Awas, Saya Anak Jenderal!

Siapapun yang membaca buku Sketsa-Sketsa Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul pasti kenal tokoh Mister Rigen (seorang pembantu rumah tangga asli Pracimantoro yang punya anak bernama Beni Prakosa), serta mas Joyoboyo (seorang pedagang ayam panggang dari Klaten, dia ini sering dicurigai sebagai pakar ilmu sosial tamatan luar negeri yang sedang menyaru sebagai rakyat kecil untuk mengece kaum kelas menengah feodal yang jadi langganan-langganannya)

Nah, pada suatu pagi, ada sebuah dialog menarik tentang konsep  priyayi-priyagung yang terjadi antara mereka, begini kurang lebih obrolannya:

Joyoboyo: “…Saya sudah semeleh. Pasrah dapukane Gusti Allah. Kalau Sing Kuwaos itu satu hari mau ndapuk kita madeg jadi priyayi yang manut, nderek saja.”

Rigen: “Ya harapan saya itu pada tole Prakosa ini. Lahirnya saja tanggal 5 Oktober, hari ABRI. Tak gadang-gadang bisa jadi Jenderal. Lha, Jenderal itu kan ya priyagung to, mas Joyo.”

Joyoboyo: “We, la enggih! Lha, nek anak saya itu katanya kepingin jadi nginsinyur. Itu kan priyagung nggih, Mas Rigen?”

Rigen: We, la enggih! Mun bedanya itu sipil!”

Joyoboyo: “Lha kalo anak-anak kita itu jadi priyagung mosok mereka tidak akan mikul duwur mendem jero, nggih?”

Rigen: “Oh, harus Mas. Paling tidak mereka harus membolehkan kita ikut mulyo. Apes-nya ya nunut naik mersedes mereka, to nggih?”

Saya lihat ada sudut pandang yang menarik dari Mister Rigen, yaitu tentang harapannya untuk melihat anaknya, Beni Prakosa madeg jadi Jenderal. Nah, kita lihat pada akhirnya harapan Mister Rigen itu terus bergerak, bukan lagi terbatas pada kesuksesan anaknya menjadi Jenderal, tapi berlanjut dalam tahap sikap, seperti yang dia bilang: “Paling tidak mereka harus membolehkan kita ikut mulyo. Apes-nya ya nunut naik mersedes mereka”

Harapan mister Rigen yang melambung itu wajar, karena kita sama-sama tahu bahwa Jenderal adalah sebuah pangkat yang memiliki prestisye cukup tinggi. Biasanya di film-film, karakter seorang jenderal ditempatkan sebagai seorang pengambil keputusan atau penyelesai masalah. Kalau dalam konflik kelas di mata orang Jawa dimana ada wong cilik, priyayi dan priyagung, Jenderal adalah golongan priyagung, dimana—kembali menurut mas Rigen—seorang priyagung itu adalah “priyayi sing gediii banget”.

Nah, maka ketika seorang menjadi Jenderal, dia otomatis pula dianggap sudah mencapai level tertentu, level priyagung, yang bukan cuma memiliki kemuliaan, tapi bisa menularkan kemuliaan itu ke keluarga atau orang-orang di sekitarnya.

aaa

kapolresta-medan-hentikan-mem-bully-sonya-depari

aaa

Perspektifnya, ada pada kasus Sonya Depari. Ketika dik Sonya ini mencatut nama pak Jenderal Arman Depari, sebenarnya itu dia lakukan semata-mata dengan harapan agar bisa tertular “kemuliaan pangkat” pak Jenderal. Lalu selanjutnya dengan “membaluri” diri menggunakan “kemuliaan pinjaman” itu, dia berharap bisa lepas dari tilang yang dihadirkan oleh polisi-polisi, dimana dalam level pangkat segitu—menurut pemikiran Sonya—seharusnya masih, atau malah wajib ngeper dengan nama seorang Jenderal.

Selanjutnya kita tahu bahwa cerita pun berkembang, ada penyangkalan pak Arman Depari, sampai pengakuannya bahwa Sonya itu memang masih kerabat, sampai tadi pagi saya bahkan melihat berita kalau ayah Sonya meninggal. Entahlah, saya tidak berani meyakini berita-berita lanjutannya karena berbeda dengan kejadian saat Sonya mencatut nama yang memiliki bukti rekaman video, berita-berita lanjutannya tidak memiliki bukti apa-apa. Jadi saya rasa cukup adil kalau tulisan ini saya batasi tentang urusan mencatut nama.

Soal mencatut nama, kalau kita tarik lebih jauh, berlindung di balik kemuliaan pangkat atau posisi orang lain sebenarnya sudah menjadi naluri dasar kita. Hal itu tanpa sadar sudah kita lakukan sejak kecil, misalnya: ketika kita berkelahi dengan teman dan kita bilang “Awas, kubilangin bapakku!”, maka yang terjadi disana adalah sebagai anak kecil, kita berharap aura bapak bisa kita pinjam untuk membuat musuh kita itu ngeper…  lalu mungkin akan minta maaf atau kabur. Nah, di masa kecil sekali-dua kali trik itu bisajadi berhasil. Keberhasilan tersebut, menjadikan kita percaya bahwa mencatut nama itu bisa menyelamatkan kita.

Lalu semuanya terbawa menuju dewasa, untuk memenangkan sebuah tender kita akan membawa-bawa nama menteri, untuk memuluskan proyek kita bawa-bawa nama petinggi sebuah departemen, untuk menawar harga kita bawa-bawa nama tokoh-tokoh politik—yang mungkin sudah tidak ingat lagi wajah kita, karena hanya pernah bersalaman sekali saja (dan foto bareng)—dan untuk menghindari tilang, kita membawa-bawa nama Jenderal.

Maka tidakkah tindakan Sonya—secara kultur budaya dan sosial—sebenarnya adalah kebiasaan kita semua?

Lalu ada  satu kebiasaan masa kecil lagi yang sifatnya sama: yaitu berbohong. Kita pasti pernah berbohong, dan berbohong adalah salah satu teknik yang kita pelajari ketika kecil, sekali saja teknik itu sukses menghindarkan kita dari masalah, maka kita akan ketagihan mengulanginya. Misalnya saja dalam situasi ini:

Mama: “Kamu yang yang minum bir di kulkas!”

Anak: (berpikir, bir itu minuman orang gede, aku masih kecil, mampus deh aku, eh tapi coba aku bilang gini aja, sambil muka memelas dan menggeleng pelan, pasang muka takut:) “Nggak ma… adek nggak minum itu”

Mama: (melotot) “Terus siapa?! Papa kamu? dia kan sudah pergi! Pergi sama perempuan lain yang lebih seksi dan bahenol dari mama, tapi juga lebih matre… meninggalkan mama dalam kesepian… eh… “#MamaJadiCurhat

Anak: (berpikir: lanjutin aja gitu bohongnya? ) “Nggak tahu ma… mungkin om Beni tadi malam, atau om Yansen kemarinnya lagi, soalnya adek lihat om Yansen…” (berpikir: kagok ah, terusin bohongnya!), “om Yansen buka-buka kulkas, ma…”

Mama: (Agak melotot) “Bener? kamu lihat? kamu nggak bohong?”

Anak: (pasang muka tambah memelas) “Bener ma…”

Mama: (Melototnya hilang) “Ya sudah… biarin kalau si Yansen kurangajar minum itu sih, biar nyaho! soalnya itu juga bukan bir, itu pipis mamah!”

Anak: (muntah-muntah!)

Kesuksesan kita berbohong dan mengkambinghitamkan om Yansen ketika kecil membuat kita ketagihan, apalagi setelah kita tahu bahwa bohong bisa menghindarkan kita dari masalah, tanpa tahu bahwa sekali bohong maka kita harus menutupi bohong itu dengan bohong yang lebih besar lagi.

Masalahnya, Sonya melakukan kedua hal yang “dipupuk” dari kecil itu: berusaha meminjam aura orang yang lebih jagoan dari musuhnya, sekaligus berbohong untuk menyelamatkan diri. Tapi sayangnya dia lupa menyiapkan kebohongan kedua. (dimana dia juga pastinya harus menyiapkan kebohongan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.)

Lagipula, jaman sekarang, “jualan” seperti itu sudah tidak laku. Mengaku diri sebagai anak Jenderal tidak bisa membawa kita kemana-mana, mungkin saat ini satu-satunya yang ampuh adalah kalau kita mengaku sebagai “ANAK TUHAN”… itu sih jangankan cuma polisi, pak Ahok saja pasti ngeper sama kita. []

perida
BONUS: foto Ipda Perida Panjaitan yang menilang Sonya… alamak buuu, sepertinya akan makin banyak nih yang pengen jadi Polwan

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Tolikara dan Speaker yang Membesar
Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita penyerangan jamaah salat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta kios-kios di Tolikara, Papua. Ketika itu terjadi, serentak semua orang bicara. Pakar, non...
Di Satu Negeri, Ada Pemimpin yang Suka Selfie
Konon katanya… Julius Cesar, Kaisar Romawi yang terkenal itu punya resep jitu untuk menentramkan rakyatnya, yaitu resep “Roti dan Permainan”. Begini formulanya: Berilah rakyat cukup makanan dan mereka...
Indonesia Sedang Hamil
Setiap kali mengedit film--terutama tipe film non-fiksi--saya selalu merasa diri tambah pintar beberapa strip. Karena biasanya film-film jenis ini melibatkan pakar di bidang tertentu, yang secara prib...
Biar Mereka Bangun Gerejanya
Dulu saya sempat sekolah di sebuah yayasan Katolik selama kurang lebih delapan tahun, namanya yayasan Mardi Yuana, di daerah Cibinong. Saya juga sampai saat ini punya banyak teman Katolik, dan nggak p...
PR Besar di Depan 411 dan 212
Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why ...
Telolet yang Menyebalkan
Fenomena Telolet yang marak akhir-akhir ini (mendunia lho, sampai ada penyanyi internasional yang katanya mau bikin lagunya) menurut saya sangat menyebalkan, terutama karena fenomena ini menyebabkan b...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

4 thoughts on “Awas, Saya Anak Jenderal!

  • 09/04/2016 at 10:13
    Permalink

    Apik tulisannya, Kang.
    Kebohongan memang seperti bola salju. Sekali digulirkan terus membesar hingga bahkan kita tak tahu akan sebesar apa akhirnya.

  • 09/04/2016 at 10:56
    Permalink

    Bu Polwan yang nilang inii cantikk yah
    Kukira ini masalah sepele sih kadi lebay karena beresar di dunia maya, Mas. Emang kayanyaa efek perkembangan telnologi yah ini.. Yang viral malah berita tak penting. Apa kabar tanah2 di pedalaman Indonesianyang udah dibeli Bule atau Kemiskinan atau perdagangan manusia.. huhuhu

  • SiHendra
    10/04/2016 at 00:35
    Permalink

    ini jadi Polwan favorit nih, banyak yg kasih support gitu di IG nya… dan memang sepertinya dimanfaatkan untuk pengalaihan isu tertentu nih

  • SiHendra
    10/04/2016 at 00:35
    Permalink

    makasih komentarnya teh… ini makasih yang tulus, dari hati. Saya nggak bohong 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.