Ikigai: Apa Tujuan Kita Diciptakan?

Beberapa hari ini saya agak serius mengkaji soal IKIGAI, terutama soal yang berkaitan dengan diri sendiri. Mungkin ada yang sudah pernah denger soal ini, tapi mungkin juga belum… Kata “Ikigai” sebenarnya tidak bisa langsung dijelaskan secara spesifik, tapi secara makna kata ini bisa dibilang sebagai “a reason for being”, atau menurut teman saya yang lain yang kadang agak religius, terutama saat dia tidak sedang mabok arak: alasan kita diciptakan ke dunia. Berat ya? (Iya sih iyaaa… kalau orang religius pasti bilang manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Iya udah lah, itu sih jangan dibahas… karena yang kita bahas ini konsep dunia, bukan surga!)

IKIGAI adalah sebuah konsep dari Jepang, yang—dalam proses mencarinya sering—tampak sebagai sebuah konsep yang terlalu idealis dan hampir tidak mungkin. Tapi menurut saya, sebenarnya hal ini hanya terjadi jika kita melihat hidup dari kacamata yang pesimis. Akibatnya tidak sedikit diantara kita yang menjalankan hidupnya dan bekerja hanya untuk mencari nafkah saja (eh, itu tidak salah, apalagi kalo nafkahnya halal). Maksud saya begini, jika saja kita mau meluangkan waktu mempelajari soal IKIGAI, maka hidup kita pasti akan jadi lebih menarik. (Saya tidak bilang mudah, saya bilang “Menarik”. Apalagi… proses menemukan IKIGAI kita sering menjadi sebuah “perjalanan panjang”. Panjang, tapi menarik.)

Kalau saya jelaskan sih panjang (lihat saja gambarnya), tapi intinya IKIGAI dibangun dari empat hal, yaitu: Passion, Profession, Mission, dan Vocation… dimana keempatnya dibangun oleh empat pertanyaan dasar: apa hal yang paling kamu CINTA? Apa hal yang kamu paling TERAMPIL melakukannya? Apa hal yang kamu layak DIBAYAR ketika mengerjakannya? Dan terakhir… berkaitan dengan tiga hal sebelumnya, apa sih yang sebenarnya diperlukan oleh DUNIA?

Jadi secara teknis, IKIGAI baru akan tercapai ketika kita:

Mengerjakan sesuatu yang kita CINTAI, dan kita bisa mengerjakannya dengan BAGUS, lalu kita pun DIBAYAR untuk mengerjakan hal tersebut, dan sekaligus DUNIA memerlukan hasil karya kita itu.

Saya sendiri belum selesai merumuskan IKIGAI saya, memang rasanya ini tidak akan bisa beres seminggu – dua minggu. Tapi setidaknya, dengan merenungkan ini saya jadi bisa memetakan apa saja yang pernah saya lewati dan apa yang sekarang sedang saya alami. Kalau dilihat dari “isian”, ternyata saya sendiri pun baru bisa mengisi area Passion dan Profession.

Ikigai 2

PASSION: Seperti yang bisa dilihat pada gambar… lingkaran that which you love beririsan dengan that which you are good at itu dinamakan Passion. Untuk urusan ini, cukup mudah menentukan: saya suka banyak hal, tapi dari delapan hal di atas, kalau diiriskan dengan apa yang paling bagus saya lakukan sebenarnya cuma dua: yaitu menulis dan mengajar. Ya, saya suka mengajar, saya suka bicara di depan orang banyak dan bersikap “sok pintar”, lalu cukup banyak orang yang bilang kalau saya bisa memberitahukan teori yang rumit dengan mudah. Lalu soal menulis, saya kira saya cukup bagus menyusun kata, meski belum seterkenal Andrea Hirata atau Asma Nadia. Saya pernah juara lomba menulis, sudah punya beberapa novel, saya bisa mengedit buku, saya bisa… well, intinya saya kira wajar kalau saya memasukkan menulis ke lingkaran that which you are good at.

PROFESSION: Tapi lantas saya ketemu lingkaran ketiga… that which you can be paid for,  oke… ini penting karena lingkaran itu beririsan dengan that which you are good at menghasilkan Profession. Saya lantas harus memilah-milah: saya biasa dibayar di pekerjaan apa? apa sebenarnya profesi saya?… ternyata jawabannya juga mudah: menulis dan membuat video. Saya sering mengerjakan proyek-proyek menulis dalam berbagai bentuknya: buku, artikel, skenario, dll… dan saya dibayar untuk itu. Lalu saya pun biasa mengerjakan proyek video dalam berbagai bentuk (video klip, company profile, iklan, film, dll) dan berbagai posisi (editor, sutradara, penulis skenario, dll)… artinya kedua hal ini cukup sah saya masukkan ke lingkaran that which you can be paid for.

Euh, mungkin orang yang lama kenal saya lantas bertanya, kenapa videografi tidak dimasukkan ke lingkaran that which you are good at? bukankah saya sudah delapan tahun belajar bikin film? ah, sederhana saja: karena untuk urusan video, saya merasa belum sampai ke tahap “bagus”. Memang benar saya rutin meningkatkan level dalam ilmu audio visual, tapi itu betul-betul untuk menunjang pekerjaan, profesi, profession, untuk mencari uang. Bukan Passion.

Dari mengisi dua lingkaran ini saja, saya sudah bisa melihat bahwa mau dibawa ke manapun, ternyata saya adalah penulis. Passion saya adalah menulis, dan saya pun sudah sah menjalani profesi sebagai penulis yang dibayar. Kalaupun saya menguasai bidang lain—sutradara, editing film, desain buku, stand up comedy, dll—ya tidak apa-apa, makin banyak skill makin bagus toh? Tapi saya tetap penulis, dan kalau mau lebih spesifik lagi… saya adalah NOVELIS.

PR saya sekarang menemukan jawaban dari pertanyaan terakhir: that which the world need?  dan menggabungkannya dengan menulis. Ini mungkin sedikit lebih rumit, tapi saya harus menemukan jawaban itu atau saya tidak akan bisa mengisi lingkaran Vocation serta Mission. Tanpa menemukan kedua hal itu, saya tak akan pernah mengetahui apa IKIGAI saya yang sebenarnya. []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Tuhan Memaafkan Semuanya, Termasuk Steve Harvey
Peristiwa salah baca di ajang sekelas Miss Universe 2015 kemarin itu memang cukup bikin heboh, dan dunia seolah kompak menyalahkan Steve Harvey yang didapuk jadi MC acara tersebut. Buat yang ngga...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Ikigai: Apa Tujuan Kita Diciptakan?

  • 24/11/2016 at 13:34
    Permalink

    konsep perencanaan hidup yang sangat menarik.. Menjadi hal yang bisa diteliti dan dikembangkan lebih lanjut

Leave a Reply

Your email address will not be published.