Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen

Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan grup Piala Eropa 2016. Setelah itu masih ada putaran terakhir, putaran ketiga, putaran yang menentukan tim-tim mana saja yang akhirnya lolos ke babak berikutnya.

Ada yang menarik saat melihat klasemen sementara di setiap grup, yaitu: LIMA BESAR tim dengan rata-rata usia PALING MUDA ternyata berhasil menempati posisi satu atau dua, dan tentu saja mereka berpeluang lolos asal tetap bermain baik

Berikut ini perinciannya:

  • INGGRIS (rata-rata usia 25,8 tahun, tim termuda di Piala Eropa 2016) ada di peringkat 1 grup A,
  • JERMAN (rata-rata usia 25,9 tahun) ada di peringkat 1 Grup C
  • SWISS (rata-rata usia 26,1 tahun) ada di peringkat 2 Grup A
  • BELGIA (rata-rata usia 26,4 tahun) ada di peringkat 2 Grup E
  • KROASIA (rata-rata usia 26,7 tahun) ada di peringkat 2 Grup D

Tidak heran jika Inggris ada di peringkat atas, karena kalau dihitung sejak Piala Dunia 1990 memang baru Inggris yang paling rajin memasukkan pemain muda di tim nasional. Misalnya: Phil Neville di Piala Eropa 1996, Michael Owen dan Rio Ferdinand di Piala Dunia 1998, Gareth Barry di Piala Eropa 2000, Wayne Rooney di Piala Eropa 2004, Theo Walcott dan Aaron Lennon di Piala Dunia 2006, lalu Alex Oxlade-Chamberlain dan Jack Butland di Piala Eropa 2012. Sementara tim lain masih terlalu “pelit” untuk memasukkan darah muda.

Tapi kali ini ada LIMA tim “berondong” yang ternyata bisa bertahan dari serbuan “pemain-pemain tua”, ini menarik sekali…

Rata-Rata Usia Tim di Piala Eropa 2016
Rata-Rata Usia Tim di Piala Eropa 2016

Sebab kita tahu bahwa Alan Hansen, (mantan pemain Liverpool era 80-90) pernah berkata “You can’t win anything with kids.” Saat itu Hansen menujuk pada tim Manchester United era 95 yang berisikan pasukan muda, seperti: Gary Neville, Paul Scholes, Ryan Giggs, Phil Neville, Nicky Butt, David Beckham dan John O’Kane yang rata-rata usianya masih 18-21 tahun (dan dia salah besar, Manchester United juara di musim 1995/96 dengan bersenjatakan para pemain muda itu). Namun meskipun begitu kalimatnya tetap layak dipikirkan.

Pasalnya, memberi kesempatan pada pemain muda memang bagus, tapi bagaimanapun—apalagi kalau bicara tim nasional—sudah layakkah anak-anak muda itu menerima beban berat di pundaknya? Sebab jika bicara klub maka beban menang paling “hanya” datang dari penduduk satu kota, sementara tim nasional? Itu satu negara!

Tapi Mahdi Ali, pelatih tim nasional Uni Emirat Arab punya pandangan sendiri. Menurut dia, menyuntik tim dengan pemain-pemain muda perlu dilakukan secara signifikan, sebab itu penting terutama untuk melihat perkembangan skill pemain , “We have to look for new players, for young players to complete the cycle for this age-group.” Begitu katanya.

Masalahnya cuma satu: pemain muda belum memiliki soliditas (kepadatan, kekukuhan, ketahanan), mungkin itu sebabnya Inggris tidak pernah benar-benar “menyala” di sebuah turnamen. Setelah juara Dunia 1966, prestasi tertinggi Inggris cuma semifinal Piala Eropa 1996. Pemain mudanya belum cukup punya mental bermain di turnamen besar

Jadi kita lihat di putaran berikutnya, seperti apa nasib berondong-berodong dari Jerman, Swiss, Belgia, dan Kroasia? Bisakah mereka konsisten dan menepis lagi pendapat dari Alan Hansen? Semoga saja… []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #07: Mengapa Mereka Bertahan?
Mari kita bicara dengan data. Saat ini sudah dipastikan Islandia, Irlandia Utara, Italia, dan Slovakia lolos ke fase 16 besar. Kenapa kita sebut empat negara itu? Karena menurut statistik, empat tim i...
Catatan Euro #13: Revolusi Belgia
Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan seli...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...
Saat Persib "Mengoyog" Persija
Kejurnas PSSI musim 1960/1961, posisi klasemen pada pertandingan terakhir benar-benar membuat tegang. PSM Makassar ada di posisi paling atas dengan poin 10, Persib Bandung berdiri di posisi dua dengan...
Catatan AFCON #01: Hingar Bingar yang Tak Terdengar
Apakah di Indonesia ada yang tahu kalau sekarang sebenarnya sedang berlangsung gelaran Piala Afrika di Gabon? Mungkin kalau para wartawan sport, pandit football, atau praktisi sepakbola sih tahu ya, k...
Catatan AFCON #05: Pembuktian Kamerun
Kemenangan Kamerun atas Senegal tadi bukan hanya bermakna selembar tiket ke semifinal, tapi lebih jauh dari itu juga memperebutkan sebuah nama baik di dunia sepakbola. Kamerun adalah tim kuda hitam d...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.