Menulis Dengan Pintu Tertutup

Malam ini saya gembira, sebab novel yang sudah saya kerjakan (kami kerjakan, karena saya dapat banyak bantuan dari mbak Latree Manohara) sekitar lima tahun akhirnya selesai ditulis. Saya mulai pada bulan Juli 2011, kini totalnya jadi 72 bab, 52.206 kata, 214 halaman, A4, spasi 1.5…

Memang ini masih draft 1, kelak masih banyak yang mesti ditambah atau dibuang, masih banyak juga yang harus diperbaiki. Halamannya jelas akan berkurang (atau bertambah? entahlah), mungkin sekali naskah ini baru siap “tawar” sekitar 4-5 bulan lagi, belum lagi mempertimbangkan keterlibatan editor, first reader, dll… yah, tapi setidaknya dengan rampungnya cerita, selesainya susunan plot, dan berakhirnya konflik… ada perasaan tenang yang saya rasakan. Paling tidak saya tahu ceritanya tidak akan kemana-mana lagi.

Sebenarnya, ada yang lucu dari keseluruhan prosesnya, saya merasa salah satu hal paling berat dalam menulis novel adalah bukan cuma menahan cerita dalam rentang waktu lama di kepala, tapi juga saya harus menahan keinginan untuk pamer isi naskah di sosial media. Misalnya, kalau dapat narasi bagus ingin cepat-cepat dijadikan status… hadeeuuh…

(Eh, pamer isi naskah lho ya, bukan pamer proses, kalau pamer proses penulisan sih boleh-boleh saja, bahkan mungkin saja pamer proses ini bisa juga jadi promo awal.)

Padahal dalam menulis ada istilah: Menulis dengan PINTU TERTUTUP. Proses ini biasanya terjadi saat naskah belum rampung (bahkan saya beranggapan kalau #PintuTertutup harus tetap dilakukan sampai masuk draft 2). Dalam fase ini, penulis harus menyembunyikan naskahnya dari orang lain, tidak boleh pamer. Tujuannya ada dua, yaitu:

(1) Menghindari kritik yang datang terlalu awal ketika cerita belum selesai, khawatir kritik itu akan memporak porandakan kerangka cerita yang sudah dia susun (artinya dia harus mundur jauh lagi ke urusan plot serta kerangka), lalu yang berikutnya…

(2) Bila kritik datang terlalu awal maka penulis bisa jadi merasa ide dan temanya sangat jelek hingga dia jadi malas menyelesaikan naskahnya. Padahal kepercayaan diri akan tema serta ide yang dia usung sangat penting agar si penulis bisa mencurahkan semua potensi ke dalam ceritanya. Sekali saja seorang penulis tidak percaya lagi pada tema yang dia bawa, selesai sudah urusannya! Kalau dia saja sudah tidak percaya idenya bagus, bagaimana caranya dia mau meyakinkan pembaca?

Kelak, ketika si penulis sudah melakukan editing sampai diperkirakan kritik yang masuk (dari first reader) tidak akan mempengaruhi alur cerita atau karakter tokohnya lagi (biasanya ini bisa di draft 2 atau 3)… barulah dia boleh memasuki fase Pintu Terbuka. Fase pamer isi

Nanti saja deh saya ceritakan lebih rinci masalah Pintu Terbuka… sekarang saya mau merayakan selesainya naskah ini dulu dengan makan-makan! itu ada cafe baru dekat rumah… semoga disana ada mie rebus telur kornet keju, nyam nyam… #PersetanDenganDiet[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Gagal Deskriptif Karena Sombong
Maaf ya, ini bukan ri'ya atau pamer, tapi saya cuma ingin berbagi cerita soal masalah menulis yang saya temui hari ini... siapa tahu bisa jadi bahan masukan buat teman-teman yang lagi belajar menulis ...
Penerbit Perlu Naskah: Bitread
Ceritanya, di dekat rumah cafe baru… Warung Upnormal, eh nggak terlalu baru juga sih, pertama kali saya lihat tempat itu ada sebelum puasa. Mau mampir tapi belum sempat, terus pas bulan puasa malah ...
Kematian dan Postmodern Jukebox
Dalam proses menulis novel ini, saya terus memikirkan dua hal: yang pertama tentang kematian, dan yang kedua tentang Postmodern Jukebox. Saya kesampingkan dulu yang pertama, saya ingin membahas soal k...
Latte, Adalah Kopi Saya Hari Ini
Seorang senior saya di Forum Lingkar Pena—saya pernah menyebut namanya di tulisan ini—pernah berkata: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi ...
Mengapa Memilih Durasi 18 Jam?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Dan seperti layaknya sebuah proses, dalam setiap novel yang keluar, saya berusaha mencapai satu level...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.