Mari Merayakan, Mari Menjeda

Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti bakar telur keju, dan Indomie rebus telur keju (saya selalu teringat teman saya Azzuhri setiap menyantap mie rebus keju, karena Azzuhri lah yang pertama kali mengenalkan saya dengan makanan ini, sekarang dia sudah meninggal, dan saya pun kehilangan teman makan mie.)

Saya menatap sekeliling, merasakan badan yang sangat lelah dan pegal karena baru beberapa menit sebelumnya turun dari travel rute Jakarta. Sedikit banyak menyadari bahwa minggu ini saya tidak punya waktu istirahat yang cukup, pulang dari Wonogiri, hanya istirahat sehari langsung harus pp Jakarta-Bandung. Harusnya saya langsung pulang, tapi saya malah singgah ke sini, dan mendapati sudah duduk sendirian, menghadapi makanan yang sedikit terlalu banyak untuk dihabiskan sendirian, plus lagu-lagu dangdut lawas mengalun dari sebuah statsiun TV lokal (Serius, pada jam 1 pagi TV ini memutar video klip dari Vetty Vera, Fahmi Shahab, Asraff, Iwan, dan tentu saja: Inul Daratista! sepertinya saya akan langsung mencari channelnya!).

…dan saya melakukan itu untuk merayakan sesuatu. Perayaan kecil, untuk sebuah check point yang berhasil saya lewati.  Ini adalah sebuah perayaan untuk diri sendiri.

Saya selalu percaya kita pasti kadang-kadang ingin merayakan sesuatu. Sebuah perayaan terjadi saat kita bisa melewati sebuah goal, semacam check point dalam hidup, sebuah cita-cita—sesederhana apapun itu—akan ada kecenderungan untuk merayakannya. Sebuah perayaan, adalah cara kita untuk menandai titik tersebut. Semacam penanda pada timeline tak kasat mata yang sudah disediakan dab sialnya kita harus menjalani hidup untuk mengisinya.

Namun ada yang mengatakan bahwa kita melakukan perayaan untuk lari sejenak dari kenyataan. Untuk menipu diri sendiri dengan berusaha “memanipulasi” agar jiwa menganggap perayaan itu akan berlangsung selamanya. Karena sebenarnya jiwa manusia itu kerdil, jiwa manusia selalu takut untuk merasa sakit, sementara hidup menawarkan keduanya: sakit dan senang pada saat yang kadang bersamaan. Tidak ada yang berlangsung selamanya, dan perayaan adalah upaya kita untuk mengulur waktu senang, melupakan waktu datang sakit, bersikap tenang, dan mengumpulkan kembali tenaga mereka. Namun mereka tidak terjebak oleh apa yang disebut Ernest Hemingway sebagai “teori perayaan kehidupan” (festival theory of life)

Maka orang-orang yang melakukan perayaan dalam kondisi jiwanya sedang bahagia cenderung mengemas kesenangan itu dalam sebuah ritual, mereka akan mencoba untuk merasakan kenikmatan dari keseluruhan ritual itu, bukan hanya dari momen-momen tertentunya saja. Sementara orang-orang melakukan perayaan dalam kondisi jiwanya sedang tidak bahagia justru akan mencoba untuk bertahan terlalu lama dalam perayaan itu, dan pada akhirnya mereka akan mendapati dirinya berakhir dengan “merayakan perayaan” itu sendiri. Bukan lagi merayakan penyebabnya

Tidak ada yang salah, karena sebuah perayaan berhak dilakukan oleh siapa saja karena sebab apa saja. Misalnya merayakan prestasi-prestasi kecil seperti: menuntaskan target pekerjaan satu hari dengan cara mentraktir diri sendiri segelas minuman dingin dan makanan enak. Atau mungkin memanjakan diri dengan kesenangan lebih besar (liburan, pijat, spa, pesta, dll) ketika kita merayakan peristiwa yang lebih penting.

…yang paling penting, kita harus tetap sadar bahwa kesenangan sebuah perayaan hanyalah semacam jeda dalam kehidupan.

Seperti tadi malam, sebuah perayaan, saat saya betul-betul sedang ingin mengambil jeda…[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Beruntunglah, Manusia Terbuat dari Tanah
Di ruang kerja saya sekarang, sebenarnya nggak ada satupun orang yang bisa ngedit film siang-siang! Kenapa? apa ada pocong? Lho kok ada pocong siang-siang? Bisa saja lah, kalau pocongnya salah pergaul...
Pesan Idul Adha yang Sebenarnya
Saya punya khatib favorit tiap kali Jumatan di masjid deket rumah, konyolnya sampai sekarang saya ga tahu namanya, hehe (ketahuan datengnya suka telat jadi ngelewatin pembacaan info-info masjid!) Ken...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.