Angkringan dan Demokrasi

Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN.

Saya baru kenal benda bernama angkringan tahun 2009 gara-gara ditraktir temen, Desi (udah jadi penulis terkenal dia, udah jarang nyapa sekarang). Agak telat ya untuk ukuran orang yang lahir di era 80-an? Maksudnya… saya udah dua puluh taun nginjek pulau Jawa baru kenal angkringan, gitu. Menu pertama yang saya coba di sana adalah gorengan panas dan kopi joss—Desi juga yang ngenalin kopi itu—dan ternyata dia ngajak ke salah satu angkringan yang jadi rekomendasi wisatawan, Angkringan Tugu (kopinya beneran enak, saya minum taun 2009 sampe sekarang rasanya masih bisa diinget! #AgakLebay).

Nah, malam kemarin… temen sekamar saya sange kebelet pengen makan di angkringan, okelah… abis materi terakhir kita berdua jalan ke luar nyari angkringan, ketemu deh deket-deket Prawirotaman. Kita sepakat buat bungkus aja, males makan disana, pengen cepet tidur pula. Karena kalo makan disana itu kesannya kan mesti sambil nongkrong lama, ngobrol ngalor-ngidul, gitu.

Nah, saat itu… ada satu aspek penting yang keingetan lagi di otak ketika beli makanan di sana, yaitu: MURAH

Beneran, buat orang yang udah hidup di Bandung 15 taun dan melihat pergerakan harga makanan di Bandung—plus saya juga pernah dua tahun bisnis kuliner—saya cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliat harga makanan angkringan. Nasi kucing isi ati ayam 3 bungkus, sate usus 2 tusuk (panjang-panjang), dan apa lagi lah entah… lupa lagi, pokoknya beberapa tusuk makanan lagi (ada kepala ayam juga), dan gorengan… itu semua cuma Rp 19.000,-

Sempet mikir: ini yang dagang nyari untung nggak sih? makanan seperti itu, dimana itungan standar Bandung yaaa… minimal dua puluh lima sampe tiga puluh ribu lah, ini cuma SEMBILAN BELAS REBU, dan bikin kenyang! Tapi lantas saya inget lagi, ini Yogya… pola pikir dan kultur budayanya beda. errr… oke. Untuk orang Yogya harga segitu biasa, saya aja yang sok kampungan kaget sendiri.

Oke lah, lantas saya baca-baca (sambil makan sate usus gurih)… ternyata kalau kita lihat sejarah… angkringan bisa dikategorikan sebagai salah satu simbol perjuangan menaklukkan kemiskinan, agak-agak berbau romantisme kaum proletar, tapi yaa… memang itu faktanya.

Menurut data dari mbah Google, angkringan Yogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, di Klaten, bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Daerah Cawas adalah daerah tandus, tidak ada lahan subur, dll… itu yang bikin Mbah Pairo pindah ke Yogya dan mulai usaha angkringan. Nah, Mbah Pairo ini bisa disebut pionir angkringan di Yogjakarta. Terus sekitar tahun 1969 usahanya diterusin sama Lik Man, anaknya sendiri. Sekarang—di tengah angkringan yang makin menjamur di Yogya—Angkringan Lik Man pun menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja.

Dengan sejarah seperti ini, wajar kalau angkringan selalu berpihak pada kaum menengah ke bawah, keberpihakan itu juga terlihat dari harganya yang selalu ramah pada kelas ekonomi menengah ke bawah. Kalaupun ada “orang kaya” yang “tersesat” masuk ke angkringan, mereka juga nggak lantas dimahalin—itu temen saya mukanya muka orang kaya tapi tetep aja harganya sembilan belas rebu—seolah itu adalah bentuk komunikasi antar kelas ekonomi yang berbeda, seolah mereka mau bilang: nih makanan kami, nih harga yang cocok buat kami, sekarang bayangkan sendiri strata kehidupan kaum kami.

Lalu mungkin mereka mau bilang: pada baca Barrington Moore nggak? pak Moore itu bilang bahwa ada tiga rumus bentuk Negara. (01) Jika pemerintahan dibentuk dari gabungan kelas ATAS + kelas BAWAH maka akan menghasilkan pemerintahan komunis seperti Uni Soviet, (02) jika pemerintahan dibentuk dari gabungan kelas ATAS + kelas MENENGAH maka akan menghasilkan pemerintah fasis seperti Jerman dan Jepang, lalu (03) jika pemerintahan dibentuk dari gabungan kelas MENENGAH + kelas BAWAH maka akan menghasilkan pemerintahan demokrasi seperti Inggris, Perancis, Amerika Serikat (dan Indonesia).

Jadi sebenarnya jelas kalau dilihat dari kacamata ekonomi, angkringan—yang menjadi simbol kaum kelas menengah ke bawah—merupakan salah satu aspek pemelihara demokrasi di Indonesia. #Halah #ApaanSih #NyarisCocokologi []

Share This:

Related posts:

Balada Nasi Goreng
Kerja sebagai editor bikin saya sering nginep di kantor, terutama pas deadline datang. Sekadar catatan: deadline sebenarnya lebih parah dari jelangkung. Karena Jelangkung nggak pernah ngerjain kita (...
Nasi Goreng "Naga"
Sambungan dari "Balada Nasi Goreng" Nasi goreng di urutan pertama yang saya jauhin adalah seorang mamang nasi goreng yang mangkal di sebelah barat base-camp! Sebenarnya sudah lama agak cur...
Nasi Goreng "Kuntilanak"
Sambungan dari "Nasi Goreng Papua" Nah, nasi goreng ketiga yang saya jauhi adalah nasi goreng di sebelah utara base-camp. Jadi yang ini ceritanya waktu saya dan teman-teman kepentok deadli...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Ini Indomaret di Surga!
Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misa...
Catatan Bontang #1: Langit Bontang, Juara!
 “Aku menyukai langit. Kamu bisa memandanginya sesukamu dan tidak pernah bosan, tapi ketika kamu merasa sedang tidak ingin memandanginya, ya kamu tidak usah memandangnya.” Saya membaca kalimat itu da...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.