Biar Mereka Bangun Gerejanya

Dulu saya sempat sekolah di sebuah yayasan Katolik selama kurang lebih delapan tahun, namanya yayasan Mardi Yuana, di daerah Cibinong. Saya juga sampai saat ini punya banyak teman Katolik, dan nggak pernah ada masalah sama mereka, bahkan saya pun waktu SMP sering masuk-masuk ke gereja, (ya iya lah… gerejanya ada di kompleks sekolahan, satu pagar sama ruang kelas, jarak dari kelas ke pintu gereja cuma 100 meter). Di kompleks sekolah saya juga ada perumahan pastor, dan saya pun beberapa kali main ke rumah mereka. Pastor favorit saya namanya pastor Yakobus, saya sering curhat macam-macam sama beliau… curhat anak kecil lah…

Tapi apa lantas kedekatan personal dan lingkungan pergaulan itu berakibat buruk buat saya? ah, ternyata tidak. Malah beberapa nasihat dari pastor Yakobus sampai sekarang masih saya jalankan. Salah satu nasihatnya yang saya ingat adalah: kalau kamu mau beribadah, beribadahlah dengan tekun, cari tahu isi agama dengan berbagai cara, belajarnya jangan setengah-setengah.

Secara tidak langsung, sebenarnya nasihat itu juga yang melatarbelakangi saya selama beberapa tahun sempat jadi karyawan di sebuah masjid kampus di Bandung. Saya memilih tempat itu karena menurut saya disana unik. Kehidupannya sangat heterogen, tiap hari berseliweran orang dari berbagai jenis ormas, berbagai jenis aliran, berbagai jenis partai, berbagai aktivis kampus, ilmuwan, saintis, pebisnis, wartawan, bahkan seniman.

Maka sekitar delapan tahun bekerja disana saya belajar banyak hal, bahkan dalam satu titik saya berpikir: Pastor Yakobus benar, kalau kita belajar satu agama dengan berbagai cara, hasilnya akan sangat menarik. Buktinya, selama di masjid itu saya bisa belajar bagaimana memandang agama Islam tidak hanya dari satu sisi. Saya juga mempelajari bahwa perilaku Islami itu tidak melulu tampak dari pengajian atau baca kitab, tapi juga bisa dari berbagai macam kegiatan.

Namun hanya satu yang tidak saya pelajari disana, yaitu: kita harus mempersulit kehidupan agama lain

 IMG_2501

Lho, memangnya ada agama yang mengajarkan penganutnya untuk mempersulit agama lain? entahlah… tapi kalau saya melihat spanduk seperti di atas… saya merasa ada yang salah dengan pola pikir pembuatnya. Saya jadi bertanya-tanya, itu yang bikin spanduk agamanya apa?

Maksudnya begini, sebagai orang yang pernah ada di lingkungan gereja, saya cuma mau tanya: apa masalahnya kalau sebuah gereja mau dibangun? sebab penolakan bangunan rumah ibadah biasanya bukan berdasar pada ketidaksukaan individu, tapi pada ketidaksukaan kelompok. Nah, membuat sekelompok orang bisa bersatu dan memiliki sudut pandang yang sama, itu biasanya dipicu hanya karena dua hal: ketakutan atau kesetiaan.

Kita bahas yang kedua dulu deh, KESETIAAN… kesetiaan pada siapa sih yang membuat seseorang sampai menghalangi pemeluk agama lain membangun tempat ibadah? kesetiaan pada Tuhan? jangan bercanda… sependek pengetahuan saya, sekali lagi… sependek pengetahuan saya, saya belum pernah baca satupun perintah Tuhan (terutama dalam Islam) yang mengharuskan kita untuk mempersulit proses ibadah agama lain. Kalau ada yang bisa nunjukin, ya tunjukkan ayatnya ke saya (ini bukan nantang, saya beneran mau tahu, mau tambah ilmu). Kalau setianya bukan ke Tuhan, berarti itu kesetiaan pada siapa? Pada pak RT? pak Camat? pak Lurah? pak kyai? Siapa?

Atau bukan kesetiaan, namun sekelompok orang itu bisa bersatu karena faktor KETAKUTAN. Nah, saya mau tanya lagi… takut sama siapa? kan ada Tuhan… masa takut..

Oh mungkin kalau ini hubungannya sama Kristenisasi, lho kenapa sih orang Islam pada takut sama Kristenisasi?

Menurut saya yang sudah pernah hidup di lingkungan Katolik, Kristenisasi itu bukan kejahatan kok, tapi—terutama dari sudut pandang agama Kristen—adalah proses ibadah. Sama kok hukumnya dengan orang Islam dijanjikan pahala kalau mengajak orang lain masuk Islam, begitupun orang Kristen percaya bahwa mengajak orang lain masuk Kristen itu berpahala. Sekarang sih tinggal dulu-duluan aja, semuanya balik ke iman masing-masing kan? Jadi saya percaya Kristenisasi tidak salah, yang salah itu cara-caranya… kalau sudah pakai pemaksaan, segala pakai hipnotis, penculikan, diperkosa, dibius… nah, itu baru salah, itu wajib dipenjara!

Lagipula menurut saya, kalau ada orang Islam takut sama Kristenisasi, itu berarti dia tidak percaya sama imannya sendiri. Atau kalau ada orang Islam takut anaknya pindah agama, itu berarti dia belum mempersiapkan iman anaknya dengan baik. Kalau sudah kuat iman sih, tiap hari pulang pergi lewat komplek pelacuran juga nggak akan ada niat mau mampir. Begitupun kalau iman kuat, mau sehari seratus kali masuk gereja juga nggak akan pindah agama. Coba deh baca cerita ibu Rina, seorang muslimah, dua puluh tahun jualan rosario di komplek Gua Maria Kerep, Ambarawa… apa dia terpikir untuk pindah agama?

16619_10206883715943736_1766123231905167134_n
Ibu Rina, penjual rosario di komplek Gua Maria Kerep, Ambarawa

Saya khawatir pada akhirnya kita umat Islam malah sibuk ngurus-ngurusin agama lain, sibuk mengusir-ngusir agama lain, sampai lupa memperkuat agama sendiri. Masa kalau demostrasi pembangunan gereja bisa kumpul seratus orang, tapi shalat subuh cuma ada lima orang? Jadi ya sudahlah, biarkan umat agama lain mau beribadah,  kita juga tekun-tekun lah beribadah sambil jangan lupa memperkuat iman kita dan keluarga. Karena kita umat Islam, percaya sajalah kalau Islam agama paling benar.

Lantas mungkin ada juga yang menjawab: oh, kami tidak setuju ada rumah ibadah disana bukan karena Kristenisasi, tapi karena urusan IMB, atau sengketa tanah, kebisingan parkir, atau apalagi? belum disetujui pak camat, pak DPR, pak gubernur, pak menteri, atau pak apa lagi?… yah, itu semua sebenarnya “cuma” urusan duniawi, cuma urusan birokrasi dan teknis dimana merupakan masalah yang sangat-sangat bisa dimusyawarahkan. Tinggal suruh saja semua pihak duduk bareng membicarakan formula-formula untuk menyelesaikannya.

Pasti bisa kok, karena dari jaman nenek moyang kita masih melaut, bangsa Indonesia—iya, kita semua—terkenal sebagai bangsa yang gampang diajak musyawarah, lunak hatinya, luas dadanya, dan tinggi kesediaannya berkorban demi kesejahteraan bersama.

Pertanyaannya: mau atau tidak?[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Prisia, yang Eksotik...
Udah lama banget ya saya nggak ngupdate web ini, termasuk melanggar juga jadwal rutin ngupdate cewek of the week :D haduh... ya udah deh saya update sekarang. Pilihan saya minggu ini adalah Prisia Nas...
Gigi Raffi Kelihatan di TV
Selain teguran KPI terhadap acara kawinan Raffi Ahmad, kemarin katanya Menkominfo sudah “menyatakan prihatin” pada stasiun TV yang menayangkan kelahiran anak Raffi dan Nagita. KPI pun tampaknya sudah ...
Dimas Kanjeng dan Kepo Maksimal
Entah bagaimana ceritanya, kemarin malam saya “kepeleset” menonton rekaman ILC di Youtube yang episode membahas Padepokan Dimas Kanjeng. Kepelset artinya, saya tidak sengaja mengakses rekaman itu, soa...
PR Besar di Depan 411 dan 212
Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why ...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Biar Mereka Bangun Gerejanya

  • 23/04/2016 at 23:38
    Permalink

    setuju kang, suka bgt opininya

  • 01/12/2016 at 08:21
    Permalink

    Sumpahhh…adem bacanya…
    Tks banyak ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.