Filsafat Itu Seperti Pornografi

Seorang teman menulis status Facebooknya, statusnya tidak penting. Tapi dibawahnya ada 70-an komentar, yang salah satunya cukup mengganggu saya karena isinya: “Makanya jangan belajar filsafat, karena muara filsafat adalah ATEIS…”

Hampir saja saya ketik reply: “perlu brosur piknik mbak?”, tapi karena sekarang saya sudah dewasa #cieeee dan malas membuka potensi perdebatan nggak jelas macam itu, maka saya alihkan dengan ngeblog aja

Intinya, saya “sedih” tiap kali ada orang yang menjudge sesuatu itu tidak perlu dipelajari, tidak perlu ditengok, tidak perlu diperhatikan, tidak perlu ditelaah… Kenapa? karena saya percaya sesuatu itu pasti sampai ada di dunia karena ciptaan Tuhan, dan Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu untuk kesia-siaan.

Hubungannya dengan urusan di atas: menurut saya (karena sampe ada fakultas, jurusan, dan profesornya segala) ilmu Filsafat adalah sebuah cabang ilmu yang sudah Tuhan turunkan ke dunia, soal mau mempelajari atau tidak ya itu terserah masing-masing orang. Karena tidak semua hal juga perlu diserap, tergantung minat dan bakat lah. Tapi kalau sampai ada yang mengatakan Filsafat itu TIDAK PERLU dipelajari ya itu nggak bagus juga. Apalagi kalau orang yang berpendapat bahwa muara filsafat adalah atheisme, saya pikir dia justru tidak tahu apa-apa soal filsafat. Karena menurut saya pribadi, jika “diamalkan” dengan benar, filsafat malah bikin kita makin religius.

Eh, serius… salah satu pengalaman pribadi saya dengan filsafat terjadi setelah saya baca buku “Heidegger dan Mistik Keseharian” tulisan pak F. Budi Hardiman, dan alhamdulillah saya berkesempatan juga ikut kuliah dengan pak Budi Hardiman langsung. Saat mempelajari itu, saya merasa konsep-konsep pemikiran Heidegger itu memperkuat apa yang selama ini saya baca di Al-Quran. PERHATIKAN: saya nggak bilang omongan Heidegger sama dengan isi Al-Quran, tapi omongannya “memperkuat” apa yang selama ini saya baca.

Salah satu sisi religius yang makin menebal pasca baca Heidegger adalah: Meski (mungkin) Heidegger tidak pernah baca Al-Quran, tapi karena pemikiran dia pada akhirnya sama dengan isi Al-Quran, maka saya sampai pada kesimpulan bahwa Al-Quran itu memang sumber ilmu yang keren, karena cepat atau lambat pemikiran-pemikiran atau ilmu sains yang ditemukan oleh manusia itu pada akhirnya terbukti sudah lama ada di Al-Quran. Bukan cuma soal turunnya hujan, rotasi planet pada matahari, atau pertumbuhan janin dalam perut, tapi juga filsafat hidup dan mati.

Jadi jelas kan? dengan mempelajari Heidegger saya malah lebih religius…

Lagipula kalau filsafat tidak boleh dipelajari oleh umat Islam, lalu bagaimana penjelasannya sampai muncul filosof-filosof Islam macam: ibnu Qais al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, ibnu Yahya Al-Razi, ibnu Miskawaih, dan Ibnu Rusyd? Mereka juga belajar dari filosof-filosof Yunani macam Plato atau Aristoteles, tapi mereka mengembangkan lagi pemikirannya hingga membentuk suatu filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam.

Dalam sudut pandang seorang filmmaker, ini seperti film porno. Seumur-umur saya nggak akan bikin film porno, nggak perlu juga merasa harus belajar teknisnya… tapi setidaknya saya nggak menutup mata bahwa film seperti itu ada, PH nya ada, sutradaranya ada, artisnya ada, award-nya ada, dan konsumennya ada, dan yang terpenting saya bisa menerima bahwa film genre itu tuh ada dan ga sampe bilang “Jangan Bikin!”.

Filsafat… kalau nggak mau belajar ya silahkan, tapi jangan menutup mata dan bilang “Jangan Pelajari!”

well, mungkin kaum sinis di luar saya lantas bisa saja berkata: “Lah kalo endingnya gitu ya langsung pelajari saja Al-Quran, beres… ngapain perlu baca buku laen?”, saya nggak sependapat… karena cara dan gaya belajar serta daya serap tiap orang beda-beda, ada yang cukup baca satu buku udah paham, ada yang mesti baca-baca buku rujukan lain baru ngerti, dsb…

Terus… antisipasi aja, kalau ada lagi yang ngomong, “Masa lu harus baca dulu Heidegger baru ngerti kalo Al-Quran itu ‘memang sumber ilmu yang keren’? Kemana aja?”, saya tinggal jawab: “Mau dibeliin kapal? biar lu langsung ke laut aja?” []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Mari Mengobrol Seperti Domino
Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam? Ketika masih kuliah, saya pernah meng...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *