Hewan Juga Homo

Saya bukan gay, saya juga nggak pro LGBT (karena buat saya, lawan jenis masih “tampak” lebih mengenyangkan #EH). Di dalam postingan ini saya cuma ingin meluruskan saja, ada satu hal “kecil” tapi menarik yang saya lihat sering muncul saat sedang pro-kontra  soal LGBT, yaitu teman-teman yang pasang status anti-LGBT sering bilang:

“Homoseksual adalah perilaku yang lebih hina dari hewan, karena hewan saja tidak ada yang homo!”

Saya sering nyengir sendiri saat membaca hal tersebut. Jadi begini teman-teman… kita itu boleh marah, boleh komentar, boleh mengecam, itu hak masing-masing. Siapa sih saya sampai melarang-melarang? Tapi saya ingatkan bahwa dalam mengeluarkan statement, otak tetap harus dipakai, daripada ketahuan salah malah jadi malu… kan jadi gawat, alih-alih target jadi insyaf kan malah jadi ngetawain (kebodohan kita)

Memang ada masalah dengan kalimat di atas? Ya, memang saya akui, soal hewan itu 100% hetero itu adalah miskonsep yang udah umum (saya aja dulu juga mikirnya gitu). Miskonsep itu terjadi karena rata-rata dari kita bukan peneliti hewan yang pernah melihat perilaku hewan di alam liar. Kalau pun kita ketemu hewan, ya paling cuma segitu-gitunya yang lewat di depan rumah, ada: ayam, kucing, anjing, kambing, kadal, bebek bercula, dsb… di mana rata-rata kalaupun kita bisa menyaksikan mereka kawin, ya kita lihat mereka kawinnya dengan lawan jenis.

Dari situlah kita berpikir bahwa semua hewan itu ya heteroseksual. Iya kan? Maka kita merasa sah mengatakan, “hewan saja tidak ada yang homoseksual, masa kamu homoseksual?”

Padahal, ketika saya cari tahu datanya, ternyata berbagai temuan sains modern menunjukkan pandangan itu keliru… karena sebenarnya:

Perilaku homoseksual ditemukan juga pada banyak jenis binatang.

Kenyataannya, tak kurang dari 1500 spesies hewan di dunia ini punya perilaku homoseksual. Dan itu berlaku dalam beragam spesies, seperti: mamalia, burung, reptil, serangga, dll… terus hewannya juga termasuk yang lucu-lucu macam penguin, angsa, capung, lumba-lumba… bahkan juga hewan-hewan yang serem dan sering dipake sebagai simbol kekuatan macam singa, hyena, atau gajah

Kalau yang mau tau jelasnya, baca aja di ensiklopedi-kita-bersama, Wikipedia… ini linknya

Maksud saya disini posting beginian bukan apa-apa, saya cuma ngomongin data kok. Jadi ada baiknya mulai sekarang kalau mau ngomentarin LGBT, daripada diketawain, mending jangan pake kalimat “semua hewan heteroseksual” karena itu salah. Pakailah kalimat yang lain yang datanya sudah jelas.

Intinya, cari tahu dulu lah sebelum ngomong, kan Tuhan sudah menciptakan Google, dipake dong…

Selanjutnya saya serahkan ke teman-teman. Apa cara “menghakiminya” lantas berubah jadi, “Oh, maka jelas LGBT itu perilaku hewan… dst, dll, dsb“, ya itu urusan masing-masing lah. Dosanya-dosa masing-masing, pahalanya juga ga akan dibagi-bagi kan. Saya nggak ikutan, saya cuma ngomongin data. Begitu.[] aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Kala Subuh: Teringat Sahabat Lama.
Masih sama, seperti beratus-ratus subuh sebelumnya, membuka laptop, menekuni lagi tulisan yang tidak kumengerti... Teringat: "It's a big thing for me!" kalimat itu meluncur berulang-ulang ...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Ikigai: Apa Tujuan Kita Diciptakan?
Beberapa hari ini saya agak serius mengkaji soal IKIGAI, terutama soal yang berkaitan dengan diri sendiri. Mungkin ada yang sudah pernah denger soal ini, tapi mungkin juga belum… Kata “Ikigai” sebenar...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?
Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak te...
Mari Mengobrol Seperti Domino
Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam? Ketika masih kuliah, saya pernah meng...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.