Catatan Euro #04: Rusuh? Pulang!

Seriusan, saya kira lempar-lemparan flare dan pertandingan dihentikan gara-gara penonton rusuh cuma terjadi di Indonesia. Ternyata nggak! Di level Piala Eropa juga bisa lho.

Contohnya tadi malam, pertemuan antara Kroasia dan Rep. Ceko di St Etienne diwarnai insiden tidak mengenakkan setelah “oknum” pendukung Kroasia melempar-lemparkan flare ke dalam lapangan. Flare yang dilemparkan ini sudah sampai level berbahaya, sampai-sampai Ivan Perisic harus melindungi wajah setelah salah satu flare meledak langsung di depannya. Akibatnya, wasit Mark Clattenburg terpaksa harus menghentikan pertandingan.

Lalu apakah gangguan selesai? Tidak! Hujan flare tetap berlangsung, bahkan ketika lapangan tengah disterilkan, salah seorang petugas juga terkena lemparan flare dan harus ditolong oleh rekan-rekannya.

Melihat ini, pelatih Kroasia, Ante Cacic jengkel bukan main. “Itu bukan fans Kroasia, itu teroris!” begitu katanya. Kapten Kroasia, Darijo Srna juga cuma bisa geleng-geleng kepala: “Saya sudah tidak tahu harus bilang apa, hal ini terulang terus menerus.” Sementara itu pemain depan Kroasia, Ivan Rakitic juga cuma bisa pasrah: “Kita lihat, apakah kita masih bisa bermain di pertandingan berikutnya lawan Spanyol? Jangan-jangan kita malah harus pulang.”

Komentar Rakitic beralasan, pasalnya sekarang UEFA dan FIFA lagi galak-galaknya menangani soal kerusuhan. Ini bukan hanya gara-gara tawuran antara pendukung Inggris dan Rusia beberapa hari yang lalu, tapi memang Kroasia juga sedang diiinvestigasi berkaitan dengan kerusuhan fans ketika mereka berhasil menekuk Turki 1-0 di pertandingan sebelumnya.

Tapi memang pemain tidak bisa-apa-apa. Para pemain itu hanya ingin bermain bola, selain bawa kehormatan negara, mereka pun pasti punya cita-cita atau ambisi pribadi yang sekarang terancam gagal hanya gara-gara kelakuan suporter yang mungkin menyundul bola saja tidak becus. Kekesalan ini kelihatan sekali dari pemain Rusia Artem Dzyuba setelah mengetahui bahwa negaranya kena denda 150 ribu euro dan terancam didiskualifikasi. Dia bilang

“This is not a street fighting championship, please, let’s focus on football!”.

Dua bentrokan ini menambah daftar tawuran antara suporter setelah pendukung Jerman dan Ukraina juga bentrok di Lille. Padahal, selain denda dan ancaman pemulangan, tidak kurang-kurangnya juga usaha pemerintah Perancis mengurangi agresifitas ini, salah satunya adalah dengan pelarangan mengedarkan alkohol di fan zones. Di kota Lens sudah keluar larangan menjual minuman keras di pusat kota (berarti belinya harus di pinggi kota, kan?) dan ada pembatasan jenis-jenis alkohol yang boleh beredar. Lalu di Lille ada sanksi untuk manajemen bar yang berani-beraninya menjual alkohol pada orang yang sudah mabuk (euh, ini aturan agak aneh sih kedengarannya).

Pertanyaan saya sih sederhana: apakah kekerasan memang benar-benar bisa dihilangkan dari sepakbola?

13427858_10209870832671607_7898054749552400685_n

Kalau saya baca-baca buku sih, dalam Psikologi Sosial dikatakan: rasa frustasi dalam hidup masyarakat adalah sumber yang melahirkan agresi. Akibatnya, diperlukan sebuah sarana untuk menyalurkan rasa frustasi itu. Nah, saya pikir… keberadaan penonton di stadion yang bersifat massal adalah salah satu sarana yang paling mungkin untuk jadi penyaluran agresi.

Itulah sebabnya, redaktur NRC Handlesblad, Guus van Holland “agak” mengkritik kebijakan pemerintah Perancis, karena menurutnya, selama ini kekerasan dalam sepakbola selalu coba diatasi secara klise, yaitu dengan membuat aturan baru (misalnya melarang alkohol atau meningkatkan sanksi) dan itu semua ternyata juga tidak berhasil. Padahal masalah kekerasan ini sebenarnya justru teletak pada pemainnya, “Jika para pemain dapat memainkan bola secara gentlemen dan sportif maka kekerasan pendukung akan redam dengan sendirinya.“

Sepertinya Guus van Holland sudah membaca tulisan Ekkers dan Hoefnagels dalam “Agressie en Straf op het Voetvalveld” (1972), menurut mereka: Ada mata rantai antara kekerasan dalam sepakbola dan agresi sosial… yang harus mematahkan mata rantai itu adalah pemain. Jika mereka bisa mempertontonkan pertandingan yang menarik tanpa kekerasan maka emosi penonton akan teredam dan agresi akan berkurang dengan sendirinya.

Sayangnya, semua harapan itu tidak berlaku bagi pemain bola. Egidius Braun, mantan Presiden Liga Jerman pernah berkata ”Fussball ist mehr als 1-0” (Sepakbola itu lebih dari sekadar 1-0), atinya ini bukan cuma urusan skor. Miroslav Blazevic, mantan pelatih Kroasia di Piala Eropa 1996 juga berkata “Sepakbola seperti perang.”.

Karena itulah dulu saya selalu suka melihat emosi-emosi yang ditampakkan Patrick Vieira kala membela Arsenal, sepertinya nyawa pun mau dia pertaruhkan kalau ada yang macam-macam pada timnya. Maka tidak aneh kalau kelakuan dia brutal, berkelahi dengan Ruud Van Nistelroy, ribut dengan Alan Shearer, “rajin” protes pada wasit sampai kena kartu kuning. Toh fans Arsenal menangis waktu Arsene Wenger “nekat” melepas Viera ke Juventus. Karena sikapnya yang tanpa kompromi itulah dia jadi kesayangan pendukung Arsenal.

Karakter yang sama juga bisa lihat dalam diri pemain-pemain lama macam: Gennaro Gattuso, Roy Keane, Mark Van Bommel, Marco Materazzi, Jens Lehmann, atau Nigel De Jong… mereka sebenarnya hanya “meneruskan” tradisi senior-seniornya macam Jose Luiz Chilavert, Eric Cantona, Vinnie Jones, atau Paolo di Canio. Lalu sekarang? Kita bisa lihat “contoh-contoh” yang sama dari Zlatan Ibrahimovic, Pepe, atau Luiz Suarez.

Artinya… di setiap jaman akan selalu ada pemain bola yang menjadi hooligan di lapangan, memang menjadi hooligan sama artinya dengan mereka merusak diri sendiri, tapi karena itulah mereka membangun kedekatan dengan para fans.

Jadi saya pikir… nanti dulu lah teori-teori psikologis sosial itu diterapkan, sekarang waktunya bermain bola, waktunya “perang”![]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #01: Apa Gunanya Pemain Tua?
Kalau ada jin dari lampu Aladdin yang bisa mengabulkan permintaan tapi cuma memberi pilihan antara: jadi pemain sepakbola kelas dunia atau musisi kelas dunia, saya yakin--jika kriteria pertimbangannya...
Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo
Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d'Or ini mengatakan: "... I tho...
Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...
Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi
“Ecstasy” demikian harian L'Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah ...
Catatan AFCON #05: Pembuktian Kamerun
Kemenangan Kamerun atas Senegal tadi bukan hanya bermakna selembar tiket ke semifinal, tapi lebih jauh dari itu juga memperebutkan sebuah nama baik di dunia sepakbola. Kamerun adalah tim kuda hitam d...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.