Catatan Euro #08: Sindrom ’90+

Dari 36 pertandingan di fase grup Piala Eropa 2016, total tercetak 69 gol. Itu artinya rata-rata ada 1,9 gol per partai. Beberapa orang akan beranggap ini adalah angka yang cukup tinggi, karena mendekati angka 2 gol per partai toh? Sayang sekali, data statistik justru menunjukkan sebaliknya. Bisa dilihat pada statistik di atas, gelaran Piala Eropa 2016 ini merupakan turnamen yang statistik gol di fase grupnya termasuk yang paling rendah dalam 12 tahun terakhir.

Ada apa ini? Padahal UEFA sudah menambah jatah tim yang ikut, dari biasanya hanya 16 tim, sekarang jadi 24 tim! Tentu salah satu harapannya adalah terciptanya banyak gol, apalagi di gelaran Piala Eropa kali ini bertebaran pemain-pemain elit tukang bikin gol,

Misalnya: ada top skor Liga Inggris, Harry Kane (25 gol) dan Jamie Vardy hadir (24 gol). Liga BBVA menyetorkan Cristiano Ronaldo sebagai pemain Eropa tersubur disana (35 gol). Dari Liga Perancis juga datang Zlatan Ibrahimovic (38 gol).

Atau mungkin ada yang bilang, “Setiap yang bikin gol juga perlu operan matang dong, nggak bisa dihitung seperti itu…”. Baiklah, di Piala Eropa 2016 ini juga hadir para pemain tukang bikin assist, misalnya: top assist Liga Inggris Mezut Oezil (19), Liga BBVA Spanyol dengan Koke (14) atau Gareth Bale (10), lalu dari Italia ada Paul Pogba (12) dan Marek Hamsik (11), belum lagi dari Perancis yang lagi-lagi menyetorkan nama Zlatan Ibrahimovic (16)

Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk “tidak mencetak gol” kan?

Grafik Rata-Rata Gol di Piala Eropa

Mantan kapten timnas Italia, Guiseppe Bergomi pernah berkata: “Terlalu banyak mencetak gol itu tidak terlalu baik. Fans kita bisa jadi gila karenanya.”

Ya bisa jadi Bergomi benar, tapi dia lupa bahwa fans juga tidak suka jika kesebelasannya bermain terlalu “minimalis”. Akibatnya, di kejuaraan kali ini pun kita jadi melihat tim-tim yang bersikap terlalu matematis, semuanya dihitung, satu gol cukup asal dapat tiga point, satu point cukup yang penting ada jaminan lolos ke fase gugur. Kegembiraan dan kebebasan bermain pun seolah hilang.

Melihat gejala ini, para pengalamat kembali menuding biang keroknya adalah: pola defensif, yang diaplikasikan dengan “konsisten” oleh beberapa tim, terutama tim debutan.

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah membahas tentang proses adaptasi yang belum terlaksana dengan baik, nah… di tengah tim yang masih beradaptasi itu ternyata mereka dihadapkan pada tim-tim yang menerapkan pola grendel. Padahal, membuka sebuah pertahanan yang menumpuk banyak pemain adalah hal yang sangat sulit. Dibutuhkan sepakbola menyerang dengan tempo tinggi untuk bisa merusak pertahanan yang begitu solid seperti itu, sesuatu yang belum tentu didapat di fase grup.

Itu juga menjawab pertanyaan kenapa di turnamen kali ini banyak sekali gol tercipta di menit akhir. Menurut data, dari 69 gol di fase grup, sekitar 20 gol tercipta antara menit ‘76-‘90+, salah satu rahasianya adalah karena di menit-menit itulah terjadi puncaknya kelelahan.

Siapapun tahu bahwa bertahan itu sebenarnya lebih melelahkan daripada menyerang. Maka diandaikan ada sebuah tim yang konsisten bertahan, maka pasti staminanya lebih mudah terkuras, dan gol-gol yang terjadi di menit akhir itu terjadi saat kaki-kaki yang lelah akhirnya menyerah pada tekanan lawan.

Yah, akhirnya… semoga saja kita bisa mengharapkan dua minggu yang lebih baik ketika turnamen ini hanya menyisakan 16 tim dari 24 peserta. Pertandingai yang tensinya lebih tinggi, lebih banyak taktik, lebih banyak gol, lebih banyak ketegangan, dan lebih banyak hiburan.

(Bagian akhir dari tiga tulisan tentang pacekliknya gol di Piala Eropa 2016)

‪#‎EURO2016‬

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo
Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d'Or ini mengatakan: "... I tho...
Catatan Euro #07: Mengapa Mereka Bertahan?
Mari kita bicara dengan data. Saat ini sudah dipastikan Islandia, Irlandia Utara, Italia, dan Slovakia lolos ke fase 16 besar. Kenapa kita sebut empat negara itu? Karena menurut statistik, empat tim i...
Catatan Euro #12: Garis Batas Sang Matador
Seorang penyair Spanyol, Federico García Lorca pernah berkata: Spanyol adalah satu-satunya tanah dimana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian. La Muerte! Karena itulah mentalitas bangsa S...
Sampdoria, Seperti Biasa
Sudah lama nggak nulis soal Sampdoria... tentu karena Serie A belum jalan, tapi tadi malam giornata pertama pun sudah mulai dan Sampdoria mengawalinya dengan manis setelah menekuk Empoli 1-0 di kandan...
Catatan AFCON #01: Hingar Bingar yang Tak Terdengar
Apakah di Indonesia ada yang tahu kalau sekarang sebenarnya sedang berlangsung gelaran Piala Afrika di Gabon? Mungkin kalau para wartawan sport, pandit football, atau praktisi sepakbola sih tahu ya, k...
Catatan AFCON #02: Tak Ada Lagi Keajaiban Untuk Mahrez
Seusai peluit panjang ditiup, Riyadh Mahrez memandang langit biru. Perasaannya campur aduk. Sejak awal situasi di grup B ini memang tidak menguntungkan bagi Algeria dan dirinya. Ditahan seri 2-2 oleh...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *