Tanggal Tua, Ayo Kita Belanja

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

Pagi ini saya melihat kalender sambil berusaha mengingat-ingat beberapa deadline pekerjaan yang harus selesai bulan ini. Ketika itulah saya sadar bahwa di bulan ini saya sudah ada di fase sepuluh hari terakhir, sebuah fase yang sering disebut sebagai tanggal tua.

Bicara soal tanggal tua selalu menarik, karena rangkaian kata sesederhana itu ternyata punya efek yang cukup besar bagi sebagian besar manusia, dan nyaris semuanya akan berpusar pada urusan uang. Biasanya judgement nya juga sederhana: tanggal tua = akhir bulan = uang menipis

Namun, kalau bicara tentang uang menggunakan stereotip “minderisme”, maka saya selalu berpikir bahwa kaum-kaum borjuis tidak akan memperhatikan tanggal tua. Bahkan mungkin tidak akan terpengaruh sama sekali. Meminjam istilah Bastian Tito, bahwa kedatangan tanggal tua ini “Tidak mampu menggetarkan satupun helai rambut mereka.”  Orang-orang seperti mereka seolah-olah punya gudang uang yang bisa mereka kuras kapanpun mereka mau. Ini pasti beda dengan kelas menengah dan proletar, bagi dua kelas yang terakhir ini, “tanggal tua” adalah sinyal untuk makin mengencangkan ikat pinggang. Kalau biasa naik motor, sekarang naiklah sepeda supaya hemat uang bensin, kalau biasa makan telur maka sekarang makanlah mie instan (ah, berapa harga mie instan sekarang? Lebih mahal dari telur kah? Penak jamanku toh? #EH).

Sebagai orang yang tidak punya tanah, tidak punya alat produksi, dan bukan pegawai pemerintah maka saya resmi masuk ke kelompok proletar. Itu artinya, kata “tanggal tua” tentu merupakan momok juga bagi saya. Apalagi saya jarang punya perencanaan keuangan yang berjalan baik, maksudnya: rencana keuangan sih ada, ditulis rapi sekali, tapi pelaksanaan jauh panggang dari api.  Berantakan.

604bc7aca25c7f64a4628d2bd6573a8cPenyebabnya banyak, antara lain: saya ini terlalu sering membeli barang yang tidak saya perlukan, bahkan karena saya adalah orang yang mudah tergiur oleh iklan maka barang-barang yang saya beli lebih tepat masuk ke dalam kategori sembako, Sembilan Barang Konyol. Misalnya: kemarin saya tertipu karena membeli “Kacamata Tembus Pandang” dari sebuah iklan baris, setelah barangnya datang saya baru sadar kalau semua kacamata tembus pandang. Saya tertipu lagi.

Bagi saya pribadi, tanggal tua adalah masa dimana menu makan saya berubah jadi minimal. Mie instan, kerupuk, dan sambal botolan adalah menu wajib, sementara yang lainnya optional. Kondisi minimalis ini juga merambat ke ATM, makanya saya selalu merasa kehilangan pada sebuah ATM di jalan Suci, Bandung yang masih bisa mengeluarkan pecahan dua puluh ribu.

Karena sejak para bank memperketat limit saldo, mengambil uang di tanggal tua sering jadi scene film horror. Misalnya sisa uang saya tinggal tujuh puluh ribu, sementara limit saldo adalah lima puluh ribu, maka kalau saya tidak menemukan ATM yang masih bisa mengeluarkan pecahan dua puluh ribu, dijamin saya tamat! Game over! Nah, kalau itu sampai kejadian, maka pada akhirnya, dengan keterbatasan isi dompet, satu-satunya yang bisa jadi penyelamat hidup saya (selain doa orang tua dan pinjaman duit dari mantan pacar) adalah program-program diskon tanggal tua.

Seriusan, konsep voucher diskon yang merupakan hasil pemikiran Asa Candler—seorang pebisnis asal Atlanta pada tahun 1887 ini—pada awalnya “hanya” digunakan pada produk sebuah minuman ringan, dimana selembar kupon diskon bisa ditukar dengan sebotol sampel minuman gratis. Konsep ini begitu sukses sampai diperkirakan antara tahun 1894 – 1913, satu dari sembilan orang Amerika telah menerima minuman itu secara gratis, dengan total penjualan 8,5 juta minuman. Pada akhirnya konsep ini pun makin berkembang hingga bukan hanya untuk menjual minuman tapi juga menjadi konsep dasar marketing. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, banyak pihak yang mengakui bahwa konsep ini sangat membantu perekonomian masyarakat Amerika saat terjadi Great Depression, sebuah fase paling kelam dalam sejarah perekonomian mereka.

Tidak jauh berbeda, tanggal tua adalah great depression juga untuk saya, dan seperti di Amerika yang penduduknya diselamatkan oleh voucher diskon, penyelamat great depression saya pun adalah program diskon (Ya, saya laki-laki, tapi kalau pas belanja ada diskon masa saya cuekin?!).

Untungnya, saya hidup di sebuah negeri dimana kaum perempuannya senang belanja (ah dimana sih ada perempuan yang tidak suka belanja?). Maka otomatis orang yang suka belanja pasti juga suka akan konsep potongan harga. Dimanapun ada potongan harga, mbak-mbak dan ibu-ibu yang menggemaskan akan tumpah ruah. Berbanding lurus dengan fakta itu, maka disini jumlah toko (baik offline atau online) yang menawarkan program potongan harga itu jumlahnya banyak-banyak-banyak sekali (sengaja diulang tiga kali biar mantep!). Kalau mau disebutkan satu-satu tidak akan selesai sampai Lebaran Monyet, tapi untuk salah satu contohnya saja bisa kita lihat program-program diskon di situs belanja online terbesar di Indonesia, Matahari Mall yang berani pasang potongan harganya sampai 80%. Apa lagi namanya itu kalau bukan mau memanjakan konsumen?

Tapi memang  sebesar apapun potongan harga, orang seperti saya yang manajemen keuangannya masih berantakan tentu tetap saja akan kesulitan mengatur perencanaan belanja. Jadi yang penting adalah belanja bijak, yaitu kalau kita membeli sesuatu itu memang karena kita memerlukan barang itu, bukan hanya karena ingin punya. Akhir-akhirnya malah pas giliran harus membeli sesuatu yang penting, uangnya malah habis. Itu hukumnya juga sama: Game over![]

Oh iya… ada bonus, video kelakuan si Budi di tanggal tua, selamat menonton:

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Laser Auto Focus, Bikin Candid Jadi Bagus!
Kadang kalau lagi waras, saya sering berpikir tentang kehidupan (cieeee… kehidupan). Yang dipikirin adalah kehidupan sayasendiri lah! Ngapain mikirin kehidupan orang lain? Ga ada kerjaan banget mikiri...
Kesan Canon IXUS 160
Menurut saya—selain Powerbank—salah satu senjata pembunuh bayaran blogger yang cukup penting adalah kamera digital. Soalnya, akan lebih bagus kalau postingan kita dilengkapi foto, dan kalau bisa sih f...
Cinta Indonesia? Pakailah Advan I5A 4G LTE
Kita semua tahu bahwa ada banyak cara untuk mencintai Indonesia, salah satunya adalah dengan menggunakan produk dalam negeri. Tapi meskipun begitu, kenyataannya masih banyak dari kita yang tidak pedul...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Tanggal Tua, Ayo Kita Belanja

  • 18/05/2016 at 08:59
    Permalink

    Diskon bisa menjadi salah satu solusi mendapatkan brg murah yg kita inginkan ya… :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.