Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo

Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d’Or ini mengatakan:

“… I thought they’d won the Euros the way they celebrated at the end, it was unbelievable. When they don’t try to play and just defend, defend, defend this in my opinion shows a small mentality and they are not going to do anything in the competition.”

Ronaldo lupa kalau ini memang pertama kalinya Islandia lolos ke turnamen sekelas Piala Eropa. Jika diibaratkan sebuah liga, maka Islandia adalah semacam tim promosi yang target realistisnya adalah agar jangan degradasi di akhir musim. Dengan target seperti itu, maka main bertahan adalah hal yang masuk akal.

Apalagi tuntutan KSI (PSSI-nya Islandia) bagi pelatih Islandia, Heimir Hallgrímsson, agak lebih ringan yaitu: ‘Don’t lose the first game’, dan mereka sudah membuktikannya. Tidak heran ketika Birkir Bjarnason bikin gol di menit ’50, mereka semua tampak gembira. Kegembiraan yang di mata Ronaldo tampak berlebihan.

Wajar kok kalau Islandia tidak menetapkan target berlebihan. Karena–selain mereka tim baru–dari keseluruhan tim yang berlaga di Euro 2016, peringkat FIFA mereka ada di nomor dua dari bawah. setelah Albania. (Islandia peringkat 34, Albania peringkat 42)

Lalu secara kultur olahraga, sepakbola di Islandia masih belum terlalu populer. Mereka masih harus bersaing dengan bola tangan dan cricket. Bahkan sebenarnya tim sepakbola putri Islandia malah lebih berprestasi dari putra, tim sepakbola putri mereka menduduki peringkat 18 FIFA dan pernah mencapai perempat final di Piala Eropa Wanita tahun 2013

Karena itulah keberadaan Islandia di Piala Eropa kali ini bisa disejajarkan dengan Tahiti di Piala Konfederasi 2013. Saat itu orang-orang melihat sendiri di pertandingan pertama melawan Nigeria, menit ’54, ketika Jonathan Tehau berhasil bikin gol, mereka merayakan gol itu seolah-olah sudah merebut gelar juara, padahal faktanya: Tahiti kalah 1-6

Sementara Cristiano Ronaldo?

Saya punya pendapat bahwa dia–juga Lionel Messi–adalah pemain yang mendapat “kutukan superlatif”, artinya di setiap pertandingan… publik selalu menuntut dia untuk bikin gol. Tapi bikin gol saja jadi tak cukup, publik mengharuskan dia bikin gol indah. Ternyata juga bikin gol indah pun tak cukup, pubik berharap selama 90 menit dia pun harus konsisten bermain ofensif, akrobatik, dan enak dilihat.

Akhirnya, kalau Ronaldo bikin gol dengan cara “biasa”… publik pun menganggap biasa, kalau dia bikin gol dari penalti malah akan diejek karena “tampak terlalu gampang” untuk pemain sekelas dia. Nah, apalagi kalau dia tidak bikin gol… akan dicerca habis-habisan.

Hal ini diakui langsung oleh Ronaldo, katanya “It was a little bit frustrating, we tried hard to win the game…”

Ya, pasti dia frustasi, karena turnamen ini adalah ajang paling pas baginya untuk membuktikan diri tanpa harus “diadu-adukan” dengan Lionel Messi seperti yang terjadi tiap hari di Spanyol. Kelihatan banget kok, di Euro 2016 ini media juga sepertinya masih belum tahu harus “mengadu-adukan” Ronaldo dengan siapa? Gareth Bale? Bastian Schweinsteiger? Andrés Iniesta? Jamie Vardy? Siapa?

Sejauh ini tampaknya belum (tidak) ada, karena Ronaldo seperti datang dari kelas yang berbeda, dan publik juga mengharapkan dia bermain dengan kelas yang berbeda.

chart

Sayangnya, data tidak berpihak pada Ronaldo. Catatan statistik malah dia selalu melempem kala bermain di tim nasional. Misalnya, pada Piala Eropa 2012 dia “cuma” bikin 3 gol dari 37 kali tembakan ke gawang. Di Piala Dunia 2014 malah dia “cuma” bikin 1 gol dari 22 kali tembakan ke gawang. Sedangkan kalau dihitung per-game, Ronaldo tampak lebih impresif saat bermain di Real Madrid. Kalau sedang main di di La Liga dia bisa mencatat rata-rata 1,1 gol per pertandingan, agak sedikit menurun di Liga Champions menjadi 0,72 gol per pertandingan. Tapi di tim nasional dia mencatat angka yang lebih rendah lagi: hanya 0,31 gol per pertandingan

Kalau saya sih melihat, seperti ada beban berat di pundaknya saat membela timnas. Ya, wajar sih, karena sejak Portugal jadi runner up Piala Eropa 2004, dia sudah tidak punya partner yang sepadan lagi di tim nasional. Luis Figo pergi, Rui Costa pergi, Nuno Gomes pensiun, Pauleta juga tidak berkembang. Paling yang sekarang tersisa tinggal Nani.

Sementara kalau di Real Madrid dia masih bisa berbagi beban dengan Benzema, Rodriguez, atau Gareth Bale… di tim nasional tidak.

Ronaldo jadi frustasi, tapi sayangnya pemain sekelas dia mengekspresikan kefrustasiannya itu dengan menyalahkan Islandia “…we tried hard to win the game, Iceland didn’t try anything, they were just ‘defend, defend, defend’ and playing on the counter attack. It was a lucky night for them.”

Aduh mas Ron, apa salahnya sih dengan defend? Bukankah tidak ada larangan untuk melakukan defend?

Sampai akhirnya pada ending wawancara itu keluarlah sebuah pembenaran: “…if you see Spain, France, they are the strongest teams in the tournament and had a difficult time to win their games so for us it was tough but we are confident…”

Ah, kasihan banget ya jadi Ronaldo…

‪#‎EURO2016‬

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #10: Arrivederci atau Adiós?
Olympic Stadium, Kiev, 1 Juli 2012, pemain-pemain Italia sudah tidak bisa mengangkat mukanya lagi untuk melihat papan skor. Mereka habis dibantai 0-4 oleh Spanyol lewat gol dari Silva, Jordi Alba, Fer...
Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan
Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada...
Sampdoria, Seperti Biasa
Sudah lama nggak nulis soal Sampdoria... tentu karena Serie A belum jalan, tapi tadi malam giornata pertama pun sudah mulai dan Sampdoria mengawalinya dengan manis setelah menekuk Empoli 1-0 di kandan...
Catatan AFCON #02: Tak Ada Lagi Keajaiban Untuk Mahrez
Seusai peluit panjang ditiup, Riyadh Mahrez memandang langit biru. Perasaannya campur aduk. Sejak awal situasi di grup B ini memang tidak menguntungkan bagi Algeria dan dirinya. Ditahan seri 2-2 oleh...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.