Tuhan Memaafkan Semuanya, Termasuk Steve Harvey

Peristiwa salah baca di ajang sekelas Miss Universe 2015 kemarin itu memang cukup bikin heboh, dan dunia seolah kompak menyalahkan Steve Harvey yang didapuk jadi MC acara tersebut.

Buat yang nggak ngerti situasinya: jadi pemenang Miss Universe 2015 ini harusnya adalah Pia Alonzo Wurtzbach (Philipina) tapi yang si Steve sebut adalah Ariadna Gutierrez (Kolombia).

CWviccsU8AA1AlA.jpg largePadahal, kasus salah baca di ajang bergengsi sebenarnya bukan pertama kali, salah satu yang saya inget adalah Australia’s Next Top Model tahun 2010 ketika yang juara mestinya Amanda Ware tapi yang kesebut malah Kelsey Martinovich. Lalu ada lagi catatan kasus dari ajang Queen Elisabeth Violin Competition 2015, dimana juaranya harusnya Lim Ji Young tapi yang kesebut adalah Lee Ji Yoon (apakah karena nama mereka terlalu mirip?)

Oke, Sekarang kembali ke Miss Universe 2015, ada satu artikel dari mbak Lisa Respers yang saya baca, judulnya “Steve Harvey is sorry, the Internet isn’t”, artikelnya singkat tapi intinya dia ngebahas bahwa masyarakat Internet “seolah” tidak memaafkan Steve.

Nah, saat baca judul artikel mbak Lisa, yang terlintas di otak saya justru adalah kata-kata Neal Sampat: “I kept telling my colleagues and my bosses that the internet is user sensitive”, mungkin karena itulah… wajar kalau berbagai respon bermunculan, dan puluhan meme Steve Harvey bertebaran sejak menit pertama dia melakukan kesalahan, semua menertawakan Steve. Beruntunglah Arie Van Lysebeth jadi MC di acara kompetisi violin yang “tidak terlalu terkenal”, atau Sarah Murdoch salah baca disaat trend meme belum marak. Kalau tidak, pasti bertebaranlah meme mereka.

Lantas—sambil baring-baring di kasur—saya berpikir tentang Indonesia, begitu banyak rasanya kesalahan “baca” di sini, sesuatu yang harusnya “terbaca” tapi tidak, sesuatu yang harusnya “tidak terbaca” tapi malah terbaca (contohnya kasus reporter TV one ini). Ini membuat frase “salah baca” sebenarnya sudah memiliki makna yang meluas, bukan sekadar “salah baca” tapi sudah memiliki definisi “kesalahan”.

Nah, lantas pernahkah kita menghitung berapa banyak dari kesalahan-kesalahan itu yang menimbulkan polemik di masyarakat? Berapa yang membangkitkan rasa sensitif kita? Berapa banyak yang bikin kita intropseksi? Berapa banyak yang bikin kita menyalahkan orang lain? Karena mungkin saja kasus “salah baca” di sekitar kita itu bukan murni si orang yang “salah baca”, tapi sistem yang memaksa dia untuk salah.

Misalnya, dari satu twit akun @TRMAN8TR saya ngeliat bahwa kesalahan Steve Harvey bukan murni tanggung jawab dia, tapi sebagian besar orang juga pasti akan salah baca kalau dikasih card seperti ini:

CWvFJ1iUkAEm9_p
juaranya cuma ditulis kecil di bawah, sementara normalnya mata akan mencari semacam “list nama” di kartu itu, dan mencari kata “1st”

aaa

Saya nggak ngebela Steve Harvey, miss Philipina, atau Miss Colombia (kenal aja nggak)… apalagi cerita soal Miss Universe 2015 ini juga sepertinya cuma pengalihan isu dipecatnya Jose Mourinho oleh boss Chelsea, tapi saya cuma mau bilang kalau ada yang salah-salah seperti itu, sesensitif apakah kita meresponnya? termasuk secepat apa kita melupakannya?

Karena Tuhan itu Maha Pemaaf, Dia pasti memaafkan semuanya, termasuk Steve Harvey. []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pengalaman Baru: Ngisi Materi OPS
Kemaren kan saya posting tulisan soal kena cacar air, nah sebenarnya pas banget lagi demam-demamnya (tapi si cacar belum keluar, tepat banget sehari sebelum bintil pertama muncul di muka) saya dapat u...
Tips Agar Lelaki Mengantri Cintamu
Kemarin sore di tempat kerja ada obrolan-nggak-terlalu-penting antar saya dengan temen kantor, perempuan. Dia cerita bahwa ada temen kampusnya—perempuan juga—yang punya kebiasaan kalo lagi single akan...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...
Mari Mengobrol Seperti Domino
Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam? Ketika masih kuliah, saya pernah meng...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Tuhan Memaafkan Semuanya, Termasuk Steve Harvey

  • 23/12/2015 at 02:09
    Permalink

    aduh… dikomen sama penulis terkenal… jadi merasa tersanjung, secara saya penggemar mbak 😀 … makasih blogwalkingnya mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published.