Orgasme Jari

Kalau ada yang bertanya (kalau ada) apa yang paling saya nikmati saya menulis, atau pada momen apa saya merasa bahwa menulis itu menyenangkan… saya akan jawab: ketika jari beradu dengan tuts keyboard.

Jadi kadang ada saat kita merasa pertemuan ujung jari dengan keyboard itu demikian enak, empuk, nyaman… entahlah kalau orang lain, tapi kalau saya, disitu saya merasa bahwa sebuah tulisan akan jadi. Biasanya itu terjadi ketika saya lama tidak menulis.

Saya menyebutnya “orgasme jari”

Sudah, saya cuma mau bilang itu saja… tapi karena sebuah blog tidak “tampak” enak kalau isinya terlalu pendek, harusnya saya bisa mengeksplore lagi, makanya di dunia ada aturan macam 5W + 1 H, harusnya saya menguraikan apa itu orgasme, kenapa disebut orgasme, apa akar kata orgasme? lalu ketika digabung dengan kata “jari” apakah frasa itu bermakna sesuatu, atau cuma sebutan belaka?

Atau mungkin saya harus lebih menggali informasi buat pembaca, misalnya tentang: seberapa sering saya mengalami orgasme jari? yang bisa juga bersambung dengan berarti seberapa sering saya berhenti menulis? atau ketika menulis novel maka pada bagian mana saya merasa orgasme jari? atau bagaimana jika menulis cerpen? kalau saya jawab bahwa saya sudah jarang sekali menulis cerpen maka pasti ada saja yang bertanya: kenapa sudah tidak menulis cerpen? apakah karena sudah tidak bisa, tidak mau, atau sombong belaka? sombong karena sudah terlalu biasa menulis 150 halaman lantas merasa hina kalau menulis 4 halaman?

Atau mungkin lama-lama pertanyaannya bisa berlanjut jadi: apakah orgasme jari itu menyambung ke bagian-bagian tubuh yang lain. Bagian tubuh mana yang orgasme? apa rasanya? Lantas bagaimana menggunakannya? NAH, bahasannya jadi panjang (dan ribet) kan?

Ya, harusnya memang seperti itu saya menulisnya, supaya postingan ini informatif dan menyenangkan… tapi sayang sekali kali ini saya lagi malas. Saya mau nonton bola. []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
Penerbit Perlu Naskah: Media Cendekia Muslim
Kemarin sore saya ketemu dengan teman lama, saya panggil dia kang Sandi. Kita pernah kerja bareng di sebuah penerbit yang sudah bubar jalan (nggak enak lah nge-mention nama penerbitnya, pokokn...
Penerbit Perlu Naskah: Bitread
Ceritanya, di dekat rumah cafe baru… Warung Upnormal, eh nggak terlalu baru juga sih, pertama kali saya lihat tempat itu ada sebelum puasa. Mau mampir tapi belum sempat, terus pas bulan puasa malah ...
Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...
H-96: Kesalahan Dalam Menjiplak Senior
Saya masih bicara tentang urusan senior. Tapi kali ini saya ingin bicara tentang sebuah masalah standar yang terjadi pada seorang penulis baru, dan ini—tentu saja—juga terjadi di anggota-anggota Forum...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.