Gagal Deskriptif Karena Sombong

Maaf ya, ini bukan ri’ya atau pamer, tapi saya cuma ingin berbagi cerita soal masalah menulis yang saya temui hari ini… siapa tahu bisa jadi bahan masukan buat teman-teman yang lagi belajar menulis atau malah saya dapet masukan dari para senior

Jadi awalnya, saya memutuskan bahwa bab 65 novel “Meja Bundar” yang sedang saya garap ini akan diawali dengan: “mendeskripsikan lorong hotel dan pintu kamar hotel pada malam hari saat situasi sepi”.

Oh iya, kalau nanti ada yang membaca novel ini (semoga cepet terbit, aamiin…) pasti kalian akan menemukan bahwa setelah bab 1, bab 65 adalah bab berikutnya yang diawali dengan paragraf deskriptif… bab 2-64 semuanya diawali dengan dialog atau monolog. Bab 65 sengaja saya buat berbeda karena saya merasa ceritanya perlu “ditarik” dulu keluar dari atmosir bab sebelumnya. Lalu nantinya saya dorong masuk lagi pelan-pelan. #SakitMas #EH #Abaikan!

Oke, awalnya saya pikir ini gampang… saya sering kok nginep di hotel (sombongnya), saya juga sering keluyuran malam di dalam hotel, masa cuma mendeskripsikan saja pake berantakan! Malu sama kumis! #KokBawaBawaKumis?

Tapi ya dasar memang Tuhan nggak suka orang sombong, ketika saya mulai menulis (langsung di laptop), saya malah kena writerblock! mendadak saya tidak bisa mendeskripsikan situasi lorong hotel dengan baik, saya seperti tidak menghayati, tidak mantap, diksinya lemah, membosankan, dll … dapat sih 5 baris, satu paragraf, tapi langsung blank… ada mungkin 30-40 menit saya malah bengong ngeliatin layar laptop #SambilNgiler

Dalam situasi begini, beberapa penulis senior mungkin langsung menjitak saya sambil bilang “Sudah, lanjut aja dulu, itu lumayan dapet satu paragraf, nanti penyempurnaannya pas editing”, ya memang biasanya sih kalau baru draft 1 saya agak cuek, pokoknya yang penting dapet dulu. Tapi kali ini tidak bisa begitu… karena kebetulan saya memerlukan sekali bangunan atmosfir yang pas di bagian awal supaya saya enak untuk melanjutkan ke dialog tokohnya. Karena situasi di bab 65 ini sangat penting soalnya… termasuk golden scene lah kalau di film.

Akhirnya saya pakai cara tradisional, saya Googling cari gambar lorong hotel yang paling mendekati imajinasi saya. Dapat satu. Lalu saya mulai mencoba mendeskripsikan gambar itu dengan tulis tangan… Hasilnya memang menyenangkan, saya perlu mengulang empat kali sampai dapat deskripsi yang cukup pas, belum pas banget sih, tapi yaaa… membaik lah daripada yang pertama tadi

Jadi apa masalah saya? ternyata (selain sombong), saya lupa rumus dasar yang biasa saya pakai, yaitu:

“Jangan mendetailkan barang-barang di sana—kamu tidak sedang jualan furnitur kan?—tapi detailkan elemen-elemen yang bisa dipakai menunjang emosi (kalau bahasa film sih namanya tone) yang ingin kamu angkat.”

Jadi, alih-alih menjelaskan warna tembok atau warna karpet, saya memfokuskan diri pada elemen-elemen yang bisa menunjukkan atmosfir cerita yang ingin saya raih, yaitu: kesepian dan kesendirian. Ternyata elemen-elemen emosional itu saya temukan pada bentuk pintu, langit-langit, dan bayangan lampu yang jatuh di karpet.

Begitu ceritanya, nah sekarang awalannya sudah dapat… saya mau lanjut nulis lagi.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Akhir Dari Sebuah Perjalanan
Ketika sedang menuliskan kata pengantar untuk novel ini, pada saat yang bersamaan saya juga sedang meladeni seorang reporter yang ingin melakukan wawancara. Memang wawancara itu berlangsung menyenangk...
Dikutuk Untuk Selalu Optimis
Kemarin saya baru me-lock draft lima novel "Meja Bundar", naskah ini kami (saya dan mbak Latree) kerjakan selama lima tahun, dan draft lima adalah keputusan akhir yang harus diambil karena k...
H-92: Latte, Adalah Kopi Saya Hari Ini
Seorang senior saya di Forum Lingkar Pena—saya pernah menyebut namanya di tulisan ini—pernah berkata: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi ...
H-81: Mencermati Kelahiran Para Penyair
Pada bulan Agustus 2007, sepuluh tahun yang lalu, saya pernah menulis ini, dan saya agak terkejut melihat dalam persentese tertentu tulisan ini ternyata masih cukup relevan dengan Forum Lingkar Pena. ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.