Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales

Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya itu… ingat Bale baru ingat Wales, ingat Giggs baru ingat Wales. Bukan sebaliknya. Jadi nama Wales tidak pernah benar-benar bunyi di kuping.

Sampai akhirnya kemarin saya baca kutipan wawancara pelatih timnas Inggris, Roy Hodgson yang menggambarkan partai Inggris vs Wales, dia bilang: “Many people in Britain are looking forward to this game, we certainly are, and maybe around the world. It’s a game between brothers and that adds spice and interest.”

Disini saya baru nyadar bahwa partai Inggris vs Wales memang selalu menyedot perhatian, terutama di tanah Inggris Raya.

Kalau dilihat sejarahnya, pertemuan dua saudara ini dimulai dari sebuah pertandingan persahabatan tanggal 18 Januari 1879, ketika itu Inggris menang 2-1 lewat gol Herbert Whitfeld dan Thomas Heathcote, sementara Wales mencetak satu gol dari William Henry. Lalu pertemuan berikutnya tanggal 15 Maret 1880, Inggris masih mendominasi dan menang 3-2. Tapi Wales tidak mau terus-terusan kalah, di pertemuan ketiga: 26 Februari 1881, mereka bisa menekuk Inggris 1-0 lewat gol tunggal John Vaughan. Lalu puncaknya terjadi pada pertemuan keempat tanggal 13 Maret 1882, pertemuan yang jadi titik penanda rivalitas keduanya. Saat itu di Racecourse Ground, Wales berhasil melumat Inggris 5-3

Inggris seperti tersentak, dan sejak itulah melawan Wales berarti juga perang harga diri. Inggris mengamuk, pertemuan-pertemuan berikutnya terus didominasi oleh Inggris, sampai-sampai kemenangan Wales berikutnya baru bisa terwujud tanggal 15 Maret 1920. Selisih tiga puluh delapan tahun!!

Pertemuan mereka yang paling baru terjadi di Grup G Babak kualifikasi Piala Eropa 2012, saat itu Inggris yang dilatih Fabio Capello bisa menekuk anak-anak asuhan Gary Speed 1-0 lewat gol dari Ashley Young. Sehingga totalnya dari 101 kali pertemuan, rekor mereka adalah: Inggris menang 66 kali, Wales menang 14 kali, dan seri 21 kali…

aqavaq-1-57617513ca58c

Nah, nanti malam akan terjadi pertemuan mereka yang ke 102… dan perlu dicatat ini adalah pertemuan mereka yang pertama kali di putaran final sebuah Major Tournament. Artinya, “niveau” setiap kesebelasan sedang tinggi-tingginya, ini bukan lagi babak kualifikasi atau persahabatan tempat coba-coba formasi. Di sini harga diri setiap negara dipertaruhkan dalam level tertinggi Eropa. Pertanyaannya, akankah ini jadi kemenangan ke 67 Inggris? Ataukah ini akan jadi ajang Wales bangkit?

Saya yakin, Wales akan benar-benar berusaha memanfaatkan ajang Euro 2016 ini karena cuma di kejuaraan Eropa atau Dunia sepakbola (serta rugby) macam inilah mereka bisa membawa nama negara sendiri. Sementara–sesuai dengan aturan negara yang berada di bawah naungan United Kingdom–untuk Cricket mereka harus mengusung nama “England and Wales Cricket Team”, sementara di ajang-ajang lain (termasuk Olimpiade) mereka harus rela menjadi satu (bersama Inggris, Skotlandia, dan Irlandia Utara) di bawah bendera Great Britain. Terdengar agak menyebalkan ya?

Dan sebenarnya kalau dikaji… pertandingan nanti malam bisa dipastikan terjadi antara gaya Inggris melawan gaya Inggris. Tidak heran, karena antara Wales dan Inggris sebenarnya terjadi hubungan sepakbola yang “mesra”. Misalnya: tercatat beberapa klub dari Wales bermain di sistem Liga Inggris, seperti Swansea City, Cardiff City, Newport County, atau Wrexham. Sebaliknya juga sama… beberapa klub Inggris juga ikut tergabung dalam liga sepakbola Wales, seperti: The New Saints, Trefonen F.C., Newcastle A.F.C, atau Bucknell F.C.

Lebih jauh lagi… kecuali Gareth Bale (Real Madrid) dan Owain Fôn Williams (Inverness), pemain-pemain Wales di skuad Euro 2016 semuanya mencari makan di tanah Inggris. Rinciannya: Burnley, Birmingham, MK Don, Nottm Forest, Arsenal, Leicester, Wolves, Tottenham, West Brom, dan West Ham masing-masing manyumbang 1 pemain. Swansea, Fulham, Reading, dan Liverpool menyumbang 2 pemain, dan Crystal Palace menyumbang 3 pemain. Bahkan Hal Robson-Kanu, pencetak gol kemenangan Wales atas Slovakia kemarin malah pernah membela timnas Inggris U-19 dan U-20

Tapi semesra apapun sistem sepakbola mereka, perang tetaplah perang. Apalagi posisi Inggris di grup B sedikit agak mengkhawatirkan setelah ditahan seri Rusia 1-1, sebaliknya Wales sedikit bisa bernafas lega karena bisa mengantongi tiga angka hasil mengalahkan Slovakia 2-1 di pertandingan awal.

Wales' midfielder Aaron Ramsey (C) vies for the ball with England's defender Gary Cahill (L), England's midfielder Eric Dier (2nd L) and England's defender Kyle Walker (R) during the Euro 2016 group B football match between England and Wales at the Bollaert-Delelis stadium in Lens on June 16, 2016. / AFP PHOTO / PHILIPPE HUGUEN
/ AFP PHOTO / PHILIPPE HUGUEN

Psy-war pun mulai dilancarkan oleh pemain dari kedua kesebelasan. Dimulai dari Jack Wilshere (Arsenal/ Inggris) yang mengatakan pada pers bahwa dia bangga menjadi “part of the superior squad”, ocehan ini segera dibalas oleh rekan satu klubnya Aaron Ramsey (Arsenal/ Wales) yang mengatakan bahwa “Wales have the best team!”.

Pemain belakang Neil Taylor (Swansea/ Wales) pun tidak mau kalah, dia bilang: ”…We know the threat we carry and, on our day, we feel we can beat anybody, whether it’s England or anyone else.”… kalimat ini jelas manas-manasi Inggris, kalau tidak, kenapa nama Inggris dimention?

Tapi sebenarnya yang paling bikin panas adalah komentar-komentar Gareth Bale (Real Madrid/ Wales), dia mengatakan pada wartawan bahwa kami (timnas Wales) “…prouder and more passionate about representing their country than their opponents.”, entah apa maksudnya… lalu ketika dia disodori pertanyaan siapa anggota tim Inggris yang cocok untuk bermain di Wales, Bale menjawab “Tidak ada”, lebih lanjut dia menegaskan: “…none of Roy Hodgson’s players are good enough to be in the Wales team!”… memang nyari masalah ini orang. Mentang-mentang nggak main di Inggris. hehe

Tapi untunglah… saya bersyukur untuk mengatasi anak-anak muda berdarah panas ini, ternyata kedua pelatih mereka tetap berkepala dingin (orang tua memang beda level kesabarannya).

Salah satunya adalah penegasan dari pelatih Wales, Chris Coleman yang mengatakan bahwa Wales akan lebih fokus untuk mengejar babak 16 besar, bukan semata-mata datang untuk melawan Inggris, lengkapnya dia mengatakan: “Wales focused on last 16, not England… It’s about what happens on the pitch. All that other stuff is irrelevant. We don’t go into mind games. Let’s just get down to business.”

Ya, silahkan buktikan saja di lapangan, semoga saja anak-anak Wales nanti malam tidak turun dengan semangat ala Phill Bennet.

Buat yang belum tahu… Phill Bennet adalah kapten tim Rugby Wales. Pada tahun 1977, dalam partai menghadapi Inggris, dia mengatakan ini pada teman-temannya:

“Look what these bastards have done to Wales. They’ve taken our coal, our water, our steel. They buy our homes and live in them for a fortnight every year. What have they given us? Absolutely nothing. We’ve been exploited, raped, controlled and punished by the English – and that’s who you are playing this afternoon!”

Heu… ngeri juga urusannya kalau begini

‪#‎EURO2016‬

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #10: Arrivederci atau Adiós?
Olympic Stadium, Kiev, 1 Juli 2012, pemain-pemain Italia sudah tidak bisa mengangkat mukanya lagi untuk melihat papan skor. Mereka habis dibantai 0-4 oleh Spanyol lewat gol dari Silva, Jordi Alba, Fer...
Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan
Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada...
Catatan Euro #13: Revolusi Belgia
Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan seli...
Catatan Euro #14: Dewi Fortuna dan Kekasih Baru
Ada banyak kejadian unik di Piala Eropa kali ini, salah satunya adalah Cristiano Ronaldo yang melemparkan mikrofon wartawan CMTV ke danau (untung tidak dengan wartawannya sekalian). Menurut gosip, kat...
Catatan Euro #15: Hati-Hati Jerman
Pada tahun 2006 ketika Jerman kalah 1-4 dari Italia pada sebuah pertandingan persahabatan  di Firenze, seluruh Jerman seperti mengamuk. Jurgen Klinsmann, pelatih Jerman saat itu adalah orang yang pali...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.