Been Alone in a Crowded Room

Apa yang paling mengerikan dari sebuah kesendirian?

Akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya soal itu. Saat sendirian. Pada akhirnya saya sendiri harus menyerah karena tidak mungkin menemukan jawaban. Tapi yang pasti, dalam kesendirian saya merasa takut dan putus asa sekaligus. Takut akan sesuatu yang tidak jelas, sekaligus putus asa mencari jalan untuk menyelesaikan ketakutan itu.

Dalam kesendirian, saya melihat orang lain di sekitar saya begitu berbahagia, tapi saya pun sebenarnya tidak bisa beranjak begitu saja menghampiri mereka, semata-mata karena saya merasa tidak mungkin bisa menyamai mereka, saya khawatir kebahagiaan yang saya dapatkan nanti begitu semu sebab hanya meminjam aura kebahagiaan mereka. Lebih parah lagi jika kebahagiaan mereka pun sebenarnya semu, apa jadinya jika saya meminjam kesemuan itu juga, bukankah semua akan jadi lebih parah?

Tapi saya tidak akan membahas spesifik soal kesendirian, saya hanya ingin “mulai” menulis apa saja semau saya di sini.

Karena malam ini saya memutuskan untuk berhenti menulis blog yang sok-sok pintar, sok-sok pakai data riset. Saya jadi lelah, menulis jadi sangat tidak meyenangkan. Jadi saya kira akan cukup adil jika apa yang saya tulis adalah apa yang saya rasakan, lihat, atau langsung saya ketahui saja. Setidaknya tidak mungkin terjadi pedebatan atau sanggahan, karena apa yang saya lihat bisa jadi berbeda dengan yang orang lain lihat. Tak apa-apa toh?

Saya tahu, mungkin saya akan mengecewakan beberapa orang… misalnya teman saya Ai yang pernah bilang “Kamu kelihatannya bego, tapi pas orang baca tulisanmu baru deh kamu kelihatan pintar”, ehm… saya tidak tahu apakah itu pujian atau ejekan, tapi karena seorang teman yang bicara seperti itu maka saya hanya tertawa saja. Kenapa juga harus marah pada celetukan teman?

Atau ada teman lain, namanya Elya… dia beberapa kali bilang “Tulisan kamu itu selalu menarik sudut pandangnya…”, hmm, itu masalah lain lagi… karena saya tidak selalu bisa menemukan sudut pandang yang menarik untuk tiap masalah. Kadang pendapat saya adalah pendapat orang kebanyakan. Lalu apa jika seperti itu lantas saya tidak boleh menuliskannya?

Lagipula, saya selalu berpendapat bahwa memiliki blog sama saja dengan “membiarkan diri diintip”, well… pertanyaannya: apakah kita akan membiarkan orang lain mengintip sisi kejujuran kita? atau kepalsuan kita?

Jadi silahkan intip saya sebisa-bisanya. Kali ini tidak akan sok berat atau sok lucu, saya sudah capek menulis sesuatu yang penting, yang dianggap penting, yang menurut orang penting. Misalnya: apakah karena orang sedang ramai membicarakan LGBT, lantas saya perlu juga menulis soal LGBT sementara saya sama sekali tidak tertarik pada persoalan itu?

Saat ini, misalnya, saya sedang ingin menulis tentang nasi dengan kuah kaldu ayam, ya lebih baik saya tulis saja. Sepertinya lebih menyenangkan.

Ah, saya jadi lapar… masak mie telur dulu… []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Tips Agar Lelaki Mengantri Cintamu
Kemarin sore di tempat kerja ada obrolan-nggak-terlalu-penting antar saya dengan temen kantor, perempuan. Dia cerita bahwa ada temen kampusnya—perempuan juga—yang punya kebiasaan kalo lagi single akan...
Hewan Juga Homo
Saya bukan gay, saya juga nggak pro LGBT (karena buat saya, lawan jenis masih "tampak" lebih mengenyangkan #EH). Di dalam postingan ini saya cuma ingin meluruskan saja, ada satu hal "ke...
Ikigai: Apa Tujuan Kita Diciptakan?
Beberapa hari ini saya agak serius mengkaji soal IKIGAI, terutama soal yang berkaitan dengan diri sendiri. Mungkin ada yang sudah pernah denger soal ini, tapi mungkin juga belum… Kata “Ikigai” sebenar...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Modal Penting Mencari Kerja
Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  ...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Been Alone in a Crowded Room

  • 09/03/2016 at 08:22
    Permalink

    Selamat menyendiri dan semoga daku senantiasa bisa membersamai kesendirianmu. #eeaaa

    (kalo dibersamai, jadi nggak sendiri lagi dong? Oke, cancel kalo gitu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *