Catatan Euro #09: Inggris, Ibu yang Kesepian

Inggris adalah tanah air sepakbola, disanalah sepakbola pertama kali dilahirkan, maka Inggris bolehlah mengaku sebagai ibu yang melahirkan sepakbola. Namun sebenarnya Inggris adalah ibu yang kesepian, bertahun-tahun anaknya pergi, berkali-kali anaknya memilih untuk “dibelai-belai” di negara lain. Inggris pun berubah menjadi the dear stranger’s home bagi sepakbola.

Sekali pernah anaknya pulang, tepatnya tahun 1966 ketika Inggris juara dunia, namun hanya sebentar saja, tahun-tahun berikutnya kembali ia menjadi ibu yang kesepian. Padahal tidak henti-hentinya Inggris mencoba berbagai taktik dan teknik untuk “memulangkan” anaknya, mulai dari Piala Eropa hingga Piala Dunia, tapi belum juga berhasil. Namun, bukan seorang ibu namanya kalau sampai putus harapan. Tiap tahun Inggris tetap mencoba, termasuk di Piala Eropa kali ini.

Inggris memang belum pernah juara Piala Eropa, prestasi tertingginya adalah juara tiga di Italia 1968 dan ketika ditunjuk jadi tuan rumah, dia berhasil mencapai semifinal. Tahun ini harapan Inggris kembali melambung tinggi, babak kualifikasi yang ditempuhnya sangat meyakinkan: 10 kali memang, tanpa seri, tanpa kalah, mencetak 31 gol dan hanya kebobolan 3 gol. Rakyat Inggris pun berteriak: “Go on England, you can lead the world again!

Tapi semuanya berantakan di putaran final. Memang setelah selesai tiga putaran di grup B, Inggris berhasil lolos ke babak kedua. Tapi bagaimanapun juga ini aib bagi negara sebesar Inggris yang harus rela berada di posisi dua, dibawah “seteru Britania” nya, Wales. Ditambah lagi, kali ini Inggris mencatat rekor poin terendah sepanjang keikutsertaan mereka sejak tahun 2000.

270FD77F00000578-3019141-image-a-20_1427784491876

Seusai ditahan seri Slovakia, tak kurang-kurangnya kritikan pada Inggris datang dari berbagai pihak, salah satunya dari Joey Barton, pemain senior Inggris yang sekarang merumput di klub Glasglow Ranger. Dia mengatakan: “People don’t seem to realise we’d have been out if it wasn’t for Sturridge’s last min goal v Wales. Not sure we should get too carried away.”

Memang Joey ada benarnya juga, apa sih prestasi Inggris sejauh ini? Kalau bukan karena gol Danniel Sturridge di menit ‘92 ketika melawan Wales, niscaya sekarang mereka sedang ketar-ketir karena cuma ada di posisi tiga.

Fans Inggris tidak mau susah-susah mencari penjahatnya, tudingan langsung diarahkan ke hidung pelatih Inggris, Roy Hodgson. Setelah seri 1-1 dengan Rusia, fans protes, tapi Hodgson tetap kukuh pada pendiriannya dengan memasang starting eleven yang sama melawan Wales. Hasilnya Inggris memenangkan “perang saudara”. Fans boleh bernafas lega, namun posisi belum aman, meskipun begitu orang-orang melihat Hodgson sudah mulai menemukan winning tactic. Maka jelas semua kaget ketika melawan Slovakia dia melakukan enam perubahan. Mengistirahatkan pemain boleh-boleh saja, tapi apa harus sampai memecah lagi winning team yang sudah terbentuk?

Salah satu yang dipertanyakan adalah tidak memasang duet lapangan tengah Dele Alli dan Wayne Rooney, namun menggantinya dengan Jack Wilshere dan Jordan Henderson. Terbukti kedua pemain ini merupakan titik lemah Inggris di pertandingan lawan Slovakia. Situs ftb90.com hanya memberi nilai 6/10 pada Jordan Henderson, Jack Wilshere malah hanya mendapat poin 5/10. Bandingkan dengan Rooney yang BARU MASUK di menit ‘50 dan sudah bisa mendapat nilai 6/10, serta Dele Alli yang masuk menit ‘61 tapi bisa mendapatkan nilai 7/10

Satu catatan kecil saya ambil dari akun @90min_Football, mereka mengatakan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Roy Hogdson tidak berefek apa-apa “Played the exact same game they did vs Russia. Dominant, but no cutting edge.“

Memang benar, sejauh ini dari tiga pertandingan, Inggris “baru bisa” mendominasi possesion. Lawan Russia (53% – 47%), Wales (67% – 33%), dan Slovakia (57% – 43%), itu juga yang digaris bawahi oleh kapten Inggris Gary Cahill, “It was disappointing for us tonight. In the three games we have had the majority of the possession and today we have dominated play from start to finish and we couldn’t unlock door.

Sayangnya, merajai possesion tidak berarti memenangkan pertandingan selama tim tidak bisa mencetak gol lebih banyak dari lawannya. Manager West Ham, Slaven Bilic juga berkomentar setelah partai Inggris – Slovakia: “Let’s not praise for possession because [England] played against a team that didn’t to play. Of course you’re going to have more possession.

Tapi apapun yang dikatakan orang, faktanya Inggris sedang mempersiapkan diri menuju babak kedua, Gary Cahill, dkk tentu akan memanfaatkan betul momen jeda ini untuk memperbaiki performa timnya: “It gives us time to get back fresh. We tried to bring fresh legs in tonight and I thought we looked good and on another day we should win.”

Ya, mereka memang harus memperbaiki diri, kalau tidak… sekali lagi Inggris akan menjadi ibu yang kesepian.

‪#‎EURO2016‬

 

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan
Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada...
Catatan Euro #11: Siapa Islandia?
Mau tahu ketangguhan Islandia? Silahkan langsung tanya pada timnas Belanda. Karena di babak kualifikasi Piala Eropa 2016, anak-anak asuh Danny Blind itu merasakan pahitnya dikalahkan di pertandingan t...
Catatan Euro #14: Dewi Fortuna dan Kekasih Baru
Ada banyak kejadian unik di Piala Eropa kali ini, salah satunya adalah Cristiano Ronaldo yang melemparkan mikrofon wartawan CMTV ke danau (untung tidak dengan wartawannya sekalian). Menurut gosip, kat...
Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi
“Ecstasy” demikian harian L'Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah ...
Catatan AFCON #03: Rival yang Bersalaman
Ivory Coast adalah juara bertahan Piala Afrika 2015, ketika itu mereka bisa menekuk Ghana dengan drama adu penalti yang sangat dramatis, bayangkan: skor akhir 9-8 dan harus diraih lewat penendang ke 1...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.