Ayo Mulai di Yogyakarta!

Yogyakarta adalah sebuah kota yang selalu berubah di mata saya. Bahkan setiap kali ke sana, saya selalu bertanya begitu keluar dari stasiun atau bandara “Kali ini kamu jadi kota macam apa?”

Ini bukan maksudnya negatif, ini apa adanya. Misalnya: beberapa kali ke Solo dan mendapati bahwa saya mengeluarkan kalimat yang sama setiap turun di Solobalapan “Saya pindah ke sini saja deh!”… ya, dengan mudah saya bisa jatuh cinta pada Solo hanya dengan menghirup udaranya saja (kalau Bandung sih itu bukan cinta, tapi terjebak… macam dikawin paksa gara-gara kegerebek hansip jam satu malam. Intinya cinta, tapi agak dipaksa situasi). Tapi nyatanya tak semudah itu “cinta” berlaku pada Yogyakarta.

Oke saya sering ke Yogya, oke saya bisa menikmati kota itu—terutama makanannya—, oke saya kadang menemukan sisi-sisi mengejutkan tiap kali ke sana, sesuatu yang bikin penasaran untuk mengunjunginya kembali. Tapi untuk sampai tahap jatuh cinta seperti ke Solo atau Bandung… itu yang agak susah. Bahkan jika pun pameo usang ini dilakukan: jika kamu susah untuk jatuh cinta pada satu kota, cobalah mulai dengan jatuh cinta pada salah satu penghuninya

Kenapa? Karena kalau diibaratkan perempuan, bagi saya Yogyakarta adalah perempuan cantik yang membingungkan. (well, di mata laki-laki semua perempuan membingungkan, right?), maksudnya semacam begini… Hari ini dia dandan match banget dan menyenangkan mata, tapi bisa saja pas saya ketemu lagi dengan dia entah kapan… dia bisa saja berubah jadi perempuan yang make-up nya belepotan bikin ilfiil. Atau kadang saya lihat dia sebagai perempuan pendiam rapuh dan perlu dukungan, kadang malah perempuan atraktif yang rame… kadang romantis, kadang narsis, kadang deket, kadang menjauh, seperti itulah.

Mungkin Yogyakarta cocok untuk menggambarkan profil teman saya Selly, dia orangnya begitu… berubah-ubah terus kalau ketemu, sampai saya pengen nanya-sangat-serius: kamu itu punya berapa kepribadian sih? (lho-kok-jadi-ngomongin-Selly?)

Oke, sorry… itu semua pendapat pribadi dari orang yang tiap datang ke Yogya cuma jadi turis-domestik-tukang-cuci-mata-nggak-pernah-belanja.

Tapi dibalik itu semua, saya melabeli Yogyakarta adalah kota yang menyenangkan. Terutama: menyenangkan untuk memulai sesuatu. Seorang teman yang tidak mau disebut namanya (sok misterius dia, sialan) pun punya kalimat yang menurut saya tepat:

Yogyakarta adalah tempat yang atmosfirnya adalah bersenang-senang sekaligus belajar (sementara atmosfir Bandung adalah: belajar bersenang-senang… haha)

IMG_1750Dalam sebuah tulisan saya soal angkringan—yang dikomentari dengan sangat serius oleh seseorang entah siapa di status Facebooknya, sampe nyebut saya kurang pendalaman, kurang riset, dan terlalu menggampangkan kata “demokrasi”

(halah, dia lupa baca header website ini… sudah saya bilang ini cuma ocehan, jangan ‘ditanggapi’ terlalu serius lah, why so serious kata Joker juga, ayo kita ngoceh saja sepuasnya di era kebebasan ini, oh iya, saya yakin 77% dia anggota sebuah ormas pembela Khilafah yang sering disingkat dengan tiga huruf, huruf terakhir I, depan H, tengah T.. yes, this is on the record, catet… ON THE RECORD!)—apapun… intinya, di postingan tersebut saya menandai bahwa Yogyakarta adalah tempatnya makanan murah. (Saya belum mencoba semua makanan di Yogyakarta, tapi keterangan dari teman-teman yang tinggal di Yogya sih begitu.)

Di titik inilah saya yakin bahwa Yogya memang tempat yang tepat untuk memulai sesuatu. Yogya sebuah kota besar, tempat yang tepat untuk membangun pondasi untuk mimpi. Seperti yang kita tahu, membangun pondasi itu berat, perlu perjuangan tersendiri. Di Yogya kita bisa melakukan itu tanpa harus bingung soal sumberdaya. Intinya: silahkan bangun pondasi sekuat-kiatnya, asah skill setajam-tajamnya. Soal tempat tinggal tak usah pusing, banyak kost murah (dan campur #EH), soal makanan juga nggak usah pusing, makanan murah dan mengenyangkan ada di mana-mana.

Hmm, saya yakin kesimpulan “asal” itu saya dapati ketika makan di sebuah angkringan di dekat stasiun Tugu. Ketika itu saya membayangkan ada seseorang di satu sudut kecil kota Yogya sedang belajar keras, berjuang untuk mengasah keahliannya, dia tidak punya uang banyak, kalaupun ada kebanyakan habis untuk riset atau membeli keperluan belajarnya, tapi dia tidak khawatir soal mandi atau makan, Mandi seminggu sekali, lalu kalau lapar… asal ada uang 3000 rupiah di saku dia tetap bisa makan!

Maaf atas imajinasi yang aneh, atas silogisme yang terburu-buru, atas ketidaakuratan data (apakah kita tetap memikirkan data saat sedang berimajinasi, poor we…)

Tapi kalau pun itu batasannya… saya agak sedih. Mungkin seperti kata teman saya Lian. Saat kita berbincang-bincang di sebuah lantai UNY waktu hujan turun cukup deras… saat itu dia bilang “bukan soal saya tidak mau membangunnya mas, tapi apakah saya bulan depan masih di sini atau tidak…” (catatan: kita bicara tentang membangun komunitas, bukan membangun keluarga sakinah)

Begitulah… sebuah tempat untuk memulai, pada suatu saat harus siap untuk ditinggalkan ketika pondasi itu sudah cukup kuat untuk dipakai berpijak dan terbang.

Itulah Yogyakarta, setidaknya menurut saya… []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Tips Cari Makan di Tempat Wisata
Berita soal ada pengunjung yang terjebak makan dengan harga sejuta di pantai Anyer, Karang Bolong sudah pernah kita dengar. Iya sih gimana nggak bikin heboh, dihitung sebagai tempat wisata saja harga ...
Balada Nasi Goreng
Kerja sebagai editor bikin saya sering nginep di kantor, terutama pas deadline datang. Sekadar catatan: deadline sebenarnya lebih parah dari jelangkung. Karena Jelangkung nggak pernah ngerjain kita (...
Nasi Goreng "Kuntilanak"
Sambungan dari "Nasi Goreng Papua" Nah, nasi goreng ketiga yang saya jauhi adalah nasi goreng di sebelah utara base-camp. Jadi yang ini ceritanya waktu saya dan teman-teman kepentok deadli...
Ini Indomaret di Surga!
Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misa...
Catatan Bontang #1: Langit Bontang, Juara!
 “Aku menyukai langit. Kamu bisa memandanginya sesukamu dan tidak pernah bosan, tapi ketika kamu merasa sedang tidak ingin memandanginya, ya kamu tidak usah memandangnya.” Saya membaca kalimat itu da...
Catatan Bontang #2: Selangan
Selama tiga minggu dia di Bontang ini, saya jarang kemana-mana, cari makan, ambil duit di ATM cuma di sekitaran kosan, paling yang agak jauh pas beli bensin. Itulah sebabnya selama disini saya baru bi...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.