Kronik Sebuah Kota Tuhan

Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jalanan di Cidade de Deus, sebuah area di bagian barat kota Rio de Janeiro.

Menonton film ini, bikin saya bisa memandang Rio berbeda dengan yang ditawarkan pada foto-foto di kartu pos. Entah kondisi Ciudad de Deus relevan dengan Rio atau tidak, tapi menurut saya… alih-alih menganggap Rio adalah tempat yang penuh dengan kesenangan (pantai, udara tropis, cewek berbikini, #UPS #EH), ternyata Rio adalah kota yang keras, dimana kehidupan ala favela (perkampungan kumuh) dan favelado (penghuni perkampungan kumuh) mengambil kendali.

Carolina Maria de Jesus, seorang favelado menuliskan semangat itu dengan bagus di buku hariannya yang terbit bulan Agustus 1960 dengan judul Quarto de Despejo, begini kata Carolina “Favelado tidak kenal bunuh diri, jika lapar berani mengais tempat sampah, memungut sayuran di jalanan pasar, atau apapun untuk mempertahankan kehidupan…”

Ya, di film City of God juga tidak ada satupun tokoh yang bunuh diri, yang ada hanyalah saling bunuh! Tapi juga bukan sekedar saling bunuh, namun: saling bunuh dengan diketahui publik. Ini yang menurut saya mengerikan, bayangkan saja sebuah pembunuhan yang tidak jadi rahasia di sebuah kota miskin, dimana polisi saja sudah “tidak peduli” (kalau nonton film ini, pasti tahu kenapa itu dua kata pakai tanda kutip).

Menonton konflik demi konflik di City of God membuat saya ingat satu novel karya Gabriel García Márquez yang terbit tahun 1981 berjudul Chronicle of a Death Foretold (pernah diangkat juga jadi film dengan judul yang sama tahun 1987 oleh sutradara Francesco Rosi).

Ceritanya panjang (namanya juga novel, halah…), tapi inti ceritanya begini: karena satu konflik memalukan dan berkaitan dengan harga diri keluarga, Pablo Vicario and Pedro Vicario berencana untuk membunuh seseorang bernama Santiago Nasar. Parahnya rencana ini sudah diketahui oleh seluruh penduduk kota, tapi tidak ada satupun yang berniat mencegahnya. Silahkan saja baca petikan ini:

…many people learn of the murder plan, but nobody does anything to stop the brothers, or warn Santiago. People in the town are divided into three sides. Those who think that the brothers are kidding, people who know what is going to happen and think that the tragedy must be stopped, and local authorities who fail to exercise their duties and prevent the murder from occurring. It seems that people choose to keep Santiago in the dark and allow the tragedy to happen…

Nah, sudah jelas dari ketiga karya di atas kita bisa lihat seperti apa sebenarnya wajah Amerika Latin. Sebuah tempat dimana pembunuhan dan kematian adalah suatu wacana dan berita yang sudah diketahui semua orang, bahkan termasuk si korban sendiri!

Dalam City of God, kita bisa lihat bahwa semua orang di Cidade de Deus sebenarnya tahu bahwa pada satu titik, Lil Ze, Knockout Ned, Benny, Carrot, atau semua wajah yang muncul disana akan berusaha saling bunuh, tapi seperti yang ditulis oleh Marquez: It seems that people choose to keep Santiago in the dark and allow the tragedy to happen

Film ini keren, sejauh ingatan saya… dia sudah dapat 8 award dan 8 nominasi di ajang-ajang festival bergengsi, ditambah masuk ke top-ten list 2003. Bahkan—yang menurut saya luar biasa—Chicago Sun Times menempatkannya di #2.

Untuk yang tidak tahu kenapa luar biasa, karena kolom kritik film di sana digawangi oleh kritikus paling keras di dunia bernama Roger Ebert. Intinya: kalau Ebert saja sudah suka… masa sih filmnya jelek 😀

Saya rekomendasikan film ini untuk teman-teman yang ingin tahu warna asli kehidupan Amerika Latin, yang ingin tahu kenapa di Peru selama 10 tahun terakhir sudah 15 ribu nyawa hilang, kenapa Carlos Escobar–seorang pengacara yang menyelidiki kasus pembantaian petani di Cayara–terkena teror dan semua petani yang bicara padanya dibunuh satu per satu, dan kenapa Uskup Agung El Savador–Oscar Romero–sampai berkata: di negara kami orang dibunuh tanpa alasan, tapi kami toh tetap harus membela apa yang Tuhan anugerahkan pada kami, yaitu kehidupan…

Oh iya, Oscar Romero juga akhirnya meninggal, ditembak ketika sedang memimpin misa di gerejanya. #sigh

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Kemarin, ke 43 kalinya Nonton American Splendor
Mungkin ini salah satu film yang saya tonton berkali-kali, selain Arisan (Nia Dinata, 2003), Before Sunrise (Richard Linklater, 1995), dan Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Tapi secara jumlah, ...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk ...
Agni, the Loveable...
Sudah lama nggak ngupdate cewek of the week, alasan pertama karena migrasi server, alasan kedua karena lupa terus! Aduh ini otak memang sudah mendekati pikun. Padahal harusnya ini saya update seming...
Yu Aoi, Pembantu yang Cantik! LHO!
Nah, di postingan kemarin saya sempat merasa ngenes karena postingan yang sudah siap upload mendadak hilang tak berbekas! Kali ini setelah lewat beberapa hari dan rasa sudah nggak ngenes lagi, akhirny...
Charlene Choi, Kamu Cocok Buat...
Setelah nyaris sebulan blog saya vakum—meski sebenarnya banyak bahan yang bisa ditulis—karena saya kebingungan: mana duluan yang harus ditulis. Tapi ternyata semuanya berubah karena seorang cewek, leb...
Soal Musik dan Bayaran
Kemarin saya nonton film Bean (Mel Smith, 1997) di TV. Kalau ada yang pernah nonton film ini, tentu ingat scene ketika Mr Bean dan David Langley pulang jalan kaki sambil mabok. Disana mereka nyanyi (d...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.