Catatan Euro #07: Mengapa Mereka Bertahan?

Mari kita bicara dengan data. Saat ini sudah dipastikan Islandia, Irlandia Utara, Italia, dan Slovakia lolos ke fase 16 besar. Kenapa kita sebut empat negara itu? Karena menurut statistik, empat tim itulah yang mencatat shoot attempt paling rendah pada fase grup, dibanding seluruh tim yang lolos ke fase kedua.

Euh. mungkin kita bisa sedikit “memaafkan” negara debutan macam Irlandia Utara (penguasaan bola 34%, rata-rata 5,6 shoot per pertandingan), Islandia (penguasaan bola 34%, rata-rata 7,0 shoot pertandingan), atau Slovakia (penguasaan bola 45%, rata-rata 8,6 shoot pertandingan). Tapi kenapa disana juga ada Italia… Juara dunia 2006? Runner up-Piala Eropa 2012? Ini beneran Italia kan?

Ya, faktanya dari tiga pertandingan di Grup E, Italia mencatat penguasaan bola sebesar 48% dengan 24 kali percobaan tembakan ke gawang, atau rata-rata “hanya” 8 kali per pertandingan. Lebih rendah dari Slovakia, bahkan lebih rendah dari Albania. Negara debutan yang tersingkir di Grup A itu malah bisa mencatat 10 shoot per pertandingan. Atau sekarang bandingkan dengan angka statistik Jerman (19,6 shoot per pertandingan), Inggris (21,6 shoot per pertandingan), dan Portugal (23 shoot per pertandingan). Jauh sekali kan?

Angka ini menunjukkan kalau di Piala Eropa sekarang, Italia masih setia pada cattenaccio. Dengan gaya itu juga mereka bisa bercokol di urutan pertama klasemen Grup E.

Namun fokus tulisan kali ini bukan pada Italia, tapi pada “teman-temannya”. Karena penonton paling “awam” sekalipun tetap bisa melihat bahwa gaya bertahan ini juga dipakai oleh Islandia, Irlandia Utara, Polandia, Slovakia, bahkan Wales sang juara grup B.

13533343_10209934096653167_6630695380974417807_n

Pertanyaannya: mengapa di tengah sebuah turnamen level tinggi seperti ini, masih banyak tim yang memilih permainan bertahan? apa untungnya bermain bertahan?

Sebenarnya bagi sebagian besar tim nasional, mengambil opsi formasi bertahan malah tampak logis karena setelah liga domestik yang panjang dan melelahkan, para pelatih tim nasional biasanya hanya mendapatkan waktu dua minggu untuk melatih para pemainnya. Padahal dalam sebuah formasi dan taktik diperlukan adaptasi dan proses saling pengertian antar pemain. Faktor itu kemudian bisa menjadi alasan bahwa lebih mudah (atau setidaknya lebih cepat) untuk membangun tim yang defensif ketimbang tim yang offensif, karena kebutuhan dasar sistem bertahan sudah jadi insting dasar semua pemain. Gerakan-gerakan bertahan pun (seperti arah sundulan, arah sapuan bola, arah tackling) lebih mudah diadaptasikan ke skenario baru

Sebaliknya, membangun serangan yang mengalir dan bertempo tinggi jelas membutuhkan saling pengertian yang lebih tinggi antara tim, dan itu perlu waktu. Karenanya tidak mengejutkan jika di fase grup jarang terlihat taktik-taktik yang luar biasa karena para pemain baru beradaptasi. Mungkin, kita bisa harapkan nanti pelan-pelan pertandingan akan jadi menarik ketika mereka mulai memahami pergerakan teman-temannya dan saling beradaptasi dengan proses pengambilan keputusan antar mereka.

Nah, lalu satu alasan lagi mengapa banyak tim yang memilih bermain bertahan, adalah karena untuk pertama kalinya dalam turnamen sekelas ini ada peluang (meski kecil) untuk lolos ke babak 16 besar tanpa memenangkan satu pertandingan pun. Contoh terbaik adalah Portugal, mereka adalah satu-satunya tim yang tidak pernah menang di fase grup, tapi “cuma” dengan modal tiga angka dari tiga kali seri, kini mereka sedang bersiap melumat Kroasia di fase 16. Maka sistem yang baru ini jelas membuat hasil imbang semakin berharga, maka logis jika tim-tim underdog memilih bertahan secara maksimal dan mengandalkan serangan balik untuk meraih poin.

Semoga hal ini akan sedikit berubah di putaran 16 besar, yaitu ketika setiap tim sudah mulai beradaptasi akan taktik yang ada di kepala pelatihnya

(Bagian kedua dari tiga tulisan tentang pacekliknya gol di Piala Eropa 2016)

‪#‎EURO2016‬

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #10: Arrivederci atau Adiós?
Olympic Stadium, Kiev, 1 Juli 2012, pemain-pemain Italia sudah tidak bisa mengangkat mukanya lagi untuk melihat papan skor. Mereka habis dibantai 0-4 oleh Spanyol lewat gol dari Silva, Jordi Alba, Fer...
Catatan Euro #13: Revolusi Belgia
Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan seli...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...
Sampdoria, Seperti Biasa
Sudah lama nggak nulis soal Sampdoria... tentu karena Serie A belum jalan, tapi tadi malam giornata pertama pun sudah mulai dan Sampdoria mengawalinya dengan manis setelah menekuk Empoli 1-0 di kandan...
Catatan AFCON #05: Pembuktian Kamerun
Kemenangan Kamerun atas Senegal tadi bukan hanya bermakna selembar tiket ke semifinal, tapi lebih jauh dari itu juga memperebutkan sebuah nama baik di dunia sepakbola. Kamerun adalah tim kuda hitam d...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.