sides in the world. End of!”

Conte pantas menolak berkomentar panjang, dia sendiri sedang galau karena dirinya yang begitu memuja sepakbola menyerang, kini harus rela kembali pada konsep cattenacio. Memang dia tak punya banyak pilihan taktik karena skuad Italia yang dibawanya memang mau tidak mau sudah mengalami pengikisan umur. Namun setidaknya Conte boleh percaya pada pola usang ini karena sejarah membuktikan bahwa Cattenacio lah yang membawa Italia ke puncak dunia, serta efektivitasnya pun masih bertahan hingga kini.

Sementara di kubu Spanyol, Andres Iniesta tampak berkomentar santai tentang Italia ”They’re a powerful rival, a difficult rival, and [it will be] a good game, It’s a game that will be useful to us if we are to keep developing and taking steps in these Euros.”

Ya, apapun kondisinya Spanyol tidak pernah takut. Seorang penyair Spanyol, Federico García Lorca pernah berkata: Spanyol adalah satu-satunya tanah dimana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian. La Muerte! Karena itulah Spanyol tidak pernah menghindari nasib, mentalitas Spanyol adalah berani menghadapi kematian demi mempertahankan kehidupan, seperti Matador yang berani mempermainkan nyawanya di hadapan seekor banteng.

Jadi mari kita tunggu partai hidup-mati Spanyol vs Italia, dan entah pada akhirnya kita harus mengucapkan “Arrivederci, Italia!” atau malah “Adiós, España!”. Kita lihat saja

#‎EURO2016‬

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen
Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan gr...
Catatan Euro #09: Inggris, Ibu yang Kesepian
Inggris adalah tanah air sepakbola, disanalah sepakbola pertama kali dilahirkan, maka Inggris bolehlah mengaku sebagai ibu yang melahirkan sepakbola. Namun sebenarnya Inggris adalah ibu yang kesepian,...
Catatan Euro #13: Revolusi Belgia
Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan seli...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...
Catatan AFCON #03: Rival yang Bersalaman
Ivory Coast adalah juara bertahan Piala Afrika 2015, ketika itu mereka bisa menekuk Ghana dengan drama adu penalti yang sangat dramatis, bayangkan: skor akhir 9-8 dan harus diraih lewat penendang ke 1...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.