Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan

Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada pola permainan bertahan.

Sebenarnya ini mengecewakan, Kenapa juga negara dengan sepakbola seatraktif Spanyol dan negara Amerika Latin macam Argentina atau Brazil yang seni sepakbolanya terkenal enak ditonton malah memilih bermain beton?

Tapi beda kata fans, beda kata pelatih. Contohnya Lazaroni, jutaan Rakyat Brazil protes padanya karena sejak dipegang dia sepakbola Samba Brazil seperti musnah. Tapi menanggapi kritikan itu dia hanya berkata:” Tidak peduli pada sepakbola Indah, yang terpenting adalah menang!”. Sama seperti Lazaroni, begitu juga pendapat Clemente ”Bagi saya, bukan bagaimana sebuah tim harus menang, tapi bagaimana sebuah tim bisa tidak terkalahkan, dan saat ini (Piala Dunia 1994) saya sungguh memiliki sebuah kesebelasan yang sulit dikalahkan.”

Kalau mendengar kata-kata para pelatih kawakan ini, pasti Helenio Herrera melonjak-lonjak kegirangan di dalam kuburnya. Helenio Herrera adalah pelatih asal Argentina yang ternyata lebih suka permainan bertahan ketimbang ber-Tango seperti lazimnya gaya Argentina. Dialah penemu formasi ultra defensif 5-3-2, juga penemu format serangan balik dengan mengandalkan bek sayap.

Jadi kalau sekarang kita mengenal fullback dengan mobilitas tinggi macam Philip Lahm, Dani Alves, Patrice Evra, Marcelo, David Alaba atau Bacary Sagna, mereka semuanya memainkan posisi yang dilakoni oleh Giacinto Facchetti (Inter Milan 1960–1978) yang dipercaya sebagai fullback pertama di dunia. Facheti memainkannya posisi baru ini dengan baik dan produktif. Misalnya pada musim kompetisi 1965/1966, dari 32 pertandingan dia bisa mencetak 10 gol. Jumlah yang sangat tinggi untuk ukuran pemain belakang.

Strategi Herrera sebenarnya juga “hanya” pengembangan dari strategi milik Karl Rappan, pelatih Swiss di era 1930. jadi jika Sepp Herberger (Jerman) menemukan posisi Libero, Herrera menyumbang posisi fullback, maka Karl Rappan menemukan posisi sweeper atau sering dia sebut sebagai “verrouilleur

Ternyata ketimbang libero yang lebih ofensif, posisi sweeper (atau penyapu) digabung dengan fullback ini sangat cocok dengan strategi Herrera yang sering mengatakan: “Saya dibayar hanya agar tim saya tidak kalah melawan sistem permainan seperti apapun juga.”

helenio-herrera-chalkboard

Maka Herrera menciptakan sistem yang destruktif pada serangan. Timnya harus menunggu lawan menyerang, dan sebisa-bisanya bertahan selama mungkin hingga semua lawan sudah masuk ke area pertahanan. Saat itulah serangan dipatahkan, lalu lewat dua bek sayap yang bergerak cepat dibangunlah serangan balik ke depan.

Dengan strategi “menunggu” serangan ini, Herrera bisa membawa Inter Milan juara liga Italia 1963, 1965, dan 1966. Juara Piala Champions 1964 dan1965, juga juara Piala Interkontinental 1964 dan 1965. Inter Milan menjadi tim yang terkenal di dunia, pemain-pemainnya jadi sangat populer, mereka sampai diundang ke istana Kremlin untuk memberikan coaching clinic, dan untuk pertama kalinya dunia dikejutkan dengan fakta bahwa strategi bertahan bisa membawa kemenangan.

Strategi ciptaan Herrera diadopsi dan dikembangkan lagi oleh Nereo Rocco, orang Italia asli yang disebut sebagai bapak catenacio. Dengan strategi defensif yang sudah disempurnakan itu Rocco bisa membawa AC Milan juara liga Italia 1968, Copa Italia 1972, 1973, dan 1977. Juara Piala Champions 1969, juara Piala Winners 1968 dan 1973, serta juara Piala Interkontinental 1969

Karena deretan kesuksesan itulah maka dalam sekejap cattenacio pun jadi merk tim-tim Italia.

Lepas dari hasil-hasil buruk, tampak nyata sekali hasil yang diberikan oleh Catenaccio untuk tim nasional Italia: Juara Dunia 1982, runner-up Piala Dunia 1994, dan Juara Dunia 2006.

Juga tidak kurang-kurangnya pelatih yang sehari-hari memainkan strategi menyerang di klub, ketika melatih tim nasional dia langsung memasang strategi bertahan. Contohnya Giovanni Trapattoni, Azeglio Vicini, Dino Zoff, Mercello Lippi, Cesare Maldini, atau pelatih Italia di Euro 2016 ini, Antonio Conte.

Di luar Italia, strategi ini pun ternyata begitu ekspansif. Selain Javier Clemente, Carlos Bilardo, dan Sebastiano Lazzaroni yang sudah disebut tadi, kita juga bisa melihat strategi dari Guy Thys yang selalu memasang enam pemain belakang tapi bisa membawa Belgia ke posisi empat di Piala Dunia 1986 dan runner-up Piala Eropa 1980. Selain itu juga ada Otto Rehhagel, orang Jerman yang tidak malu-malu memasang strategi beton ketika membawa Yunani juara Piala Eropa 2004.

Strategi bertahan yang sudah teruji oleh jaman itu ternyata terus berkembang hingga saat ini di Piala Eropa 2016

(Bagian pertama dari tiga tulisan tentang pacekliknya gol di Piala Eropa 2016)

aaa
‪#‎EURO2016‬

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen
Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan gr...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi
“Ecstasy” demikian harian L'Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah ...
Saat Persib "Mengoyog" Persija
Kejurnas PSSI musim 1960/1961, posisi klasemen pada pertandingan terakhir benar-benar membuat tegang. PSM Makassar ada di posisi paling atas dengan poin 10, Persib Bandung berdiri di posisi dua dengan...
Catatan AFCON #02: Tak Ada Lagi Keajaiban Untuk Mahrez
Seusai peluit panjang ditiup, Riyadh Mahrez memandang langit biru. Perasaannya campur aduk. Sejak awal situasi di grup B ini memang tidak menguntungkan bagi Algeria dan dirinya. Ditahan seri 2-2 oleh...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *