Kerudung Kamu Halal? Kalau Kamunya? #EH

Kemarin-kemarin sempat sebuah produk kerudung jadi trending topik yang lumayan rame, nama produknya nggak usah disebut disini lah, soalnya ntar disangka ngiklan—nggak dibayar pula buat promosi—sebab produk tersebut mengklaim bahwa kerudungnya mereka halal.

Kalau kata Creative Directornya sih, intinya kerudung yang halal ditentukan dari jenis kainnya, apakah mengandung gelatin babi atau tidak. Gelatin babi umumnya terdapat pada pengemulsi saat proses pencucian bahan tekstil. Nah, kerudung-kerudung dari produk itu katanya sudah diuji coba dan hasilnya tidak mengandung babi sehingga ditetapkan halal menurut MUI.

Okelah, saya sih nggak ada masalah… toh nggak pernah pake kerudung juga seumur-umur belum masuk waktu Indonesia bagian ngondek. Lagipula sebagai orang Islam yaaa… saya tau kalau misalnya kita pake barang halal maka selain perasaan lebih tenang, ya dapet pahala juga. Gampang dipahami kan? Lagipula dari sudut pandang MUI sih ini nggak perlu terlalu diributin karena—mengutip kata Kepala Bidang Informasi Halal LPPOM MUI, bapak Farid Mahmud—pengajuan sertifikasi halal untuk produk selain makanan dan minuman sudah mulai marak sejak tiga hingga empat tahun belakangan. Banyak produsen yang mulai memperhatikan kehalalan produknya setelah mencuatnya isu sepatu berbahan kulit babi.

Eriska ReinJadi intinya nggak cuma kerudung, tapi produsen sepatu, ikat pinggang, tisu, kertas, hingga perusahaan jasa telah mengajukan pendaftaran sertifikat halal ke MUI.

Okelah… jadi kedepannya kita lihat akan ada trend perusahaan baju rame-rame masang produk halal. Ini sih kebetulan saja produk kerudung itu yang pertama diketahui publik. Dan secara cerdas mereka memanfaatkan itu sebagai iklan produknya (ngaku aja deh, fakta itu akhirnya jadi viral kan? dan produknya pun otomatis kesebut kan?)

Nah, kemarin di motor pas mau ke pameran buku… mendadak kepikiran soal ini. Bukan soal saya pengen pake kerudung, tapi jadi muncul pertanyaan nggak penting di otak, yaitu:

Apakah kita bisa menunda melakukan sesuatu yang halal, karena belum punya alat yang halal?

Menurut saya–nggak tau kalau menurut orang lain–pertanyaan ini penting karena kalau kita bicara level yang lebih luas dari “sekadar” kerudung, maka kita akan bicara sesuatu yang luas banget. Pembicaraan soal ini juga kelak bakal nyangkut ke soal aspek darurat, sedarurat apakah sampai kita boleh pakai sesuatu yang belum jelas halal haramnya. Lalu apakah barang ini bakal dispesifikkan satu-satu? Soalnya kalau bicara baju saja, itu banyak jenisnya, ada: kemeja, kaos, baju tidur, baju pesta, gaun, baju besi, rompi anti peluru, dll… kalau bicara celana juga ribet, ada: celana pendek, celana panjang, celana ngatung, celana cutbray, celana renang, celana baggy, dll. “Apakah hidup kita akan terus-menerus dipakai untuk mengurus spesifikasi ini, Alfonso?” #TelenovelaModeOn

Pertanyaan saya di atas, kalo dibikin dialognya mungkin jadi gini:

Kamu kok nggak pake jilbab? Itu wajib lho // Iya sih, tapi jilbab di lemari aku belum dapet sertifikat halal dari MUI, jadi gimana dong?

Nah, ribet kan?

Yah, sebenarnya… akan lebih bijaksana sih kalo kita tunggu saja deh ulama-ulama pakar fiqih “beneran” untuk berkomentar dan nanti biar mereka juga yang menyebarkan fatwanya ke publik.

Harus sama mereka, sebab selain mereka memang ahlinya, juga untuk meredam fatwa-fatwa dadakan di sosmed. Karena seperti baisa, kalau terjadi sesuatu maka kita bakal lihat semua orang mendadak jadi pakar. Taruhan… kemaren status FB banyak diisi pakar fiqih lho…

Tapi ini juga mesti dilakukan secepatnya… karena kalau kelamaan, dialog di atas bisa saja berubah jadi:

Kamu kok nyeker? // Iya soalnya sepatu dan sendal punyaku masih nggak jelas halal haramnya

Atau dalam situasi tertentu, dialognya bisa saja jadi begini:

Kamu kok nggak pake sempak? // Iya soalnya semua sempak aku haram semua // lho, kok bisa haram semua? // Soalnya belum ada sertifikat halal dan semuanya ada gambar Piglet, itu kan babi // Errr… oke, kalo isinya?

#EH #SENSOR!

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Kala Subuh: Teringat Sahabat Lama.
Masih sama, seperti beratus-ratus subuh sebelumnya, membuka laptop, menekuni lagi tulisan yang tidak kumengerti... Teringat: "It's a big thing for me!" kalimat itu meluncur berulang-ulang ...
Pesan Idul Adha yang Sebenarnya
Saya punya khatib favorit tiap kali Jumatan di masjid deket rumah, konyolnya sampai sekarang saya ga tahu namanya, hehe (ketahuan datengnya suka telat jadi ngelewatin pembacaan info-info masjid!) Ken...
Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Tuhan Memaafkan Semuanya, Termasuk Steve Harvey
Peristiwa salah baca di ajang sekelas Miss Universe 2015 kemarin itu memang cukup bikin heboh, dan dunia seolah kompak menyalahkan Steve Harvey yang didapuk jadi MC acara tersebut. Buat yang ngga...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Kerudung Kamu Halal? Kalau Kamunya? #EH

Leave a Reply

Your email address will not be published.