Di Satu Negeri, Ada Pemimpin yang Suka Selfie

Konon katanya… Julius Cesar, Kaisar Romawi yang terkenal itu punya resep jitu untuk menentramkan rakyatnya, yaitu resep “Roti dan Permainan”. Begini formulanya: Berilah rakyat cukup makanan dan mereka akan diam karena kenyang, berilah rakyat cukup permainan maka mereka akan diam karena hatinya senang.

Jadi ya… cukupi saja jumlah roti di pasar, kalau rakyat masih resah ya giring saja mereka dan suruh nonton Gladiator berkelahi sampai mati di Colosseum. Selesai… dan logis, karena rakyat mana pula yang akan protes dan macam-macam kalau sudah senang dan kenyang seperti tadi?

Lalu kini, di sebuah negeri yang tidak pernah cukup makanan—kelaparan, kurang gizi, program kesehatan mahal, sampai ada cerita seorang ibu harus merebus batu untuk mengelabui anaknya—dan tidak pernah cukup hiburan—sepakbolanya kalah selalu, komedian berpose di layar TV dengan putus asa memancing tawa yang sebenarnya sudah tak ada, acara TV di primetime tak ada yang bisa dinikmati, agama-agama yang katanya menjanjikan ketenangan juga hanya bisa bergesekan karena hal seperti apakah kita harus mengucapkan selamat pada perayaan agama lain?—hingga rakyat negeri itu konstan merasa resah… Ternyata ada sebuah kota yang pemimpinnya dipuji-puji sebagai masa depan negeri karena faktanya… warga kota itu tampak bahagia…

Terutama di sosial media!

BkAQHtGIQAASCNQ-620x-934xPemimpin kota itu masih muda dan bersemangat, pintar, idealis, selalu mengedepankan kepentingan rakyat, dan berpendidikan tinggi… dan dia memimpin dengan mencukupkan diri dengan dua hal tadi: “Roti dan Permainan”. Sehingga di kota itu makanan selalu tampak berlimpah, industri makanan satu persatu diberi jalan agar muncul ke permukaan, wisata kuliner berjajar di seantero kota, dan festival makanan diadakan secara rutin meski harus menutup jalan.

Lalu soal hiburan? Jangan tanya… festival bertebaran dari minggu ke minggu, tak mungkin warga kota itu melewatkan akhir pekan tanpa melihat iklan sebuah acara musik atau hiburan lainnya, musisi lokal bermunculan, komunitas seni mulai punya ruang untuk unjuk muka, bus wisata siap mengantar turis berkeliling kota. Itu semua jelas sebuah entertaiment, hiburan, agar para warga bahagia…

Tak cukup sampai di sana, Sang pemimpin pun tak lupa menyemarakkan kota dengan menghamparkan karpet nan lembut di alun-alun, semata-mata agar para warga dapat lesehan dan melepas alas kaki saat bercengkrama dengan keluarga, menenangkan diri dan mencari hiburan di tengah naungan bayangan dari menara-menara masjid besar tak jauh dari sana. Lalu dia pun membangun taman-taman dengan tema yang berbeda-beda dan rasa humor yang samar tapi ada, semata-mata agar ruang kosong di kota itu bisa dimanfaatkan dengan sempurna, dan bisa dijadikan sarana bagi warganya untuk mencari hiburan dengan bermain-main disana sesuai dengan bakat dan minat mereka. Bahkan pada satu masa, ada acara tingkat dunia yang membuat kota seperti disulap menjadi berbeda, intinya sama: semua event itu adalah hiburan, agar warga jadi bahagia.

Roti dan Permainan, Makanan dan Hiburan… berilah itu maka rakyat akan menjadi tenang, saat rakyat tenang maka sang pemimpin tahu bahwa apapun yang dia lakukan… rakyat tetap akan tertawa senang, sekalipun itu hanya berupa foto selfie di keramaian atau dengan istri tersayang. Rakyat pasti akan  memberikan tawa mereka yang paling lebar saat Sang Pemimpin “hanya” memajang foto dia sedang duduk santai di trotoar atau menghukum seorang pengguna jalan yang berbuat onar.

1940s_dance_party_vintage_photoRoti dan Permainan, Makanan dan Hiburan… membuat Sang pemimpin dicintai dan bisa selfie berkali-kali dengan latar belakang rakyat yang melambaikan tangan ke kamera dengan bahagia, lalu dunia pun menangkap kebahagiaan itu… lalu warta berita pun bermunculan, membuat rakyat makin mencintai sang pemimpin…

Lalu… entah kapan, tapi pada suatu titik… rakyat bisa jadi lupa bahwa masih banyak yang terjadi, seperti: di daerah Selatan banjir masih tinggi, di daerah Timur ada pembangunan-pembangunan proyek-proyek yang tak bisa dimengerti, entahlah di daerah Barat dan Utara… tapi ada saja berita-berita yang menyempil di sisi kanan dan kiri: kemacetan makin nggilani, proyek jalan tol-kereta cepat-kereta gantung-dan entah apa masih harus dipertanyakan gunanya lagi, tumpukan sampah masih berdiri di sana sini, pasokan air bersih tak jua normal kembali, pemasukan uang parkir di taman-taman menguap tak kembali… dan lucunya, lima hal di atas bisa dibaca hanya dari satu halaman koran pagi.

Entah berita apa yang ada di halaman sebelahnya lagi…

Yah… seorang pemimpin memang tak sempurna, itu tepat karena toh dia masih manusia… tapi membuat rakyat lupa dengan hiburan dan makanan saja justru membuat siapapun harus rajin bertanya-tanya… membuat rakyat berjoged gembira dan memiliki tradisi selfie di taman kota meniru dirinya… justru merupakan sebuah masalah yang harus dibahas bersama. Karena rakyat menanti, apakah kelak sang pemimpin punya rencana untuk selfie dengan latar belakang banjir yang meninggi?

Tapi jangan diambil pikir… ini cerita di sebuah negeri, bukan di sini. []

aaa

Share This:

Related posts:

Jangan Kasihan Ke Norman Kamaru
Sekarang lagi rame nih berita soal Norman Kamaru jualan bubur Manado. Awalnya saya baca itu di jabarsatu, lalu saya googling dan ternyata cukup banyak tuh portal media online yang mengangkat cerita se...
Preman Pensiun dan HP
Pertama kali saya tahu ada serial Preman Pensiun itu langsung dari mas Didi Petet. Waktu itu dia lagi ngisi acara Master Class dimana saya jadi panitianya. Dia nyebut judul itu sambil bilang “nonton y...
Tolikara dan Speaker yang Membesar
Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita penyerangan jamaah salat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta kios-kios di Tolikara, Papua. Ketika itu terjadi, serentak semua orang bicara. Pakar, non...
Biar Mereka Bangun Gerejanya
Dulu saya sempat sekolah di sebuah yayasan Katolik selama kurang lebih delapan tahun, namanya yayasan Mardi Yuana, di daerah Cibinong. Saya juga sampai saat ini punya banyak teman Katolik, dan nggak p...
PR Besar di Depan 411 dan 212
Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why ...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.