Ini Indomaret di Surga!

11930987_1006264989394058_846764877_nSaya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misalnya yang saya masuki adalah Hero, Giant, Superindo, Alfamart, Yomart, atau Circle-K, tentu nama itulah yang saya tuliskan.

Jadi begini, saat ini saya sedang terdampar di sebuah tempat di Wonogiri. Soal kenapa terdampar dan harus berapa lama lebih baik itu dijelaskan nanti saja. Ada waktunya lagi untuk bercerita. Tapi sejauh ini, ada satu hal yang saya tandai tentang tempat ini: panas luar biasa!

Padahal, sejak melakukan perjalanan dari Bandung, saya selalu bepikir bahwa tempat ini pasti akan sejuk. Indikatornya adalah: saya diberi tahu oleh seseorang bahwa ini adalah daerah “KAMPUNG”. Kampung… selalu otomatis dibayangkan sebagai kebalikannya kota. Artinya kalau di kota ruwet, di kampung tidak. Kalau di kota adalah biang macet, di kampung tidak. Nah, artinya kalau di kota udaranya gerah, tentu saja di kampung tidak.

Entahlah, mungkin saya yang kurang gaul hingga tidak pernah benar-benar ada di kampung yang udaranya panas, tapi faktanya memang setiap kali saya berkunjung ke tempat yang panas itu sudah pasti kota, misalnya: Jakarta, Bandar Lampung atau Surabaya. Sementara kalau saya datang ke beberapa kampung di daerah pedalaman Ciamis, Subang, atau Garut itu dapatnya udara dingin. Jadi sekali lagi… inilah kampung dengan udara paling panas yang pernah saya datangi.

Lho, memangnya kalau udara panas kenapa toh? Tanpa bermaksud curhat, saya cuma mau bilang kalau saya selalu bermasalah dengan udara panas. Kalau panas saya gampang keringatan, kalau keringatan maka punggung jadi dingin, kalau punggung dingin alergi saya kambuh, dan kalau alergi kambuh maka saya batuk-batuk. Jadi intinya: kalau kegerahan, maka saya batuk-batuk. Pemecahannya: biasanya saya buka baju, tapi kan ini saya lagi di rumah orang, ga mungkin lah saya berkeliaran tanpa baju! Histeris semua orang!

Lalu problem berikutnya: saya tidak bisa bahasa Jawa sementara semua orang di sini ngomong Jawa. Akibatnya saya selalu merasa roaming, dan efeknya saya selalu merasa mereka ngegosipin saya, di depan muka saya sendiri! (Kebagusan banget, ga ada kerjaan ngomongin saya! ya… itu kan cuma perasaan). Akhirnya, karena saya paham bahwa skill bahasa Sunda level tinggi pun tidak ada gunanya disini sementara bahasa Indonesia juga jadi terasa ada batasnya… maka saya pun lebih banyak cengar-cengir saja sambil buru-buru pamit kalau ada orang.

wpid-12032262_10200983959756557_4092639180041002173_nYang berikutnya, ini masalah adaptasi… sedekat mata saya melihat, sedekat yang sudah saya rasakan… Disini adalah potret kehidupan kampung. Para penghuninya “seolah-olah” adalah bertani, kalau subuh jalanan begitu gelap dan becek hingga saya harus meraba-raba pijakan ketika mencari jalan kalau mau ke masjid, dan yang menyenangkan adalah bintang-bintang kelihatan jelas kalau malam. Kalau sedang duduk di halaman depan saya bisa melihat traktor lewat menuju sawah, ayam-ayam peliharaan berkeliaran, pohon-pohon tinggi menjulang. Suasanya sangat kampung sekali.

Tapi menurut saya, tempat ini juga tidak bisa bisa dibilang betul-betul kampung, karena jarak saya tinggal hanya kurang lebih 100 meter dengan jalan raya. Betul! 100 meter dari rumah tempat saya “menginap sementara” ini ternyata ada Pom Bensin, beberapa toko yang berjejer, bahkan ada Indomaret! OMG… ada Indomaret berarti sebenarnya ini adalah kota! (sorry, itu cuma persepsi), bedanya disini—kata teman saya—tidak ada angkot!

…dan singkat cerita, hari ini saya mengunjungi Indomaret tersebut. Mencari pisau cukur.

Begitu masuk ke dalam… ya Tuhan, saya merasa kembali ke peradaban! saya merasa menemukan tempat saya seharusnya tinggal. Ada AC yang dinginnya poll, ada Coca Cola kalengan! ada es krim! ada Chitato! ada kopi sachet! ada semua yang saya perlukan untuk bertahan hidup normal seperti biasanya! dan yang menyenangkan… mendadak sapaan “Selamat siang, selamat datang di Indomaret, selamat belanja” itu jadi sangat bermakna… untuk pertama kalinya saya menikmati kata demi kata yang keluar dari mulut mbak penjaganya! dan kalau tidak takut kualat dan digebukin orang se-RT, rasanya saya mau peluk dia dan bilang “Terimakasih mbak… itu omongan bahasa Indonesia paling panjang yang pernah saya dengar selama dua hari disini! Terimakasih sudah membuat saya kembali merasa ada di rumah!

well, mungkin memang saya terlalu merindukan Bandung, mungkin memang saya belum beradaptasi dengan baik disini (Iya lah, baru dua hari). Apalagi saya memang termasuk orang dengan kemampuan adaptasi yang lambat, itulah sebabnya saya tidak merasa nyaman kalau harus pindah tempat. Mungkin itu sebabnya elemen-elemen sederhana seperti isi rak Indomaret, dinginnya AC, atau rentetan kata bahasa Indonesia—yang biasanya saya abaikan—jadi terasa berbeda. Sebab elemen-elemen itu memiliki kesamaan dengan apa yang terjadi di rumah, di Bandung. Seperti ada memori yang ditarik balik.

Saya kira tidak ada yang salah dengan itu…

dan serius… ketika selesai belanja, saya dengar mbak tadi bilang “Terimakasih, selamat datang kembali…” saya tersenyum, dan melirik, menikmati senyum mbak kasir… dalam hati saya bilang “Tenang mbak, saya sengaja melupakan obat nyamuk lotion… supaya saya punya alasan untuk kembali ke sini…

Lebay? terserah… sudah saya bilang: Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret.

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Tips Cari Makan di Tempat Wisata
Berita soal ada pengunjung yang terjebak makan dengan harga sejuta di pantai Anyer, Karang Bolong sudah pernah kita dengar. Iya sih gimana nggak bikin heboh, dihitung sebagai tempat wisata saja harga ...
Nasi Goreng "Papua"
Sambungan dari "Nasi Goreng Naga" Tukang nasi goreng kedua yang saya jauhin letaknya ada di sebelah timur base-camp, tepatnya di depan sebuah rumah sakit. Nah, kalau yang ini saya curiga, j...
Nasi Goreng "Kuntilanak"
Sambungan dari "Nasi Goreng Papua" Nah, nasi goreng ketiga yang saya jauhi adalah nasi goreng di sebelah utara base-camp. Jadi yang ini ceritanya waktu saya dan teman-teman kepentok deadli...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

4 thoughts on “Ini Indomaret di Surga!

  • 16/03/2016 at 22:26
    Permalink

    ahahahah, itu foto asli mba-mba nya? kalau sampe asli itu fotonya, kemungkinan besar perkataan “dalam hati” dibaca langsung sama si mbak-nya. sukses ya!XD

  • 17/03/2016 at 23:23
    Permalink

    Kadang kita beranggapan kalo di kota itu sumpek, panas, dan gerah, kalo di desa/kampung dingin dan sejuk. Tidak selamanya begitu sih, kadang ada juga desa yang udaranya panas.

    Wah udah di dalemnya adem, ditambah lagi senyum ceria ples muka manis mbak2 indomaretnya bikin hati kita ngefly :v

    Sayang gue sama sekali gak bisa nemuin itu disini, karna di kota gue belum ada Indoapril

  • SiHendra
    19/03/2016 at 08:40
    Permalink

    iya, memang tidak selamanya begitu… itu cuma pemikiran yang tergesa-gesa saja :-)
    Tapi memang sepertinya Indomaret meningkatkan “level” penerimaan kasirnya deh… bentar lagi bisa-bisa putri Indonesia saja yang diterima disana

  • SiHendra
    19/03/2016 at 08:43
    Permalink

    bukan… disana itu mbaknya biasa aja… tapi nyenengin #EH

Leave a Reply

Your email address will not be published.