Catatan Euro #01: Apa Gunanya Pemain Tua?

Kalau ada jin dari lampu Aladdin yang bisa mengabulkan permintaan tapi cuma memberi pilihan antara: jadi pemain sepakbola kelas dunia atau musisi kelas dunia, saya yakin–jika kriteria pertimbangannya adalah “long-life”–pasti akan lebih banyak orang yang memilih jadi musisi.

Maksud long-life disini adalah umur karier. Musisi atau penyanyi bisa terus berkarya sampai umur 50-60 tahun, tidak ada masalah. Tapi pemain bola? biasanya umur 32 sudah dianggap tua, umur 33 siap-siap jadi cadangan, umur 34 sudah mulai pikir-pikir gantung sepatu, dan umur 35 sudah sudah mulai meniti karir jadi pelatih. Kalaupun ada anomali, itu minoritas.

Pertimbangan pertama jelas fisik, apalagi di negara yang kaderisasinya bagus maka pasti tiap tahun akan bermunculan pemain yang lebih muda, lebih bagus kekuatan fisiknya, dan biasanya lebih besar gajinya…

Karena itulah, saat melihat rilis resmi skuad untuk Piala Eropa 2016, saya bertanya-tanya: untuk apa sih tim sekelas Spanyol masih memanggil Iker Casillas (35), Italia juga masih saja bertumpu pada Andrea Barzagli (35) dan Gianluigi Buffon (38), Perancis masih mau-maunya memanggil Patrice Evra (35), Swedia juga masih menggunakan jasa kiper Andreas Isaksson (34) dan penyerang Zlatan Ibrahimovic (34), Republik Ceko tetap mendaftarkan Petr Cech (34) dan gelandang Thomas Rosicky (35). Atau bisa juga kita tengok Portugal yang sepertinya masih belum juga bisa move on dari bek tua Ricardo Carvalho (38) serta Bruno Alves (34).

Apakah talenta di negara-negara itu sudah kurang? atau… apakah tidak ada anak muda yang bisa menyamai lagi skill senior-seniornya itu? Ah, masa sih? kita ini lagi bicara soal negara-negara langganan Piala Dunia lho… masa sih sampai kekurangan stok pemain?

Memikirkan hal ini, mendadak saya pun jadi ingat satu cerita tentang kesebelasan Jerman di Piala Dunia 1998.

Ketika itu Berti Vogts—pelatih Jerman—diberi tuntutan oleh DFB untuk “meremajakan” timnas. Padahal dia tahu bahwa formasi tim saat itu tidak mungkin kalau tanpa menyertakan seorang pemain bernama Lothar Matthaus, dia adalah seorang libero handal, pemain senior Jerman yang sudah jadi bagian timnas ketika Jerman juara piala Eropa 1980 dan juara dunia 1990.

Jelas dia pemain bagus, masalahnya: umur Matthaus sudah 37 tahun!

Tapi dengan mengesampingkan semua desakan publik, Vogts lalu menemui Mattheus dan berkata: “Bagaimana jika Anda tidak dipasang jadi starting eleven? Bolehkah saya bicara pada seseorang yang mau menerima dengan rela perannya sebagai pemain cadangan?”

Mattheus mau menerima “pinangan” Vogts, dan—meski statusnya adalah pemain senior—dia tetap menerima posisi sebagai pemain cadangan, dengan sabar dia memperhatikan kawan-kawannya bertanding dari bangku cadangan. Sampai akhirnya tiba di pertandingan kedua grup F, Jerman vs Yugoslavia. Hingga menit ’70 Yugoslavia memimpin 2-0 gol, pemain-pemain Jerman tampak sudah buntu, sampai Matthaus masuk, dan hanya dalam waktu 20 menit Jerman bisa menyamakan skor menjadi 2-2

Matthaus memang tidak bikin gol, tapi seperti yang dikatakan kiper Jerman saat itu, Andreas Koepke: “Matthaus memecut kita, kehadirannya memberi angin buat kita.”

Disinilah saya menemukan fungsi pemain-pemain tua. Urusan mereka bukan skill atau fisik tapi mental. Sebab sebuah kesebelasan tidak hanya memerlukan kemudaan, tapi juga soliditas (kepadatan, kekukuhan, ketahanan). Urusan soliditas ini tidak bisa dipasrahkan pada pemain muda, karena biasanya—karena faktor pengalaman dan jam terbang—maka para pemain tua lah yang bisa memunculkannya.

Mungkin mereka yang tua-tua ini tidak usah bermain, mereka cukup ada di pinggir saja. Tapi kalau kehadirannya sudah bikin tim jadi solid maka tugas mereka selesai.

Pemahaman itu juga menjawab kenapa kemarin para penyerang “darah muda” Belgia (Lukaku [23], Hazard [25], Fellaini [28], De Bruyne [24]) selama 90 menit tidak bisa menembus pertahanan “old-crack” Italia (Buffon [38], Barzagli [35], Bonucci [29], Chiellini [31]). Tampak jelas kemarin itu Italia punya soliditas, dan hal tersebut bisa terjadi karena disana masih ada “pemain-pemain tua”.

‪#‎EURO2016‬

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #04: Rusuh? Pulang!
Seriusan, saya kira lempar-lemparan flare dan pertandingan dihentikan gara-gara penonton rusuh cuma terjadi di Indonesia. Ternyata nggak! Di level Piala Eropa juga bisa lho. Contohnya tadi malam, per...
Catatan Euro #07: Mengapa Mereka Bertahan?
Mari kita bicara dengan data. Saat ini sudah dipastikan Islandia, Irlandia Utara, Italia, dan Slovakia lolos ke fase 16 besar. Kenapa kita sebut empat negara itu? Karena menurut statistik, empat tim i...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...
Catatan AFCON #01: Hingar Bingar yang Tak Terdengar
Apakah di Indonesia ada yang tahu kalau sekarang sebenarnya sedang berlangsung gelaran Piala Afrika di Gabon? Mungkin kalau para wartawan sport, pandit football, atau praktisi sepakbola sih tahu ya, k...
Catatan AFCON #02: Tak Ada Lagi Keajaiban Untuk Mahrez
Seusai peluit panjang ditiup, Riyadh Mahrez memandang langit biru. Perasaannya campur aduk. Sejak awal situasi di grup B ini memang tidak menguntungkan bagi Algeria dan dirinya. Ditahan seri 2-2 oleh...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.